
"Bagaimana, apa sudah di atur?" tanya Davin berbisik.
"Sudah," jawab Airin, "Hari ini peninjauan proyek terakhir. Jadi, kita tidak boleh gagal,"
Davin dan Airin kemudian menunggu kedatangan Linda di mobil. Airin yang tidak mau terkena panas terus mengumpat kesal pada Linda yang baru saja datang.
Melihat Linda keluar dari dalam mobil, Airin dan Davin juga ikut keluar. Mata Davin melebar, pria ini langsung menelan ludah kasar ketika melihat mantan istrinya yang sangat cantik hari ini. Blazer warna merah terang melekat indah di kulit putih Linda.
"Hotel ini hanya memiliki lima lantai. Jadi, kita akan meninjau lantai terkahir," ujar Davin yang bergaya seolah dirinya adalah pemilik.
"Ya, aku mengerti," sahut Linda, "Perkenalkan, namanya Julia dia Asisten pribadi ku,"
Airin dan Davin tidak berniat bersalaman dengan Julia. Julia juga masa bodoh akan hal tersebut yang terpenting dia bekerja dan di bayar oleh majikannya.
"Cepatlah, ini sangat panas!" ujar Airin yang sudah seperti cacing kepanasan.
"Hah, baru saja terkena panas sedikit kau sudah banyak protes. Bagaimana dengan panasnya api neraka?" singgung Julia.
"Kau saja sana yang pergi ke neraka!" sahut Airin.
"Kau saja sana, ke neraka jahanam sekalian," balas Julia.
Linda hanya diam sambil tersenyum mendengar perdebatan Airin dan Julia.
"Sudah!" bentak Davin, "Kita di sini untuk bekerja. Bukan untuk berdebat!"
"Kau saja yang salah membuat karyawan seperti ini. Lembek!" ejek Julia.
Airin tidak terima, wanita ini hendak membalas ucapan Julia namun di tahan oleh Davin. Linda tidak peduli, wanita tersebut memilih masuk ke dalam bangunan proyek di dampingi mandor lalu di susul oleh Julia.
"Kenapa kau menghalangi ku?" tanya Airin kesal.
"Jika kau terus berdebat, kapan rencana kita akan berjalan?" tanya Davin geram.
Airin mendengus kesal, wanita itu juga ikut masuk ke dalam bangunan proyek. Tentu saja di sini Airin lah yang paling banyak mengeluh. Sesekali Julia mengejek Airin.
__ADS_1
Cukup melelahkan, pada akhirnya mereka tiba di lantai lima yang sudah hampir selesai. Linda cukup kagum dengan bangunan in, meskipun dirinya hanya meneruskan pekerjaan dari suaminya.
"Semua kamar sudah selesai di cat bu, tinggal lorong sebelah sini dan sana saja yang belum," jelas sang mandor.
"Yang dekat tangga ya pak?" tanya Linda memastikan.
"Iya bu," jawabnya sopan.
"Berapa lama ini akan selesai?" tanya Davin.
"Dalam waktu tiga hari pak. Setelah lantai lima selesai di cat, baru kita turun ke lantai empat,"
"Kerja yang rajin, jangan kendor. Waktu adalah uang!" ucap Davin dengan sombongnya.
"Baik pak!" jawab pak mandor yang merasa tidak enak hati.
Linda menyadari hal tersebut, wanita ini juga merasa tidak enak hati.
"Bicara yang sopan Davin. Hargai pekerjaan mereka!" tegur Linda.
"Kau masih harus belajar banyak Davin. Perusahaan keluarga mu bergerak di bidang garmen. Jadi, jangan memaksa sesuatu dengan grusa grusu," ucap Linda membuat Davin geram.
"Jika bukan karena kau, sudah sejak lama perusahaan ku dan Alan bekerja sama. Dasar pembawa sial!" kata Davin memancing emosi Julia.
"Mulut anda ini tidak sebersih jas anda. Kotor!" cibir Julia.
"Diam kau!" bentak Davin, "Aku akan meminta Alan untuk memecat mu nanti," ancam Davin malah membuat Linda dan Julia tertawa.
"Dia karyawan ku, jadi Alan tidak berhak memecat Julia," kata Linda membela Julia.
Linda kemudian mengajak pak mandor turun. Namun, ketika Linda menginjakkan kaki di lantai empat tiba-tiba ada satu kaleng cat yang melayang ke arah Linda. Julia yang melihat hal tersebut langsung berlari sigap lalu bergaya salto lalu menendang kaleng berisi cat ke arah lain.
Byuuur,....
Cat berwarna abu-abu tumpah berserakan di lantai. Linda cukup terkejut dengan hal tersebut. Pak Mandor langsung berkeringat panas dingin.
__ADS_1
"Turun kau perempuan biadab!" Julia berteriak ke arah tangga menuju lantai lima.
"Siapa yang kau maksud Julia?" tanya Linda.
"Siapa di sini yang tidak ada?" tanya Julia, "perempuan lembek itu mencoba mencelakai mu Linda," ujar Julia langsung membuat Davin panik.
"Jangan fitnah kau!" Davin membela Airin.
Julia tersenyum masam, wanita itu naik kembali ke lantai lima lalu menarik Airin yang sedang bersembunyi di sana.
"Lepaskan aku!" pinta Airin sambil menahan sakitnya cengkraman tangan Julia.
Julia geram, wanita itu mendorong Airin ke arah tumpahan cat tersebut.
"Rasakan. Hahaha....!" Julia tertawa keras.
Davin tidak berani berkutik, pria ini takut jika Julia melapor pada Alan maka hancurlah dirinya.
"Kau ingin mencelakai ku Davin?" tanya Linda dengan sorot mata tahan.
Davin hanya diam, pria ini sedikit bingung ingin menjawab apa. Sedangkan Airin terus merengek karena tubuhnya sekarang penuh dengan cat.
"Bukahkah kau sendiri yang mengatakan jika kita tidak boleh melibatkan masalah pribadi dengan pekerjaan, lalu kenapa kau bersikap seperti anak kecil seperti ini?" tanya Linda yang memandang mantan suaminya dengan muak.
Davin hanya bengong, melihat Linda marah entah kenapa kecantikan mantan istrinya ini semakin mengeluarkan aura yang bisa menghanyutkan Davin.
Linda tidak peduli, wanita ini mengajak Julia pergi dari tempat itu. Ketika Linda dan Julia benar-benar sudah pergi, Davin langsung meluapkan amarahnya pada Airin.
"Dasar perempuan tidak berguna. Jika Alan sampai membatalkan semua kerja sama, akan ku bunuh kau!" ancam Davin kemudian pergi begitu saja.
"Tolong aku Davin brengsek!" umpat Airin.
Beberapa pekerja sama sekali tidak berniat untuk membangun Airin. Mereka benar-benar tidak tahu jika Airin akan mencelakai Linda karena mereka semua tidak bekerja di lantai lima.
****Mampir yuk di karya baru ku baru publish😊 favorit dulu juga gak apa😊****
__ADS_1