Janda Kesayangan Tuan Alan

Janda Kesayangan Tuan Alan
78.Lihat Saja


__ADS_3

Kepulangan Melan yang tiba-tiba pulang di antar oleh Gibran. Gibran hanya tertunduk, pria ini sedikit takut ketika melihat wajah dingin Alan yang sekarang duduk seakan ingin menginterogasinya.


"Jadi, pendidikan mu sudah selesai?" tanya Alan.


"Iya tuan, saya hanya melanjutkan yang sempat tertunda saja!" jawab Gibran takut.


"Panggil saja kak Alan, ngapain kamu memanggilnya tuan?" ujar Melan.


"Diam kau!" mata Alan melotot pada adiknya.


"Mata mu, kecilkan sedikit," tegur Linda.


"Jangan panggil aku tuan, aku bukan tuan mu dan kau bukan babu ku!'' ujar Alan langsung di iyakan oleh Gibran.


"Em, bagaimana kondisi kandungan kak Linda?" tanya Gibran yang tidak tahu ingin bicara apa.


"Kenapa kau malah menanyai istri ku, apa maksud mu?" tanya Alan tidak suka.


Gibran menelan ludahnya kasar, sedangkan Linda dan Melan hanya bisa menarik nafas dalam-dalam.


"Kak, Gibran Dokter kandungan. Jadi, wajar jika dia bertanya!" kata Melan mengingatkan.


"Oh iya, aku lupa!"


"Malu gak tuh?" sahut Linda.


"Kalau begitu aku pamit dulu. Melan harus segera beristirahat," ucap Gibran yang sudah tidak tahan berada di sana.

__ADS_1


"Baguslah, kenapa tidak dari tadi saja kau pamitnya?" ujar Alan membuat Melan merasa tidak enak hati pada Gibran.


Gibran pulang, wajah Melan terlihat marah sekali, "Kakak sengaja kan menakuti dia?" tanya Melan kesal.


"Iya, sengaja. Biar dia tahu kalau kau memiliki kakak yang galak!" jawab Alan membuat istrinya tertawa.


"Dasar batu kali, awas saja nanti," Melan langsung masuk ke dalam kamarnya.


Linda bergeleng kepala melihat tingkah suaminya, "Sayang, jangan berlebihan seperti itu. Kasihan Melan!"


"Aku hanya bercanda,"


"Kau ini, jika dia putus dengan Gibran bagaimana?"


"Berarti Gibran tidak pantas menjadi suami adik ku!" jawab Alan dengan santainya.


"Dari siapa?" tanya Alan penasaran begitu juga dengan Linda.


"Tidak ada nama pengirim. Maaf tuan, saya tadi makan siang sebentar, jadi tidak tahu siapa yang kirim!" Security itu merasa bersalah.


"Sudah, tidak apa-apa!" ujar Linda, "Letakan di sana!"


Setelah meletakkan kotak tersebut, Security tersebut kembali ke pos. Alan dan Linda yang penasaran langsung membuka kotak tersebut.


"Perlengkapan bayi, dari siapa ini?" Linda bertanya-tanya sambil membongkar isi paketan.


"Mencurigakan. Kenapa tiba-tiba ada yang mengirim paketan seperti ini?"

__ADS_1


"Aku tidak mau menerimanya!" ujar Linda mendorong kotak tersebut.


"Buang saja, aku akan mencaritahu nanti. Sebaiknya kita istirahat!" kata Alan.


"Gendong!" rengek Linda.


"Manjanya istri ku ini," ucap Alan lalu menggendong istrinya menuju kamar.


Di tempat lain, Aldi benar-benar bergeleng kepala dengan sikap Davin yang ternyata dirinya lah yang sudah mengirim paketan untuk Linda.


"Jika Alan tahu, habislah kau!" ucap Aldi.


"Dia tidak akan tahu, lagian niat ku baik,"


"Apa kau menyukai Linda?" tanya Aldi menebak.


"Setiap laki-laki akan menyukai Linda. Dia tidak buruk seperti dulu,"


"Davin, Linda sudah menikah dan bahagia. Jangan mengacau!"


"Kata orang, jodoh harus di kejar. Apa salahnya jika aku ingin mengejar jodoh ku?"


Aldi tertawa mendengar perkataan Davin, "Linda sudah menikah dan sebentar lagi dia akan segera melahirkan. Bagaimana bisa kau ingin mengejar dia?"


"Lihat saja, aku akan membuat Linda berbalik mencintai ku seperti dulu. Lagian, almarhum ayahnya dulu menitipkan Linda pada ku, bukan pada Alan!"


Benar-benar keras kepala Davin ini, Aldi sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk menasehati Davin ini.

__ADS_1


__ADS_2