Janda Kesayangan Tuan Alan

Janda Kesayangan Tuan Alan
98.Julia dan Gian


__ADS_3

Jauh di negara lain, Julia dan Gian baru saja tiba di hotel. Julia yang benar-benar lelah, langsung melompat keatas tempat tidur untuk beristirahat.


"Tidak ada kalem-kalemnya!" batin Gian.


"Sekarang kita sudah menikah, aku harus memanggil mu apa?" tanya Julia.


"Panggil aku raja!" seru Gian kesal.


"Lah kok raja? jadi, kau akan memanggil ku ratu gitu?"


"Kau ini memang tidak ada inisiatifnya sama sekali. Panggil aku semanis mungkin!"


"Suami ku, begitu maksud mu?" tanya Julia, "hih, menggelikan!" timpal wanita itu.


"Apa yang menggelikan?" tanya Gian tidak terima, "nyatanya aku menang suami mu dan kau istri ku."


"Iya...iya...aku mengerti. Bercanda saja tidak boleh!" gerutu Julia, "Suami ku, aku ingin secepatnya hamil dan memiliki anak. Aku iri melihat Linda,"


Gian langsung duduk di samping istrinya, "Benarkah?" tanya pria itu, "Kalau begitu istirahatlah sekarang. Kita akan membuatnya nanti malam."

__ADS_1


"Malam masih dua jam lagi, kenapa harus sekarang sibuknya?"


"Karena ini akan menggunakan tenaga luar dan tenaga dalam. Kita harus kuat!"


"Aku masih polos, jangan kau nodai dengan kata-kata penuh rayu mu itu," ujar Julia lalu pergi ke kamar mandi.


Selesai mandi, sepasang pengantin baru ini pergi makan malam dan setelah itu kembali lagi ke kamar.


"Sedang apa kau?" tanya Gian menghampiri Julia yang sedang duduk di balkon kamar.


"Hanya melihat pemandangan. Ini pertama kalinya aku pergi keluar negeri. Ternyata dunia luar sangat indah."


"Aku sebenarnya bebas jika ingin pergi ke luar negeri. Hanya saja jika pergi seorang diri itu kurang asyik. Sekarang ada kau, rasanya baru sekarang perjalanan ku terasa lengkap."


"Benarkah?" tanya Julia tidak percaya,


"Em, kau sangat cantik jika bersikap lemah lembut. Tapi, aku lebih suka melihat kau yang apa adanya."


Kini keduanya saling berhadapan, tangan Gian mulai nakal mengusap wajah istrinya. Ketika Gian hendak mencium, Julia berkata, "Aku kedinginan!"

__ADS_1


"Apa kau mau yang hangat?" tanya Gian, tanpa banyak tanya pria itu langsung menggendong istrinya menuju tempat tidur.


Wajah Julia gugup, jantungnya mulai terasa hangat. Julia bukan wanita polos yang sangat polos, sudah tentu wanita ini mengerti jika Gian ingin melakukan apa.


Gian mendudukkan istrinya di tepi tempat tidur, perlahan namun pasti pria ini meraup bibir manis milik istrinya. Keduanya saling berpagut, Julia mengalungkan kedua tangan di leher suaminya.


Biasanya mereka hanya sekilas mencium sebentar, namun kali ini mereka bebas melakukan apa pun. Rakus juga Gian ini, lelaki semakin bersemangat untuk menyentuh titik tertentu. Ciuman semakin panas, tangan Gian mulai nakal. Jari-jari kekarnya mulai sibuk membuka resleting gaun yang berada di punggung belakang.


Tangannya mengusap tubuh polos istrinya, Gian merasa terganggu dengan tali bra dan langsung melepaskan. Tanpa sadar, tubuh Julia sudah polos sebagian.


Julia melepas ciumannya lalu berkata,"Astaga, aku sangat malu!"


Wanita ini menaikan gaun yang sempat turun.


"Lepas kancing kemeja ku sayang. Maka kita akan sama!" bisik Gian kembali meraup bibir istri. Tangan kekar itu menarik tangan istrinya, memberi perintah untuk segera melepas kancing kemeja.


Namanya juga pria dewasa, Gian sudah tidak tahan lagi. Pria ini buru-buru melepas semua pakaian miliknya lalu milik istrinya. Gian menaikan istrinya ketengah, pria ini mulai menindih tubuh polos istrinya.


Gian mulai berjelajah, memberi tanda kepemilikan di kulit putih istrinya. Bermain di bukit kembar, menikmati sejenak sensasinya. Lenguhan yang keluar dari mulut Julia membuat Gian semakin larut kedalamnya. Hutan lebat dan batang kayu saling berkenalan, Julia sadar jika ada yang keras di bawah sana.

__ADS_1


__ADS_2