Janda Kesayangan Tuan Alan

Janda Kesayangan Tuan Alan
63.Aku Minta Maaf


__ADS_3

Davin dan Robby langsung bernafas lega karena masalah perusahaan mereka kembali stabil dalam sekejap. Meskipun mereka tidak suka dengan perubahan yang di buat Alan di perusahaan mereka.


Dengan langkah gagah sambil menggandeng tangan istrinya, Alan memasuki perusahaan milik Davin yang sekarang Linda sudah memiliki hak atasnya.


"Ku dengar, Linda juga berhak atas perubahan ini. Mati lah kita,...!" bisik seorang karyawan yang pernah membully Linda dulu.


"Iya, aku tidak pernah menyangka jika Linda sekarang adalah atasan kita bahkan Linda juga yang menyelamatkan perusahaan ini," timpal karyawan lainnya.


Gosip tersebut kembali menjadi perbincangan panas di perusahaan. Entah kenapa Alan sangat tidak menyukai karyawan Davin yang suka bergosip.


Linda memiliki ruangan sendiri di tempat ini, namun wanita itu sama sekali tidak tertarik berada di sana. Robby melirik Davin, dirinya seperti ingin menyampaikan sesuatu.


"Mumpung bertemu kamu Linda. Om ingin menyampaikan sesuatu," ujar Robby.


"Menyampaikan apa om?" tanya Linda penasaran namun sudah bisa di tebak oleh Alan.


"Masalah Vani, bisa kah kau mencabut tuntutan mu?" Robby mengutarakan permintaannya.

__ADS_1


Linda tersenyum tipis, melirik ke arah Davin, "Maaf om. Tidak bisa!" tolak Linda, "sekian lama Vani selalu mengusik ku, mencemarkan nama baik ku. Jadi, Vani harus menerima hukumannya agar dia jera!"


"Lin, kita pernah menjadi satu keluarga. Vani adik ku satu-satunya, jadi tolong cabut tuntutannya," ujar Davin.


"Satu keluarga?" Linda mengulangi perkataan Davin, "Apa kalian terutama kau pernah menganggap aku keluarga?" tanya Linda masih mencoba sabar, "Sedetik pun, apa kau pernah menganggap aku sebagai istri ku?"


Davin terdiam, begitu juga dengan Robby.


"Aku sudah membantu kalian. Ku harap keluarga kalian jangan melunjak!" ujar Alan.


"Aku minta maaf Linda!" ucap Davin menatap mantan istrinya. Tentu saja Alan tidak suka dengan hal tersebut.


"Pelan-pelan sayang. Kasihan anak kita!" ucap Alan yang penuh perhatian membuat Davin kembali merasa panas di hatinya.


Alan dan Linda pergi, Davin langsung mengacak rambutnya frustasi.


"Apa yang harus kita lakukan pah?" tanya Davin yang sudah tidak memiliki ide.

__ADS_1


"Mau tidak mau kita harus mencari pengacara untuk adik mu," ujar Robby.


Robby dan Davin memutuskan untuk pulang. Sudah pasti mereka akan mendengarkan suara jeritan Diana.


"Apa, dasar perempuan udik. Tidak tahu diri, baru juga kaya sudah sombongnya minta ampun. Pah, cari pengacara yang hebat untuk melawan Linda si gendut itu," ujar Diana yang sudah geram.


"Apa pun akan papah lakukan untuk Vani mah. Mamah tenang saja!"


"Dia sedang hamil, semoga saja keguguran biar Linda tahu rasanya kehilangan anak!" lagi-lagi Diana mendoakan Linda yang jahat.


Sementara itu, Alan dan Linda sedang memutari jalan karena Linda sangat ingin berkeliling siang ini.


"Sayang, sudah ya. Kau pasti lelah!" ujar Alan.


"Iya, tapi beli es krim dulu," rengek Linda.


"Iya sayang. Setelah itu aku akan mengantar mu pulang!"

__ADS_1


"Tidak mau, aku ingin ikut ke kantor. Aku bisa istirahat di ruang mu," tolak Linda.


Tidak mau membuat istrinya kecewa, Alan langsung menuruti kemauan istrinya. Linda mencubit hidung mancung suaminya, entah kenapa akhir-akhir ini Linda suka melakukan hal yang aneh.


__ADS_2