
"Maaf tuan, sepertinya sejak kita tuan dan nyonya keluar dari toko kue ada yang mengikuti mobil kita," sopir memberitahu Alan sambil memantau kaca spion.
"Benarkah?" tanya Alan langsung melihat ke arah belakang, "Yang menggunakan sepeda motor itu?"
"Iya tuan, sejak tadi sepertinya mereka mengikuti mobil kita,"
"Coba cari jalan lain, apa mereka akan mengikuti kita?"
"Sayang, apa mereka orang jahat?" tanya Linda khawatir.
"Sepertinya begitu," jawab Alan.
Benar saja sepeda motor yang di kendarai oleh dua orang pria itu terus mengikuti mobil mereka.
"Berhenti...!" titah Alan.
Mobil berhenti, sepeda motor itu juga ikut berhenti dengan jarak yang tidak terlalu jauh.
"Sayang, apa yang akan kau lakukan?" tanya Linda khawatir dengan suaminya.
"Tenang saja, tidak usah khawatir!" Alan mengusap pucuk kepala istrinya lalu keluar dari mobil.
Dengan beraninya Alan keluar lalu menghampiri dua orang yang pura-pura sedang melihat mesin motornya.
"Katakan, siapa yang menyuruh kalian mengikuti mobil ku?" tanya Alan langsung membuat dua orang pria itu mendongak.
"Jago sekali kau, sehebat apa dirimu?" tanya pria yang berjambang lebat.
__ADS_1
"Bagaimana jika kita bekerjasama?" tawar Alan, "Aku akan membayar kalian jauh lebih mahal dari pada pesuruh kalian!"
Kedua pria tersebut saling lirik, mereka sepertinya tertarik dengan penawaran Alan.
"Jika kalian tertarik, temui aku di restoran xxxx malam ini,",
"Baiklah!" ucap mereka setuju.
Alan kembali ke mobil, sedangkan dua orang pria itu langsung memutar arah dan pergi.
"Sayang, apa kau baik-baik saja?" tanya Linda yang benar-benar khawatir.
"Aku baik-baik saja. Jalan pak!"
Mereka langsung pulang, cukup melelahkan bagi Linda hari ini meskipun kerjaannya hanya bersantai menemani suaminya bekerja.
"Tidak mau, dingin!" seru Linda.
"Apa kau mau mandi sambil bermain agar hangat?" Alan mengedipkan sebelah matanya.
Mata Linda melirik tajam, "Suka sekali seperti itu, apa kau tidak lelah?"
"Untuk sebuah kenikmatan, tentu saja aku tidak akan pernah lelah. Bagi seorang pria, hal seperti itu sama saja mereka sedang mendapatkan vitamin!" ujar Alan di iringi gelak tawanya.
"Ada-ada saja. Aku hanya ingin rebahan manja," sahut Linda.
"Sudah sore sayang, cepat mandi biar segar!"
__ADS_1
"Aku sudah mandi tadi pagi. Besok saja ya...!" rengek Linda, "Aku ingin minum jus melon. Tapi, aku hanya ingin kau yang membuatnya,"
"Sebentar, aku akan pergi ke dapur dulu!" Alan langsung menuruti permintaan istrinya.
Linda sangat senang, hidup bersama Alan dirinya benar-benar di perlakukan seperti ratu. Berbeda dengan Davin dulu, empat puluh hari menikah kenyang makan hinaan dan hujatan saja.
Malam menjelang, sebelum pergi Alan minta izin terlebih dahulu pada istrinya untuk pergi. Pada awalnya Linda banyak tanya dan tidak mengizinkan suaminya untuk pergi, namun berkat bujuk rayu pada akhirnya Alan mendapatkan izin juga.
Alan sengaja memesan ruangan pribadi agar tidak ada yang melihat dan mendengar percakapan mereka. Dua orang pria tersebut sudah menunggu sejak tadi.
"Pesan apa saja yang kalian mau!" ujar Alan.
"Sepertinya kau orang kaya," ucap pria yang bernama Jefri.
"Siapa yang sudah menyuruh kalian, katakan!"
"Seorang perempuan memberi kami perintah untuk mencelakai istri mu. Dia juga meminta agar istri mu keguguran!" mereka berkata jujur.
Wajah Alan memerah, rahangnya mengeras marah. Alan menyodorkan satu cek kosong yang sudah di ditandatangani. Kedua pria itu saling pandang tidak percaya.
"Isi sesuka hati kalian, bawa perempuan itu ke gudang jalan xxx!" titah Alan.
"Baik tuan, kami akan melakukannya!"
"Besok pagi, pastikan perempuan itu sudah ada di sana,"
"Pasti tuan. Kami akan menjalankan perintah tuan!"
__ADS_1
Sudut bibir Alan tersenyum tipis, pria tersebut kemudian pergi tanpa mencicipi makanannya. Tidak, Alan tidak akan memberitahu Linda tentang masalah ini karena Alan tidak mau membuat istrinya kepikiran.