
"Aku pergi dulu, Julia bertengkar dengan Airin!" ujar Gian setelah menutup telponnya.
"Hah, kok bisa?" tanya Linda tidak percaya.
"Kak, aku ikut...!" Melan buru-buru mengejar Gian.
"Sayang, ini bagaimana?" Linda khawatir pada Julia.
"Biarkan saja, Julia pasti tahu apa yang harus dia lakukan!" ujar Alan lalu mengajak anak dan istrinya masuk.
Linda tetap saja khawatir memikirkan Julia. Wanita ini takut jika Julia kenapa-kenapa.
Gian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, membuat Melan syok di buatnya. Tak berapa lama mereka tiba di butik. Gian dan Melan terperangah ketika melihat keadaan butik yang sudah hancur berantakan.
"Di mana mereka?" tanya Gian.
"Kami mengurung mereka di toilet pak," jawab salah seorang karyawan langsung menujuk toilet.
Gian langsung membuka toilet, laki-laki itu syok ketika melihat Julia yang sedang menindih Airin sambil memukul wajah wanita itu.
Gian dan Melan langsung menarik Julia keluar, sedangkan Airin sudah lemas babak belur di hajar julia. Perlahan Airin duduk, bersandar di dinding toilet.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Gian panik.
"Perempuan gila itu yang memulai. Biarkan aku menghabisinya!" Julia masih ingin menyerang Airin.
__ADS_1
"Sudah, sudah hentikan. Lihat diri mu, sudah membuat ku khawatir!" sentak Gian marah.
"Dia sudah mengatai ku babu,menghina ku dan Linda!" adu Julia.
"Dia menghina kakak ipar ku?" tanya Melan ikut geram.
Melan menyingsing lengan bajunya lalu masuk ke dalam toilet dan memasukan kepala Airin kedalam closed. Julia dan Gian saling pandang lalu berusaha menarik Melan keluar.
"Kenapa dia harus bebas. Harusnya dia membusuk di penjara. Perempuan ini selalu mengganggu kakak ku dari dulu. Dasar tidak tahu diri," Melan ingin menghajar Airin yang sudah tak berdaya namun di halangi oleh Gian.
"Hentikan Melan!" sentak Gian, "Jika kau terluka habislah kami berdua!" ucap Gian dengan nada tinggi langsung membuat Melan terdiam.
"Pak, butik kami rusak. Bagaimana tanggung jawab kalian?" tanya karyawan yang ketakutan.
Tak berapa lama Gibran tiba di sana, laki-laki ini menarik nafas dalam ketika melihat sang kekasih yang sudah acak-acakan.
"Bersikap yang manis sedikit. Apa kau ingin anak keturunan kita nanti jadi bringasan?" tanya Gibran sambil merapikan rambut Melan.
"Kata-kata mu, tarik kata-kata mu!" ujar Julia tidak terima.
"Kenapa memangnya?" tanya Gibran tidak mengerti.
"Kata-kata mu sudah menyinggung ku. Mau ku hajar ku?"
"Heh sudah, jangan naik darah terus. Tunggu aku sebentar, aku akan menyelesaikan keributan ini," kata Julia dengan sabarnya.
__ADS_1
Setelah mengganti rugi, Julian langsung menyeret Airin keluar dari butik.
"Berhenti mengganggu Alan, Linda ataupun Julia. Sejak dulu kau selalu mengusik Alan, apa kau ingin masuk penjara lagi?"
"Bajingan, kau mengancam ku?" tanya Airin.
"Aku tidak mengancam mu, kita pernah berteman Airin. Jadi tolong jangan seperti ini,"
"Awas saja kau, aku akan membalas mu Gian!" ancam Airin kemudian pergi. Wanita itu berjalan sempoyongan.
Gian hanya bisa bergeleng kepala, pria ini masuk lagi kedalam butik.
"Bawa Melan pergi, sebelum pulang harus sudah dan bersih jika tidak matilah kita bertiga di hajar Alan," titah Gian pada Gibran.
"Sayang ku, ayo pergi. Aku tidak ingin di gantung oleh kakak mu!" ujar Gibran lalu mengajak Melan pergi.
"Dan kau,...hemmm....!" Gian menarik nafas panjang, "Ganti uang ku!" ucap pria itu yang sudah tidak tahu lagi ingin berbuat apa.
"Gampang, aku akan meminta pada tuan Alan. Toh, aku membela istrinya juga!" sahut Julia dengan santainya.
"Mari pulang, aku akan mengobati luka mu ini," ajak Gian.
"Tumben perhatian!" seru Julia.
"Perhatian salah, tidak lebih salah lagi. Perempuan maunya apa?"
__ADS_1