Janda Kesayangan Tuan Alan

Janda Kesayangan Tuan Alan
58.Istirahat Saja,


__ADS_3

"Davin, kenapa dengan wajah mu nak?" tanya Diana syok.


"Aku bertengkar dengan Alan!" jawabnya sambil menjatuhkan bobot tubuhnya di sofa.


"Kok bisa?" tanya Robby bingung.


"Mereka tidak mau mencabut laporannya. Bukti mereka terlalu kuat!" kata Davin kembali membuat mamahnya menangis.


"Vina, anak mamah kasihan kamu nak!" rintih Diana dalam tangisannya.


"Apa yang harus kita lakukan pah?" tanya Davin lesu.


"Papah tidak tahu, masalah perusahaan saja papah bingung. Tidak ada satu pun yang mau membantu kita," Robby juga ikutan lesu.


"Ada baiknya papah menyerahkan saham yang sudah papah janjikan pada keluarga Linda. Mungkin dengan begitu Alan akan mau membantu kita," ujar Davin memberi ide.


"Tidak, enak saja!" seru Robby menolak, "Itu adalah perusahaan keluarga papah. Enak saja di berikan hampir setengahnya pada Linda. Dasar serakah!"


"Davin benar pah, siapa tahu Alan akan berubah pikiran mau membantu keluarga kita," timpal Diana.


"Papah bilang tidak ya tidak!" bentak Robby, "Papah akan mencari orang yang jauh lebih kaya dari Alan untuk menolong kita." Robby kemudian pergi.


Davin mendesah lelah, memijat kepalanya yang sudah sangat pusing. Masalah tiba-tiba saja datang langsung menghantam keluarganya.

__ADS_1


"Semua gara-gara Helen!" batin Davin geram.


Sementara itu, Alan menyelimuti istrinya yang kembali lemas. Alan sudah memberi obat pada Linda. Mungkin Linda butuh istirahat karena terlalu pusing memikirkan masalahnya.


"Julia, jaga istri ku. Aku akan pergi bersama Gian," titah Alan.


"Baik tuan," jawab Julia dengan sopan, "tuan, apa kita benar-benar tidak memerlukan Dokter?" tanya Julia yang juga khawatir pada perempuan yang sedang terlelap di atas tempat tidur.


"Tidak, Linda menolak. Pesan saja makanan untuk mu dan Linda. Hari ini aku akan sangat sibuk hingga sore. Jangan biarkan Linda melakukan pekerjaan berat. Satu lagi, jika mau pulang nanti tunggu aku saja, kalian beristirahatlah di apartemen,"


"Baik tuan!"


Alan dan Gian kemudian pergi, sebelum pergi menemui kliennya Alan mampir sebentar ke kantor polisi untuk melihat Airin.


"Oh, kalian berdua sangat pantas berada di sini," ujar Alan yang melihat Vina terus menangis di pojokan sel.


"Kakak ku akan membebaskan aku. Jangan senang dulu kau brengsek!" teriak Vina.


"Kasihan, bahkan aku berencana membuat keluarga mu hancur dan jatuh sejatuhnya!"


"Rubah seperti mu ternyata pantas juga berada di sini," Gian mengejek Airin.


"Dan kau Airin, jangan kau pikir aku tidak tahu semua rencana busuk mu. Kau datang mendekati ku hanya untuk uang. Aku tidak sebodoh itu..!" bibir Alan tersungging mengejek wanita itu, "Gian, pastikan mereka mendekam lama di sini," ujar Alan kemudian pergi.

__ADS_1


Sontak saja hal tersebut membuat Airin dan Vina berteriak histeris. Alan dan Gian tidak peduli dengan umpatan mereka.


Sedangkan Linda, yang baru bangun tidak mendapati suaminya dan hanya ada Julia saja di sana. Linda meneguk air yang di berikan Julia, Julia sangat baik padanya.


"Kapan suami ku akan pulang Julia?" tanya Linda lemas.


"Katanya sore. Kau istirahat saja, sebentar lagi makanan siang akan datang,"


"Kepala ku sangat pusing. Perutku terasa penuh. Aku lelah Julia," keluar Linda.


"Ya sudah, istirahat saja. Mau aku panggilkan Dokter?"


"Tidak usah," tolak Linda, "Aku tidak ingin terlihat manja hanya karena pusing!"


"Heh kau ini, nanti kita tidak bisa menonton pertunjukan dari keluarga mantan suami mu!"


"Benar juga ya!" sahut Linda terkekeh geli, "Besok saja, kalau masih sakit aku sendiri yang akan pergi ke rumah sakir!"


Julia hanya mengiyakan, tak berapa lama pesanan makanan mereka datang. Julia sudah paham selera makan Linda jadi wanita itu tidak perlu banyak tanya lagi. Pekerjaan mengekor pada Linda sungguh enak, Julia merasa betah karena dirinya tidak pernah lagi di ejek orang lain setelah dirinya bekerja bersama Alan dan Linda.


Mampir di karya baru ku ya kakak😊


__ADS_1


__ADS_2