
"Sayang,....!" sapa Alan langsung mencium istrinya di depan banyak orang.
"Hadeeeh, jiwa kesendirian ku meronta. Aku yang biasanya betah menjomblo pada akhirnya goyah juga!" ucap Julia.
Alan dan Linda tertawa, sejak ada Julia di kehidupan mereka, semuanya menjadi lebih menyenangkan karena Julia pandai membuat orang lain tertawa.
"Apa kita akan pulang?" tanya Linda.
Alan melirik jamnya, "Tunggu sebentar. Gian sedang perjalan ke mari," ujar Alan.
Tak berapa lama Gian datang dengan membawa tumpukan berkas. Alan tersenyum puas melihatnya.
"Kerja bagus Gian!" puji Alan.
"Sisanya akan di urus oleh pengacara. Dua hari lagi kembalikan nama akan selesai di buat," jelas Gian.
"Sayang, dalam waktu dua hari perusahaan itu akan berubah menjadi nama mu!" kata Alan memberitahu.
"Ini terlalu berlebihan. Suami ku, apa kau tidak salah?" tanya Linda memastikan.
__ADS_1
"Tidak, aku hanya ingin membuktikan pada mereka jika kau layak berada di atas mereka. Aku juga akan menarik kembali semua karyawan Davin, agar mata mereka bisa terbuka lebar jika sekarang kau adalah bos bukan bahan hinaan lagi," tutur Alan panjang lebar.
"Aku benar-benar terharu. Terimakasih tuan Alan. Aku mencintaimu!" ucap Linda lalu memeluknya.
"Biasanya jika bos sedang bahagia, anak buah pasti dapat bonus. Kira-kira apa ya bonus kami berdua?" Julia menyenggol Gian.
"Em, benar. Kira-kira apa ya bonus kita?" timpal Gian.
"Menikahlah, maka kalian bebas memilih rumah impian yang kalian mau!" ujar Alan lalu mengajak istrinya pulang.
"Hah? bonus macam apa itu?" protes Julia tidak di dengar Alan dan Linda.
"Kau pikir kue di bagi dua!" Julia memutuskan untuk pergi juga.
Seharian Diana tidak keluar dari kamar karena masih tidak terima dengan kehidupan yang sekarang. Diana cukup malu untuk membuka ponselnya yang penuh dengan chat dari teman-temannya yang menanyakan kebenaran tentang kehidupan mereka yang sekarang.
"Setelah ini, apa yang harus kita lakukan pah?" tanya Davin bingung.
"Untuk sementara kau bisa bekerja di perusahaan keluarga Aldi. Papah sudah meminta pekerjaan pada papahnya," ujar Robby yang sudah pasrah.
__ADS_1
"Lalu, bagaimana dengan papah?"
"Papah akan mencoba membuka restoran. Satu-satunya keahlian papah selain berbisnis adalah memasak!"
"Gak, mamah gak setuju!" protes Diana, "Mending uang hasil penjualan rumah kita gunakan untuk membebaskan Vina,"
"Mah, Vina sudah di vonis penjara. Jika semua uang kita habiskan untuk hal seperti itu, bagaimana nasib Davin dan Vina di masa depan?" tanya Robby membuat istrinya terdiam, "jika kita membuka usaha, mana tahu itu akan menjadi sukses. Sabar mah, bersabarlah sedikit saja!"
"Papah benar mah, bersabarlah sedikit saja. Jangan dengarkan omongan orang lain," timpal Davin.
"Tapi, mamah malu karena semua teman-teman mamah mulai menjauhi," keluh Diana.
"Sudahlah mah. Sekarang kita tahu rasanya menjadi orang bawah. Sekarang papah mengerti bagaimana sakitnya di hina dan cemooh. Belajar untuk menerima keadaan mah!" Robby mencoba menguatkan istrinya.
"Masalah Vina, anggap saja ini pelajaran agar dia lebih bijak lagi dalam hidupnya. Davin juga salah mah, tapi mau bagaimana lagi?" timpal Davin semakin membuat mamahnya sedih.
"Semua gara-gara Linda. Si gendut itu adalah benalu. Dia yang sudah merusak semuanya!" ucap Diana geram, "Kenapa tidak ikut mati saja bersama ayahnya dulu?"
"Mah,.....!" lirih Davin.
__ADS_1