
Gian memencet bel apartemen Julia yang sejak kejadian tadi siang sudah menyatakan putus. Sejak bekerja dengan Alan, Julia tidak lagi tinggal bersama ibu tirinya. Alan memberinya fasilitas yang lumayan.
Dengan sangat malas Julia membuka pintu meski dia tahu siapa yang akan datang.
"Mau apa kau?" tanya wanita itu masih marah.
Bukannya menjawab Gian menyelonong masuk ke dalam apartemen.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Julia penasaran karena Gian langsung menuju dapur.
"Katanya kau ingin makan kepiting, aku sudah membelikan tiga untuk mu. Apa masih kurang?" tanya Gian.
"Sudah tidak berselera lagi, pergi sana!" usir Julia yang padahal sudah menelan ludahnya melihat tiga kepiting besar di atas meja.
"Yakin,...?" tanya Gian memastikan.
"Aku yakin. Pergi sana!"
"Ya sudah, lebih baik aku makan bersama perempuan lain saja!" ujar Gian memancing Julia.
__ADS_1
"Coba saja kalau berani, akan ku potong kau punya anu!" ancam Julia.
"Lagian kita sudah putus dan kau baru saja mengusir ku. Memangnya kau pikir perempuan cuma satu diri mu?"
Wajah Julia langsung masam, wanita itu terduduk dilantai lalu menangis seperti anak kecil.
"Dasar lelaki tidak pengertian. Lelaki jahat!" ucap Julia terus menangis.
Paniklah Gian, laki-laki itu langsung membujuk Julia.
"Lagian, kau suka sekali merajuk. Sama seperti Linda!"
Tambah keraslah tangis Julia, entah pura-pura atau tidak Julia terus menangis.
"Jangan marah lagi, maaf jika aku tidak bisa mengerti apa mau mu," ucap Gian melemah.
"Aku juga ingin di perlakukan yang manis seperti pasangan lainnya," sahut Julia.
"Iya,iya,...aku minta maaf. Sekarang duduklah, aku akan menyuapimu!" ujar Gian lalu mendudukan kekasih hatinya.
__ADS_1
"Ini terlihat enak, di mana kau membelinya?" tanya Julia mulai bersikap baik.
"Atas rekomendasi Alan. Sejak Linda hamil, Alan banyak tahu di mana saja tempat menjual makanan enak," jawab Gian.
"Alan memang suami idaman!" puji Julia langsung membuat wajah Gian masam, "Kau juga calon suami idaman," timpalnya lagi agar Gian tidak marah.
Keduanya lalu makan bersama-sama. Jika seperti ini terlihat romantis meskipun hampir setiap hari mereka ribut.
Apa kabar keluarga Davin? usaha yang di rintis Robby kini sudah memiliki pelanggan. Sedangkan Davin juga masih bekerja di perusahaan milik papah Aldi. Sejenak Davin termenung di ruang kerjanya, laki-laki ini seperti memikirkan sesuatu yang tidak bisa di ungkapkannya.
"Linda, apa kabar mu sekarang?" tanya Davin dalam keheningan.
"Kau belum melupakan Linda juga?" tanya Aldi mengejutkan Davin, "Sudahlah Davin, kalian sudah memiliki kehidupan sendiri-sendiri. Linda berhak bahagia,"
"Sikap ku pada Linda dulu benar-benar keterlaluan. Saat Linda menjadi istri ku, aku tidak pernah memberinya nafkah bahkan keluarga ku hanya memberinya makan satu hari sekali," Davin mengingat bagaimana jahatnya dia dulu.
"Jangan di ingat lagi. Anggap saja ini pelajaran bagi mu dan keluarga mu. Bijaklah dalam berkata, karena tidak semua orang memiliki hati sekuat Linda jika dihina dan direndahkan." Aldi berusaha menasehati sahabatnya.
Davin terdiam, tapi jujur saja jika Davin sekarang telah jatuh hati pada mantan istrinya sendiri. Bagaimana dengan Helen, sejak mereka resmi bercerai Helen tiba-tiba saja menghilang. Bahkan, pernah satu kali Davin bertemu dengan ibu Helen yang mencari anaknya. Di saat itu lah, pertama kalinya Davin bertemu dengan ibu dari mantan istrinya.
__ADS_1
***Mampir-mampir yuk di karya otor yang baru kak***