Janda Kesayangan Tuan Alan

Janda Kesayangan Tuan Alan
39. Sumpah


__ADS_3

"Tidak, aku tidak setuju jika kau bekerja sama dengan si gendut itu." Helen meninggikan suaranya di meja makan.


"Berhenti bersikap seperti anak kecil. Jangan campur masalah pribadi dan pekerjaan!" Robby membuka suara.


"Jika itu menguntungkan, kenapa tidak?" kali ini Diana setuju dengan ucapan suaminya.


"Tapi mah, Linda itu mantan istri Davin," ujar Helen yang mulai khawatir.


"Kak, gak masalah jika kak Davin bekerja sama dengan si gendut itu. Lagian, nantinya kak Davin bisa kenal banyak petinggi apa lagi sutradara atau apa lah itu. Kita bisa memanfaatkannya," ujar Vina mencuci otak kakak iparnya.


"Vina benar, mana tahu Davin bisa kenal orang dalam yang bisa me jadikan mu artis terkenal!" timpal Diana.


Robby hanya diam saja, begitu juga dengan Davin. Sedangkan Helen langsung cemberut karena mertua dan adik iparnya sangat setuju atas kerja sama ini.


"Udah Davin, kamu terima aja kerja samanya. Masa iya kamu batalin, kan perusahaan kita dulu yang ngejar mereka," Diana berusaha mengompori anaknya.


"Iya mah iya!" seru Davin yang sudah pasrah.


"Besok kamu ajak lagi mereka ketemu. Secepatnya perusahaan kita bergabung bersama mereka. Meskipun itu perusahaan baru, tapikan masih berada di bawah naungan perusahaan Gandratama," tutur Diana panjang lebar.

__ADS_1


"Gak bisa besok mah, Alan sedang pergi ke luar negeri. Bulan madu!" sahut Alan langsung membuat Helen dan Vani tersedak.


"Apa kak, bulan madu ke luar negeri?" Vina terkejut.


"Hmmm," Davin tidak membuka mulutnya.


"Kamu kapan dong ngajak aku bulan madu ke luar negeri?" tanya Helen membuat selera makan Robby hilang.


"Kamu kan tahu sendiri keadaan keuangan perusahaan bagaimana, sabar dulu dong!" kata Davin.


"Mau sabar sampai kapan?" tanya Linda, "Itu si gendut baru aja nikah udah liburan aja keluar negeri," gerutu Helen lalu meninggalkan meja makan.


"Mah, pah, Vina mau juga dong pergi keluar negeri. Terakhir liburan lulus SMA dulu!" ujar Vina merengek.


Waktu telah berlalu, setelah mengantar Melan ke negara A untuk melanjutkan belajarnya, Alan dan Linda kembali melanjutkan perjalanan ke negara yang terkenal dengan menaranya.


Linda merasa bahagia ketika menginjakkan kaki di negara P, sungguh ini adalah yang pertama kalinya Linda pergi ke luar negeri.


"Terimakasih suami ku," ucap Linda lalu memeluk suaminya.

__ADS_1


"Kau pikir ini gratis!" ujar Alan membuat Linda langsung melepaskan pelukannya.


"Maksud mu?" tanya Linda bingung.


"Tentu saja kau harus membayarnya dengan menemani bergoyang bersama ku setiap malam. Menanam benih!" bisik Alan membuat istrinya menelan ludah.


"Aku baru tahu kalau di kepala mu ini isinya mesum semua!" ujar Linda bergidik ngeri.


"Kau tidak tahu saja, jika melihat mu biasanya aku akan melakukannya seorang diri di kamar mandi," ucap Alan jujur.


"Heh, maksudnya?" tanya Linda tidak mengerti.


"Oh, tidak apa-apa. Aku hanya bercanda, jangan di dengarkan!" Alan malu sendiri ketika mengatakan rahasia pribadinya.


"Kau pasti menyembunyikan sesuatu dari ku," ujar Linda curiga.


"Tidak ada sayang, sumpah. Aku hanya mencintaimu!"


"Ah, sudahlah. Aku mau mandi,"

__ADS_1


"Mandi yang bersih dan wangi sayang. Seminggu ke depan mari menanam bibit dengan kwalitas unggul," kata Alan malah membuat istrinya mengomel.


Pada awalnya Linda memang malu dengan sikap suaminya. Namun pada akhirnya Linda bisa memaklumi jika sekarang dia mendapatkan suami yang suka bercanda meskipun candaan Alan bukan candaan yang bisa di bawa ke luar dari kamar.


__ADS_2