Janda Kesayangan Tuan Alan

Janda Kesayangan Tuan Alan
65.Mana Linda?


__ADS_3

"Sini sayang, kau dan anak kita pasti lelah!" ujar Alan yang menyuruh istrinya berbaring.


"Em, aku sangat lelah. Tapi, aku heran kenapa kepala ku hanya pusing dan mual tidak muntah seperti ibu hamil kebanyakan?" Linda merasa heran.


"Anak kita sangat pintar, dia tidak ingin menyusahkan mu. Oh ya, kata Julia si Helen mengancam kamu tadi. Apa itu benar?" tanya Alan memastikan.


"Jangan di pikirkan, aku tidak apa-apa!"


"Mereka orang jahat sayang, aku tidak ingin mereka mencelakai mu. Kau harus ingat, tujuan kita membantu keluarga Davin itu apa."


"Aku mengerti, sekarang Davin sedang memohon maaf dari ku," ujar Linda memberitahu suaminya.


"Benarkah?"


"Em, aku hanya ingin melihat mereka menyesal. Aku masih ingat betul bagaimana om Robby mengulur waktu untuk operasi hingga ayah ku meninggal dunia,"


"Mereka harus di beri pelajaran!"


Alan cukup emosi ketika mendengar kembali cerita istrinya. Bukannya apa,zaman sekarang masih ada orang yang mengorbankan kebahagiaan orang lain agar dirinya bisa bahagia.


"Apa kalian tidak memiliki tempat lain selain kamar?" tiba-tiba Melan masuk kedalam kamar kakaknya.

__ADS_1


"Dasar tidak sopan!" Alan langsung melempar bantal ke arah adiknya dengan cepat Melan menghindar.


"Kak,aku harus kembali besok pagi," ujar Melan dengan wajah lesu.


"Loh, kok tiba-tiba. Ada apa Melan?" tanya Linda penasaran.


"Ada tugas yang harus segera di kerjakan. Membosankan!" celoteh gadis itu.


"Tidak apa, semakin cepat belajar mu selesai semakin cepat kau membantu kakak," kata Alan sambil menyemangati adiknya.


"Oh ya kak, Gibran juga akan melanjutkan pendidikannya sama seperti aku," ujar Melan membuat Alan bingung.


"Gibran siapa?" tanya Alan lupa.


"Tahu dari mana kau jika dia akan melanjutkan pendidikannya?" tanya Alan penuh selidik.


"Kamu saling bertukar nomor ponsel. Kata Gibran, kak Linda tidak usah khawatir. Dia akan merekomendasikan Dokter terbaik untuk kak Linda nanti,"


"Harus, jika tidak akan ku pastikan dia lenyap!" sahut Alan.


"Kau ini, suka sekali mengancam!" tegur Linda.

__ADS_1


"Sana keluar, ganggu saja. Kakak akan mengurus keberangkatan mu nanti," usir Alan pada adiknya.


Melan keluar, Alan kembali bermanjaan dengan istrinya.


"Sayang, sebenarnya aku sedang ingin. Tapi, apa boleh?" tanya Alan membuat Linda bingung ingin menjawab apa.


"Aku tidak tahu sayang. Kita lupa bertanya pada Dokter!"


"Sebentar, aku akan menyuruh Melan bertanya pada Gibran," ujar Alan membuat mata Linda langsung terbelalak lebar.


"Jangan, membuat malu saja!" ujar Linda, "Melan belum menikah, ngapain kamu menyuruh dia untuk bertanya?"


"Tapi sayang....!" Alan merengek.


"Tidak masuk di akal. Ayo tidur!"


Mau tidak mau Alan malam ini harus menahan niatnya untuk melakukan penyiraman benih. Meskipun begitu Alan tidak marah karena laki-laki ini mengerti dengan posisi istrinya sekarang.


Malam berganti pagi, seperti biasa semua orang akan sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Davin melirik jam yang melingkar di tangannya, pria ini seperti sedang menunggu seseorang.


"Mana Linda?" tanya Davin ketika melihat Julia yang datang seorang diri.

__ADS_1


"Ngapain kau mencari Linda?" tanya Julia tidak senang, "Linda tidak akan pernah datang ke tempat terkutuk seperti ini."


Davin terdiam, Julia tidak peduli meninggalkan Davin yang seperti orang kebingungan. Sebenarnya, hari ini adalah sidang pertama Vina dan Airin dalam kasus fitnah dan pencemaran nama baik.


__ADS_2