Janda Kesayangan Tuan Alan

Janda Kesayangan Tuan Alan
92.Sudahlah


__ADS_3

Pyaaar....


Helen melempar gelas yang berisi cairan berwarna merah itu hingga pecah. Kedua tangan wanita itu mengepal keras ketika mendengar aduan dari Airin.


"Sekarang aku sudah tidak tahu lagi Davin di mana. Alan juga sudah menghancurkan masa depan ku bahkan dia membuat ku tidak bisa memiliki keturunan lagi."


"Kita harus membalas Alan. Mereka harus sama hancurnya dengan kita!" Airin mencoba mengompori Helen.


"Ku dengar, akhir minggu ini akan ada acara pernikahan. Apa itu benar?" tanya Helen.


"Ya, aku tidak sengaja mendengar Julia mengobrol bersama manajer butik tadi,"


"Mari membuat keributan. Aku yakin Alan pasti akan membawa anak dan istrinya acara seperti itu,"


"Kau benar, tapi bagaimana caranya kita bisa masuk ke sana?" tanya Airin mulai bingung.


"Itu gampang, kita masih ada satu orang lagi yang bisa membuat kita bisa masuk kesana!"


"Kau benar hebat Helen. Aku bangga pada mu!" puji Airin.

__ADS_1


Di rumah Alan, Julia dan Melan saling bertukar cerita mengenai kejadian tadi siang. Alan dan Linda terus tertawa melihat Julia yang menceritakan penuh gaya.


"Kau sangat hebat Julia. Suami mu pasti bangga pada mu nanti," ujar Linda langsung mendapatkan tatapan dari Gian.


Alan yang melihat Gian menatap istri langsung melempar dengan kukis yang berada di atas piring.


"Jauhkan mata kotor mu dari istri ku!" ucap Alan tidak suka.


"Istri mu menyebalkan!" seru Gian.


"Calon istri mu jauh lebih menyebalkan. Terkadang!" sahut Alan.


"Coba saja kalau berani, atas bawah akan gunduli hutan miliknya!" ucap Julia langsung membuat Alan dan Gian saling lirik.


"Mengerikan!" seru Gibran, "aku jadi nyeri,"


"Aku akan berguru dengan mu kak!" kata Melan langsung tidak di setujui oleh Gibran.


Malam itu, mereka mengobrol saling bercanda. Kehadiran Julia di tengah mereka sangat menghibur.

__ADS_1


Hari ke hari telah berganti, tak terasa satu hari lagi menjelang pernikahan Julia dan Gian semua orang mulai sibuk menyiapkan acara. Gian sama seperti Alan, tidak memiliki orangtua karena orangtuanya sudah meninggal akibat kecelakaan sewaktu dia kuliah dulu.


Sedangkan Julia masih memiliki seorang ibu dan saudara tiri yang tinggal berbeda kota. Sejak ayahnya meninggal Julia lebih memilih hidup mandiri seorang diri merantau ke kota lain.


"Kau sangat berbeda hari ini. Sejak pagi kau hanya diam saja, kenapa?" tanya Gian duduk di samping Julia.


"Menyedihkan ya, hari bahagia kita sama-sama tidak di hadiri oleh orangtua," jawab wanita itu dengan mata berkaca-kaca.


Gian merangkul pundak Julia, menguatkan sang calon istri meski dia sendiri juga merasa sedih.


"Sudahlah, jangan bersedih lagi. Kita masih memiliki teman dan orang terdekat yang berbahagia atas pernikahan kita. Tuhan itu maha adil,"


Julia tersenyum tipis, "Kau benar, kita tidak ada bedanya dengan Alan dan Linda. Tapi mereka bisa bahagia, masa kita gak bisa!"


"Maka dari itu, jangan sedih. Aku tidak suka melihat kau menangis, aku lebih suka melihat kau bertingkah!" ujar Gian membuat sifat Julia langsung bangkit.


Tidak, Gian juga ingin melihat Julia bersikap anggun dan pendiam seperti Linda. Namun ternyata melihat Julia diam hanya beberapa jam saja sudah membuat hatinya gelisah.


"Tetap menjadi diri mu, jangan mengikuti apa kata orang. Kebahagiaan itu kita yang tentukan, bukan orang lain apa lagi kata mereka," ucap Gian sambil mengusap lembut kepala Julia.

__ADS_1


__ADS_2