
"Aku sudah tidak tahan lagi. Sayang, tahan...!" bisik Gian lalu berusaha memasukan juniornya ke gua milik sang istri.
Untuk bercocok tanam, Gian memang sudah menemukan ladang. Namun sayang, ladang ini masih di tumbuhi hutan lebat. Gian harus sedikit berusaha untuk menembus hutan lebat tersebut, karena ada surga tersembunyi di dalamnya.
"Aaaaaa......!"
Julia menggigit bibir bawahnya, tangannya keras mencakar punggung suaminya.
"Sabarlah,...!" bisik Gian.
Terus mencoba menerobos masuk, hutan ini memiliki pintu gua yang sangat sempit.
"Aaaaa.......!"
Sekali lagi Julia berteriak kesakitan, ternyata Gian sudah berhasil membuka pintu gua milik istrinya. Laki-laki ini langsung mencium kembali bibir sang istri, memberi jeda sejenak untuk kepemilikan mereka saling beradaptasi.
"Apa masih sakit sayang?" tanya Gian, Julia hanya menggeleng.
Tidak mau membuang waktu, Gian mulai melancarkan aksinya. Meskipun Gian dan Julia belum pernah melakukan hubungan seperti ini, namun gaya mereka seolah muncul secara alamiah.
Gian terus membuat tempat tidur mereka bergoyang, rintihan dan lenguhan manja terdengar manis di telinganya. Biasa Julia sangat cerewet dan banyak mulut, namun ternyata saat berada di atas ranjang seperti ini Gian bisa menaklukkannya.
__ADS_1
Tubuh Julia mulai menegang, Gian tidak tahu apa yang akan terjadi.
"Sayang kau kenapa?" tanya Gian berbisik.
"Aku merasa ada yang akan keluar, ini sangat nikmat!" ucap wanita itu dengan tubuh yang sudah menegang. Gian juga mendadak mendapatkan sensasi yang tidak bisa dia jelaskan.
"Ayo lakukan lagi sayang," ujar Gian.
Mereka kembali melakukan goyangan indah, gaya ini gaya itu pada akhirnya pasangan suami istri ini melakukan puncaknya bersama-sama. Sungguh nikmat, pasangan suami istri ini terbaring lemas di atas tempat tidur.
Mengatur nafas sebentar, Gian lalu menggendong istrinya pergi ke kamar mandi untuk sekedar membersihkan diri.
"Aku malu, lagian malam ini cukup dingin."
"Aku akan memeluk mu. Mari kita istirahat sebentar," ujar Gian lalu menarik selimut menutupi tubuh polos mereka berdua, "Terimakasih sayang, malam ini indah. Tidurlah. Aku sangat mencintaimu!" ucap Gian lalu mengecup kening istrinya sebelum tidur.
Beda Gian beda lagi Alan, pria ini sedikit uringan malam ini hingga membuat istrinya kebingungan.
"Sayang, sebenarnya kau ini kenapa?" tanya Linda penasaran.
"Pasti sekarang mereka sedang malam pertama. Aku kapan....?"
__ADS_1
Terlihat sekali jika wajah Alan sangat sedih dan kesal.
"Ya ampun, jadi sejak tadi kau memikirkan mereka?"
"Ya kan aku pengen juga sayang!" rengek Alan.
"Sisa beberapa hari lagi, kenapa kau harus iri pada mereka hah?"
"Aku sudah tidak tahan. Masa aku melakukannya seorang diri lagi,"
"Jadi, selama ini kau.....!"
"Aku hanya bercanda sayang. Sumpah hanya bercanda!" ujar Alan dengan mengangkat kedua tangannya.
"Tidak mungkin. Laki-laki biasanya....!"
"Habisnya, yang itu sekarang di kuasai Hansel, yang itu sedang keluar lava. Aku sangat tersiksa!" Alan memotong ucapan istrinya.
Linda membuang nafas kasar, wanita ini sudah tidak tahu lagi ingin berkata apa. Bahkan, sekarang pun jika tidur ada Hansel yang menjadi penengah di antara mereka. Alan tidak bisa sebebas dulu untuk memeluk istrinya.
Meskipun begitu, Alan adalah orang pertama yang akan bangun jika anaknya menangis malam. Terkadang juga pria ini tidak rela jika harus melihat istri bergadang hanya untuk menyusui anak mereka.Jadi, Linda harus sesering mungkin memompa asinya agar Alan tidak usah membangunkan istrinya.
__ADS_1