Janda Kesayangan Tuan Alan

Janda Kesayangan Tuan Alan
45.Jangan


__ADS_3

"Alan, Kita sudah lama tidak bertemu. Teman macam apa kau ini?" Airin terus mengejar Alan hingga ke lift.


"Menjauh, aku tidak ingin istri ku melihat mu!"Alan mengusir Airin secara halus.


Airin mendengus kesal, perempuan tidak tahu diri ini hampir setiap hari datang menemui Alan.


"Awas saja kau Alan, sejak dulu kau selalu mengacuhkan ku!" ucap Airin yang sangat geram dengan sikap dingin Alan padanya.


Ketika membuka pintu, Alan terus menggerutu kesal dengan tingkah Airin. Gian yang berada di dalam ruangan langsung mengerutkan keningnya heran.


"Ada apa dengan mu?" tanya Gian menutup berkasnya.


"Aku heran, kenapa Airin tiba-tiba muncul lagi?"


"Kau ini seperti tidak tahu Airin saja. Sesekali bersikaplah tegas padanya!" ujar Gian.


Obrolan mereka terhenti ketika Linda masuk ke dalam ruangan. Meskipun mereka satu gedung, namun Linda berada di ruangan dan lantai yang berbeda dengan suaminya.


Melihat istrinya, seketika ekspresi wajah Alan langsung berubah.


"Pawang yang datang ya senyum lagi," ucap Gian pelan.


"Diam kau!"

__ADS_1


"Sayang, aku melihat teman mu di bawah. Dia sedang menunggu mu," ujar Linda yang baru saja masuk.


"Hindari saja ulat bulu seperti dia, nanti kau tertular gatal," kata Alan membuat Gian tertawa.


"Suami ku sayang, sebenarnya apa yang harus aku lakukan di kantor ini?" tanya Linda, "kau membuka perusahaan baru tapi semua yang bekerja anak mu."


"Jika bukan karena mantan suami mu yang brengsek itu, mana mungkin aku membiarkan istri ku bekerja. Kau tidur saja di dalam sana!" ujar Alan membuat Linda dan Gian saling pandang.


"Kau berniat membalas dendam tapi malah menyuruh Linda untuk tidur. Apa dengan tidur dendam mu akan terbalas?" tanya Gian.


"Besok, berikan mereka keuntungan yang besar. Selanjutnya, kau pasti tahu apa yang harus kau lakukan bukan?" tanya Alan pada Gian.


"Memutuskan semua kerja sama perusahaan mereka dengan perusahaan lainnya. Jadi, mereka hanya akan bergantung pada anak perusahaan kita," tutur Gian panjang lebar.


"Lalu kau akan dengan bebas menekan mereka sayang. Mantan suami mu itu pasti akan mengemis pada mu!" jawab Alan.


Sementara itu, Davin mulai merasa jengah dengan sikap Istrinya. Helen meminta pada suaminya untuk mengenalkannya pada seorang sutradara karena wanita ini sangat ingin berpindah haluan menjadi seorang aktris.


Hampir setiap hari Helen datang ke kantor suaminya. Membuat Davin tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya.


"Kau sudah bekerjasama dengan Alan. Pasti dia akan membantu mu!" kata Helen.


Davin menarik nafas dalam-dalam, biar bagaimana pun lelaki ini cukup gengsi untuk meminta tolong.

__ADS_1


"Turunkan rasa gengsi mu.Jika kau ingin melihat istri mu sukses, berkorban lah sedikit," Helen bicara seenak jidatnya.


"Kau ini, kalau bicara seenaknya saja.Helen, mengertilah sedikit. Pekerjaan ku sangat banyak,"


"Sayang, aku bosan menjadi seorang model. Jika kau tidak mau meminta tolong dengan Alan, aku akan datang sendiri memintanya!" ancam Helen dengan wajah merajuknya.


"Jangan, aku akan memintanya untuk mu!" Davin pasrah.


Helen langsung memeluk suaminya, mencium pipi pria itu kemudian pergi.


Setelah istrinya pergi, Davin langsung menelpon Alan meminta untuk bertemu empat mata.


Untung saja Alan langsung mengiyakan, membuat Davin bisa bernafas lega.


"Sayang, maafkan aku jika tidak bisa menemani mu makan siang. Aku harus menemui Davin," Alan merasa berat untuk meninggalkan istrinya.


Linda tersenyum lalu berkata, "Tidak apa-apa. Aku mengerti,"


"Kau serius ingin bertemu empat mata?" tanya Gian menyakinkan.


"Em,kita lihat saja. Apa yang ingin dia lakukan?" ujar Alan.


Sebelum pergi Alan mengecup kening istrinya sambil mengingatkan untuk makan siang. Alan tidak mau jika istrinya sakit hanya karena kelaparan.

__ADS_1


__ADS_2