Janda Kesayangan Tuan Alan

Janda Kesayangan Tuan Alan
85.Tenang


__ADS_3

"Oh, lihat dia sangat tampan sekali," Melan sangat gemas ketika melihat keponakannya yang baru saja lahir.


"Nanti aku akan memberi mu seperti ini juga," ujar Gibran langsung mendapatkan lirikan tajam dari Alan.


"Menjauh dari anak ku!" usir Alan mendorong adiknya.


"Biarkan dia melihat anak kita. Kau ini kenapa sih?" protes Linda.


"Jangan, nanti anak ku lecet!" seru Alan.


"Ngomong-ngomong, kemana kak Julia dan kan Gian pergi?" tanya Melan yang baru sadar jika tidak ada Julia di ruangan ini.


"Tidak usah banyak tanya. Sebaiknya kau pulang untuk mengambil sisa perlengkapan aku dan Linda," usir Alan sambil mendorong Melan dan Gibran keluar dari ruang rawat.


Sudahlah, Linda sudah tidak bisa berkata apa pun untuk membela adik iparnya itu. Ruangan hening, hanya ada Alan dan Linda juga bayi mungil yang sedang terlelap tidur.


Alan dengan hati-hati menggendong anaknya lalu duduk di samping istrinya.


"Besar juga tangan ku!" ujar Alan membandingkan anaknya dengan tangan kekarnya.


"Kau ini lama-lama stres sendiri," sahut Linda.


"Apa dia akan minum di bukit milik ku itu?" tanya Alan mulai penasaran.

__ADS_1


"Tentu saja, dia akan minum asi dari ku!"


"Sayang, lalu bagaimana dengan ku?" Alan protes.


"Apanya bagaimana?" tanya Linda bingung.


"Itu milik ku, tempat favorit ku bermain. Kenapa buah kacang hijau ini merampasnya?"


Tiba-tiba bayi tampan itu menangis, Alan mulai panik lalu menyerahkannya pada Linda.


"Dia mau apa?" tanya Alan penasaran.


"Mungkin dia haus atau lapar, aku akan memberinya asi."


"Heh, apa-apaan ini?" Alan tidak terima, "Kenapa dia terus berada di sana. Anak nakal, itu milik daddy mu, bukan milik mu!"


Linda memutar bola matanya jengah, "Bisakah kau diam sebentar wahai suami ku?",


"Sayang, anak ini sudah mengalahkan ku!" rengek Alan.


Sudahlah, baru beberapa jam anaknya lahir Alan sudah merasa iri pada bayi tampan yang bernama Hansel ini. Mata elang pria ini tajam menatap anaknya yang sejak tadi tidak mau melepaskan asi ibunya.


Sementara itu, Gian dan Julia tidak butuh waktu lama untuk menghancurkan usaha restoran milik Robby. Saat ini semua pelanggan sedang melakukan protes atas isu daging busuk yang di hidangkan pada mereka.

__ADS_1


Robby mulai panik, pria ini bingung dengan fitnah yang baru saja menyebar luas. Davin yang mendengar kabar langsung datang ke restoran milik papahnya.


"Tenang, jangan membuat keributan di sini...!" Davin mencoba menenangkan.


"Bagaimana kami bisa tenang, selama ini kami makan daging bangkai...!" teriak salah seorang pelanggan.


"Kalian hanya menuduh tanpa bukti. Ini fitnah namanya!" ujar Davin yang tidak terima.


"Lalu, ini apa?" tanya seseorang pria yang datang dari arah dapur sambil menyeret karung berisi daging busuk.


"Ya, ini apa?" tanya salah seorang wanita yang bersama pria tersebut, "Kami sudah mengecek ke belakang, ternyata restoran ini sudah menipu banyak orang!" ucapnya.


"Pah, bagaimana bisa?" tanya Davin tidak habis pikir.


"Papan tidak tahu Davin. Restoran sedang ramai jadi papah benar-benar tidak tahu!" ujar Robby.


"Tutup tempat ini,...!" teriak salah seorang.


"Tutup tempat menjijikan ini,...!"


Keributan kembali terjadi, para pelanggan yang sudah terhasut langsung merusak restoran milik Robby. Robby dan Davin hanya bisa terdiam, tidak mungkin mereka melawan orang sebanyak ini.


"Cepat cari tahu Davin!" perintah Robby pada anaknya.

__ADS_1


Davin bergegas pergi, sebenarnya laki-laki juga belum tahu perihal berita yang sekarang tengah viral. Berita tentang hubungannya dan Linda yang tiba-tiba membuat orang lain menjadi penasaran. Apalagi di berita tersebut terdapat bukti perjanjian tentang amanah keluarga Linda dan Keluarga Davin.


__ADS_2