
Ke esokkan harinya, baik Davin atau pun Robby kalang kabut ketika mendapat kabar jika perusahaan mereka tiba-tiba saja merugi. Para karyawan yang bekerja di bagian keuangan sejak pagi sudah bolak balik menghitung dan mencari di mana letak kesalahannya.
"Kenapa bisa begini?" tanya Robby yang pusing sendiri.
"Maaf pak, ada orang pajak!" ujar Tita semakin membuat Davin dan Robby panik.
"Kenapa ini, kenapa tiba-tiba?" Robby memegang dadanya.
"Ah, sialan!" umpat Davin kemudian pergi.
"Kemana lari semua uang perusahaan ini?" Robby semakin syok.
Entah apa yang sudah terjadi, mendadak perusahaan mereka berada di ambang kebangkrutan. Davin mencoba menyelidiki semuanya yang ternyata semua uang perusahaan di bawa kabur oleh manager bagian keuangan.
Mengamuklah Davin, di tambah lagi selama manager tersebut memanipulasi pajak yang selama ini di percayakan padanya.
"Percuma kau mengamuk Davin. Cepat lapor polisi untuk menangkap bajingan itu," titah Robby.
"Maaf pak, lalu bagaimana dengan gaji kami selama dua bulan ini?" tanya salah seorang karyawan yang menambah syok Davin dan papahnya.
"Apa maksud mu?" tanya Davin emosi.
"Gaji kami belum di bayarkan selama dua bulan. Bukankah pak Doris bilang uang perusahaan sedang di gunakan untuk proyek baru. Bahkan kami di janjikan bonus jika kami bisa menunda gaji selama dua bulan," tutur salah seorang karyawan lainnya.
Semakin syok lah Robby, bagaimana bisa dia di tipu seperti ini.
"Jika gaji dan bonus kami tidak di bayarkan, kami akan menuntut perusahaan ini," teriak salah seorang karyawan langsung di benarkan oleh karyawan lainnya.
Di tempat lain, Alan tersenyum puas setelah mendapatkan kabar jika Davin dan papahnya sedang kalang kabut. Alan yakin jika mereka sekarang butuh suntikan dana.
__ADS_1
"Sayang, apa kau yang membuatnya seperti itu?" tanya Linda.
"Apa yang mereka perbuat pada mu, mereka harus membayarnya dengan impas!" ujar Alan.
"Apa yang akan terjadi selanjutnya?" tanya Linda penasaran.
"Dalam waktu beberapa jam, mereka akan datang pada kita untuk meminta bantuan." Alan berkata dengan penuh percaya diri. Namun, belum lama Alan mengatakan hal tersebut Davin menghubungi Alan untuk mengajaknya bertemu.
"Tidak usah menunggu, mereka sudah pusing memikirkannya," ujar Gian, "Mari kita pergi, aku tidak sabar melihat pertunjukan selanjutnya!"
Mereka kemudian pergi ke tempat yang sudah di janjikan. Ternyata, Davin datang bersama papahnya. Alan dan Linda juga Gian dan Julia pura-pura tidak tahu atas masalah mereka.
"Bisakah karyawan mu ini keluar. Ini masalah pribadi," pinta Davin.
"Mereka orang kepercayaan ku. Jadi, kau jangan khawatir!" ujar Alan.
Alan hanya manggut-manggut, sedangkan Linda tidak berniat untuk mengeluarkan suara. Robby memohon agar Alan bisa membantu mereka, apa lagi perusahaan mereka hanya di beri tempo tiga hari untuk menyelesaikan masalah yang ada. Lebih parahnya lagi, perusahaan-perusahaan kecil yang bekerja sama dengan perusahaan Davin semua menarik saham mereka.
"Aku bisa saja membantu kalian. Tapi, ada syaratnya!" ujar Alan dengan senyum tipisnya.
"Katakan, apa syaratnya?" tanya Davin penasaran.
"Yang aku tahu, tiga puluh lima persen saham perusahaan kalian itu adalah milik almarhum mertua ku. Apa itu benar?" tanya Alan, membuat mata Robby malebar.
"Apa maksud mu?" tanya Robby pura-pura tidak mengerti.
"Pak Robby, jangan anda pikir aku tidak tahu atas kelicikan yang anda buat. Beberapa tahun lalu perusahaan mu mengalami kebangkrutan, semua karyawan mengundurkan diri dan hanya mertua ku yang setia pada mu. Kau menjanjikan saham pada mertua ku jika beliau bisa membangun kembali perusahaan mu. Tapi apa, kau malah mengingkari nya," tutur Alan panjang lebar.
"Jadi, alasan om tetap memperkerjakan aku dan ayah adalah ini. Perjodohan yang kalian buat semata-mata om tidak ingin perusahaan itu berbagi dengan ayah!" Linda membuka suara, "Aku heran, kenapa ayah tidak pernah memberitahu masalah ini,"
__ADS_1
"Ini semua bohong. Apa yang kalian bicarakan ini?" Robby berkilah.
"Apa maksudnya pah?" tanya Davin yang benar-benar tidak mengerti.
"Berikan buktinya!" titah Alan pada Gian.
"Sejahat ini kah keluarga kalian hingga membuat hidup ku menjadi kacau?" tanya Linda.
"Kau menyelidik ku?" tanya Robby langsung menggebrak meja.
Alan tersenyum, lalu berkata, "Hanya ingin membalas apa yang sudah keluarga kalian lakukan pada istri ku."
"Linda, dasar tidak tahu diri. Apa kau lupa saat ayah mu sakit keluarga ku yang sibuk mengurusnya?" Robby mengingatkan Linda.
"Oh, maaf om. Bantuan yang mana, ayah meninggal karena om selalu mengulur jadwal operasi ayah dengan dalih dana belum keluar. Bahkan, om juga menahan rekening milik ayah karena pada saat itu kalian bilang ayah melakukan korupsi. Apa kalian lupa?" tanya Linda geram.
"Wah parah!" seru Julia.
"Aku bisa saja menuntut perusahaan kalian atas perjanjian ini. Tapi, sekarang aku sudah tidak minat lagi untuk meminta sebagian saham tersebut." Linda mengatakan dengan tegas.
"Aku bersikap tergantung istri ku, jika Linda berkata iya maka aku akan menolong perusahaan mu. Jika tidak, maafkan aku!" ujar Alan, "Oh ya, kami juga akan menarik saham dan membatalkan kerja sama dengan kalian!"
"Tidak bisa seperti ini, jangan campur kan masalah pribadi...!" protes Davin.
"Keduanya saling berkaitan. Lagian, siapa juga yang mau bekerja sama dengan perusahaan bermasalah. Satu lagi, jika anak ku bernama Vina tidak meminta maaf secara publik atas kekacauan yang dia buat, jangan salahkan aku jika aku memasukannya ke dalam penjara!" ancam Alan.
"Keluarga licik!" umpat Linda yang sudah geram. Wanita itu kemudian langsung mengajak suaminya pergi.
Davin emosi, terlebih lagi dengan papahnya yang ternyata selama ini sudah menyimpan kebohongan. Bahkan, pernikahan paksa yang di lakukan Davin dan Linda semata-mata hanya untuk mempertahankan perusahaan.
__ADS_1