
"Sayang,mau kemana?" tanya Linda dengan manjanya.
"Aku ingin ke dapur sebentar," jawab Alan.
"Jangan pergi,"
Alan mengerutkan keningnya bingung, "Kenapa sayang, istri ku, belahan jiwa ku?" tanya Alan tidak jadi keluar dari kamar.
"Pinjam dada mu lagi, kepala ku pusing!"
Alan menatap wajah istri, Linda terlihat pucat dan sejak pagi mengeluh pusing. Alan mengalah, pria ini tidak jadi pergi ke dapur dan lebih memilih permintaan istrinya.
"Sebenarnya, aku sedang ingin makan mi rebus," ucap Linda yang sedang bersandar manja di dada suaminya.
"Makanan tidak sehat. Aku tidak mengizinkan mu memakannya!"
Bibir Linda langsung mengerucut tajam, wanita ini tiba-tiba saja merebahkan diri dan tidak mau bicara pada Alan.
"Sayang ku, kau kenapa lagi?" tanya Alan semakin bingung.
"Aku tidak ingin bicara pada mu!" tegas Linda langsung menarik selimutnya menutupi seluruh tubuh.
"Sayang, aku minta maaf jika aku punya salah. Ku mohon jangan seperti ini. Mintalah sesuatu yang penting hati mu senang,"
"Aku hanya ingin makan mi rebus!" kata Linda mengulangi permintaannya.
Alan menarik nafas panjang, lalu mengalah, "Tapi, cukup malam ini saja ya?"
"Iya, aku janji...!" seru Linda kembali bersemangat.
"Aku akan meminta bibi memasaknya sebentar,"
"Tidak, aku tidak mau!"
"Lah, jadi bagaimana?" tanya Alan kembali di buat bingung.
__ADS_1
"Aku ingin kau yang memasaknya!"
Alan tersenyum, mengusap pucuk kepala istrinya, "Iya, ayo pergi ke dapur!"
Untung saja Alan bisa memasak sedikit, jadi laki-laki ini tidak perlu membangunkan pembantunya untuk masak. Linda tersenyum-senyum sendiri melihat suaminya, membuat Alan menjadi salah tingkah.
"Ini tidak gratis," ujar Alan.
"Duh, ternyata laki-laki akan semakin tampan jika sedang memasak," puji Linda semakin membuat Alan salah tingkah.
"Apa aku sudah sempurna untuk mu?" tanya Alan dengan percaya diri.
"Tentu, kau sangat sempurna untuk perempuan buruk rupa seperti aku ini."
"Jangan bicara seperti itu, aku tidak suka!"
"Aku kan berkata benar, apa salahnya?"
"Sudah, jangan di bahas. Sudah matang, mari makan," kata Alan sambil membawa dua mangkuk mi rebus ke meja makan.
"Kebiasaan buruk. Kau boleh makan seminggu tiga kali saja! Ingat itu," ujar Alan.
"Iya, terimakasih suamiku!" ucap Linda lalu mencium pipi suaminya.
Sepasang suami istri itu makan bersama, Linda nampak lahap memakan mi nya. Sejak mengenal
Alan, Linda mulai bisa mengajak orang lain mengobrol.
Selesai makan, mereka kembali ke kamar. Hari semakin larut, tentu saja Alan khawatir pada istrinya karena Linda masih terlihat pucat.
"Tidurlah, besok pagi kita akan menjemput Melan di bandara!"
"Em, aku merindukan Melan,"
Linda tidak marah lagi, wanita ini tidur dalam pelukan suaminya begitu setiap malamnya.
__ADS_1
Pagi menjelang, Linda tidak berselera untuk sarapan dan hanya menemani suaminya. Alan cukup khawatir, namun Linda yang kekeh mengatakan nanti saja akan makan.
Mereka kemudian pergi ke bandara untuk menjemput Melan yang akan berlibur selama satu minggu. Berhubung hari ini akhir pekan, jadi Julia dan Gian bebas dengan acara mereka.
"Sayang, apa kau baik-baik saja?" tanya Alan yang melihat istrinya memejamkan mata di dalam mobil.
"Aku baik-baik saja, hanya sedikit pusing!" jawab Linda pelan.
Alan melajukan mobilnya, setibanya di bandara Linda tidak ikut turun karena kepalanya benar-benar sangat pusing.
"Kak Linda kenapa kak?" tanya Melan yang bingung melihat kakak iparnya di dalam mobil.
"Kita mampir ke klinik sebentar. Sejak kemarin ipar mu itu mengeluh pusing. Kakak takut terjadi apa-apa," ujar Alan langsung menancap gas mobilnya.
Benar saja, setibanya di klinik Linda sudah tidak sadarkan diri. Tentu saja Alan dan Melan panik di buatnya, di tambah lagi wajah Linda makin pucat. Linda langsung mendapatkan penanganan, bahkan wanita itu harus di infus sekarang.
"Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Alan yang benar-benar panik.
Dokter perempuan tersebut malah tersenyum, membuat Alan geram melihatnya.
"Kenapa kau tersenyum?" tanya Alan tidak suka.
Sontak saja Dokter tersebut langsung merubah ekspresi wajahnya menjadi serius.
"Maaf pak, istri bapak baik-baik saja. Stres dan lelah pada ibu hamil bisa membuatnya tidak sadarkan diri,"
"Ibu hamil?" Alan mengulangi perkataan Dokter, "Siapa yang hamil?" tanya Alan bingung.
"Loh, bapak tidak tahu kalau istri bapak sudah hamil?" tanya Dokter balik membuat Alan syok.
"Maksud Dokter kakak ipar saya hamil gitu?" tanya Melan memastikan.
"Ya, jika kalian tidak percaya kalian bisa memindahkannya ke rumah sakit.
Alan benar-benar tidak percaya, pria tersebut langsung menggendong istrinya nda menyuruh Melan untuk membawa infus. Alan yang tidak yakin pada klinik yang berada di pinggiran kota ini langsung memindahkan istrinya ke rumah sakit besar. Bukan apa, Linda yang sampai sekarang belum sadarkan diri membuat Alan tidak percaya.
__ADS_1
"Dasar laki-laki aneh!" ucap Dokter setelah mobil Alan pergi.