Janda Kesayangan Tuan Alan

Janda Kesayangan Tuan Alan
49.Asisten Ku


__ADS_3

"Aku lelah, bisakah jangan mengganggu ku?" Davin membentak istrinya ketika wanita itu sedang meraba-raba suaminya.


"Kau ini kenapa hah?" tanya Helen kembali mengenakan lingerienya, "Sudah satu minggu kau mengabaikan ku!"


Davin malah menutup kepalanya menggunakan bantal. bayangan Alan dan Linda yang berada di balik selimut menghantui otak pria itu.


"Davin, ada apa dengan mu?" tanya Helen berusaha menarik bantal suaminya, "Kau mengabaikan ku!" timpalnya lagi.


"Tidurlah, bukankah besok kau ada syuting?" tanya Davin pelan.


Helen mendengus kesal, mau tidak mau wanita ini memilih tidur di samping suaminya meskipun hatinya sudah mendongkol sebesar buah kelapa. Ranjang mereka hambar, Davin akan menyentuh Helen jika dia bisa melupakan Linda saja.


Berbeda dengan Ranjang Alan dan Linda yang selalu panas berantakan. Suami istri itu hampir setiap malam berkebun. Contohnya seperti malam ini, meskipun tadi siang sudah bercocok tanam namun Alan yang kuat tenaga dan sehat jasmani selalu mencangkul bersama istrinya.


Kembali ke rutinitas seperti biasanya, bersama suami kesayangan Linda berangkat menuju kantor. Yang membuat Linda malas hari ini karena mereka ada peninjauan proyek baru yang sengaja di serahkan pada Linda di perusahaan baru milik mereka. Proyek pembangunan hotel, hanya satu proyek yang Alan korbankan demi membalaskan sakit hati istrinya.


"Oh, panas sekali. Kulit ku akan alergi terkena matahari," ucap Airin langsung menjadi sorotan semua orang.


"Cantik tidak seberapa tapi gayanya seperti nyonya," cibir salah seorang tukang bangunan.


"Bos kita yang sangat cantik saja tidak seperti ini," timpal tukang lainnya lalu mereka tertawa geli.

__ADS_1


Airin langsung mendengus kesal, wanita ini menjadi bahan ledekan para pekerja bangunan.


"Seharusnya kau bisa bersikap sebagaimana mestinya. Hargai orang lain," tegur Linda.


"Kau pikir kau siapa berani berkata seperti itu?" tanya Airin tidak terima.


"Aku bosnya, perusahaan ini di bangun suami ku hanya untuk ku!"jawab Linda membuat hati Airin semakin panas.


"Sombong sekali kau Linda!" seru Davin, "tak lama nanti kau akan di buang oleh Alan,"


"Oh, benarkah?" tanya Linda, "kita lihat saja, kau atau aku yang akan hancur duluan?"


Mata Linda menatap tajam ke arah mantan suaminya. Demi sebuah keadilan Linda harus tahan untuk bertemu dengan Davin setiap harinya.


Panas sebenarnya hati Linda, namun wanita ini bisa mengontrolnya, "Kita datang ke sini untuk bekerja, bukan membahas hal seperti ini. Jika kau tidak suka pada ku, kau bisa mundur dari proyek ini atau mewakilkan karyawan mu ke sini," ujar Linda lalu perempuan itu pergi begitu saja.


Davin geram, Linda terlihat lebih berani melawannya sekarang, "Dia menentang ku," ucap Davin.


"Aku punya ide," ujar Airin lalu membisikannya pada Davin.


Davin tersenyum, setuju dengan ide Airin, "Demi melancarkan sebuah rencana, terkadang kita harus mengorbankan orang lain," kata Davin sambil tersenyum licik.

__ADS_1


Linda hanya memandangi Airin dan Davin dari kejauhan, wanita sedikit penasaran dari mana mereka bisa kenal.


"Pulang sekarang pak," titah Linda pada sang supir.


Linda sudah tidak bersemangat lagi untuk melanjutkan peninjauan. Jadi, Linda memutuskan untuk kembali ke kantor. Di kantor, ketika melihat wajah istrinya Alan sudah bisa menebak apa yang terjadi pada istrinya.


"Sayang, perkenalkan. Namanya Julia, dia Asisten pribadi yang akan menemani kemana pun kau pergi," ujar Alan tiba-tiba memperkenalkan seseorang.


"Asisten ku?" Linda mengulangi beberapa kata dari ucapan suaminya.


Julia mengulurkan tangannya, "Nama saya Julia, saya di tugaskan tuan Alan untuk mengikuti kemana pun ibu pergi selain ke kamar," kata Julia membuat Gian langsung tertawa geli.


"Hah, panggil Linda saja. Sepertinya kau lebih tua dari ku," ujar Linda.


"Maaf bu, itu kurang sopan. Tolong selamat karir saya!" Julia melirik ke arah Alan membuat Linda langsung paham maksudnya.


"Terserah kau saja, suami ku tidak akan marah jika kau hanya memanggil nama ku. Lihat aku, apa aku sudah masuk dalam kategori ibu-ibu?" tanya Linda.


"Maaf bu, menurut penglihatan saya anda masih cantik dan muda. Jadi tidak pantas di panggil ibu-ibu. Mungkin, mata suami anda yang salah," mata Alan langsung melotot ingin mengeluarkan sumpah serapahnya.


"Baru kali ini ada karyawan yang kurang ajar seperti ini," bisik Gian, "dia cocok untuk melawan Airin,"

__ADS_1


"Terserah kau mau memanggil istri ku apa. Mari pergi makan siang," ajak Alan lalu menarik tangan istrinya dengan lembut, "Mari mengisi usus kita sayang," bisik Alan.


Linda mengikut saja, begitu juga dengan Gian dan Julia. Mereka berempat pergi bersama-sama meski suasana hati Linda sedang kacau namun ketika melihat Julia dan mendengar semua ucapannya, Linda suasana hati Linda semakin membaik.


__ADS_2