Janda Kesayangan Tuan Alan

Janda Kesayangan Tuan Alan
87.Brengsek!


__ADS_3

"Maaf, kami tidak bisa menyelamatkan tuan Robby," ucap Dokter dengan rasa penyesalannya.


"Jadi, maksud Dokter apa ya?" tanya Davin belum mengerti juga.


"Serangan jantung yang dialami tuan Robby membuatnya harus kehilangan nyawa. Sekali lagi maafkan kami, kami sudah berusaha sekuat tenaga!" Dokter memperjelas jika Robby sudah meninggal dunia.


"Papah,....!" Diana histeris dan langsung jatuh pingsan.


"Mah, bangun mah!" Davin tampak khawatir, di bantu dua orang perawat Davin membopong mamahnya.


Kehilangan orang tua, sudah pasti akan menjadi pukulan terberat dalam hidup Davin apa lagi kepergian papahnya sangat tiba-tiba.


Tidak ada siapa pun di sini, Diana masih belum sadarkan diri sedangkan Vina masih di rawat. Davin terduduk lemas di samping jasad sang papah seorang diri sambil mengusap air matanya.


Di saat seperti ini Davin teringat akan satu orang, yaitu Linda. Davin ingat betul hari di mana ayah Linda meninggal dunia. Tidak ada yang menguatkan Linda saat itu, bahkan Davin sendiri hanya sibuk menyalahkan Linda atas pernikahan yang terjadi di antara mereka.


"Beginikah rasanya kehilangan?" lirih Davin, "Kenapa keluarga menjadi hancur seperti ini?"


Belum selesai Davin merenung, Diana masuk ke dalam ruangan dengan air mata yang mengalir deras.


"Maafkan mamah pah, jika mamah tidak mengusik Linda mungkin keluarga kita akan baik-baik saja!" ucapnya dengan suara serak.


"Kita terlalu jahat dengan Linda mah. Kita terlalu memiliki penyakit hati padanya sedangkan Linda tidak pernah membalas setiap perbuatan kita," ujar Davin.

__ADS_1


"Papah,...maafkan mamah. Mamah janji akan membalas perbuatan Linda!"


"Mah,...!" sentak Davin lalu meninggalkan mamahnya seorang diri.


Davin sudah tidak tahu lagi ingin berbuat apa, pria ini pergi ke ruangan adiknya. Vina tidur, gadis ini masih lemah dan juga tangannya terborgol. Melihat wajah pucat adiknya, Davin tidak sampai hati untuk memberitahu Vina jika papah mereka sudah meninggal dunia.


"Kak,....!" lirih Vina membuka mata.


"Bagaimana keadaan mu Vin?" tanya Davin mengusap air matanya kasar.


"Kenapa kakak menangis, ada apa?" tanya Vina pelan.


"Tidak ada apa-apa. Apa kau ingin minum?"


"Meninggal dunia," bisik Gian pada Alan.


Alan terkejut, ini di luar rencananya. Alan hanya ingin memberi pelajaran pada keluarga Davin saja agar mereka tidak selalu mengganggu Linda.


"Biarkan saja, anggap ini pelajaran bagi mereka. Lagian, ini adil dengan meninggalnya ayah Linda yang mereka sengaja!" ujar Alan.


Hari itu juga, pemakaman akan segera di langsungkan. Diana menangis di samping peti mati suaminya, tidak ada siapa pun yang datang selain pihak gereja. Entah apa kesalahan mereka, namun semua orang sekarang telah membenci mereka.


"Mah, sudahlah. Jangan menangis lagi," ucap Davin sambil menepuk pundak mamahnya.

__ADS_1


Diana mengusap air matanya kasar ketika melihat kedatangan Alan. Laki-laki tampan yang mengenakan pakaian serba hitam dan kacamata hitam datang untuk memberi peringatan sekali lagi pada Davin.


"Bukankah aku sudah memperingatkan kalian untuk tidak mengusik Linda? lalu kenapa kalian tetap saja mengusiknya?" tanya Alan dengan suara beratnya.


"Apa lagi yang kau mau, berkat kau papah ku meninggal dunia!" ucap Davin dengan wajah marahnya.


"Anggap saja ini adil, kau dan Linda sama-sama kehilangan seorang ayah. Aku datang kesini bukan untuk berbelasungkawa melainkan untuk memperingati kalian. Setelah pemakaman pergi dari kota ini jika tidak aku akan menghabisi kalian semua!"


"Kau mengancam ku?" tanya Davin.


"Dasar bajingan!" umpat Diana.


"Aku sangat mengancam kalian. Kemana pun kalian pergi, kalian akan tetap berada dalam pengawasan ku sekarang."


"Brengsek!" umpat Davin, "Aku tidak takut!"


"Oh, jangan kau pikir adik mu itu sengaja melakukan bunuh diri. Aku bisa melakukan yang lebih," ujar Alan, "Jika ingin adik mu tetap hidup, maka pergilah dan mulailah hidup yang baru. Jika tidak akan aku pastikan setelah ini peti adik mu yang akan kau hantar ke pemakaman."


Alan menaikan kacamatanya, sudut bibir laki-laki ini terangkat kemudian pergi begitu saja. Davin dan Diana sudah tidak bisa berkata-kata lagi.


"Mamah tidak ingin kehilangan Vina. Kita turuti saja apa mau mereka. Mamah hanya ingin hidup tenang setelah ini," ucap Davin langsung di iyakan oleh mamahnya.


**Mampir juga di karya otor yang on going ya*

__ADS_1



__ADS_2