
"Kenapa harus di jual pah?" tanya Davin tidak terima ketika Robby memintanya untuk menjual mobil.
"Kita butuh makan Vin, papah juga akan menjual rumah ini dan kita akan pindah ke rumah yang yang agak kecil,"
"Mamah gak setuju!" tolak Diana.
"Kenapa tidak menjual perusahaan saja?" tanya Davin.
"Uang dari hasil penjualan perusahaan hanya untuk membayar sisa gaji karyawan dan sisa utang kita. Lagian, rumah kita yang di jalan Xxxx tidak terlalu kecil juga."
"Mamah gak mau pah, mamah gak mau!" Diana menangis.
"Mau bagaimana lagi mah, tidak ada yang mau membantu kita sementara mereka terus mendesak uang mereka. Uang hasil penjualan rumah ini lumayan untuk kita membuka usaha dan menyambung hidup. Ayo lah Vin, jangan membuat papah sudah lagi," Robby memohon dengan sangat pada anak dan istrinya.
"Lagian, siapa yang akan membeli perusahaan yang sudah bangkrut pah? tidak ada!" ujar Davin melemah.
"Jika kau bisa menahan mulut mu mah, kita tidak akan susah seperti ini," kata Robby membuat istrinya terdiam.
Davin dan Diana hanya pasrah dengan keputusan sang kepala keluarga. Mau bagaimana lagi, kehidupan mereka sekarang sedang mengalami kesusahan.
__ADS_1
"Pak Robby ingin menjual perusahaannya, apa kau tertarik ingin membelinya?" tanya Gian.
"Hah, seriusan?" tanya Linda tidak percaya.
"Wooo, dia juga mengiklankan rumahnya!" ujar Gian.
Semakin terkejut Linda, keluarga Davin yang di kenal sombong nyatanya bisa jatuh juga.
"Beli perusahaannya, tidak dengan rumahnya. Aku tidak tertarik!" titah Alan membuat Julia dan Linda langsung menelan ludah kasar.
"Baiklah!"
"Katakan pada ku, siapa lagi yang sudah menyakiti mu?"
"Tidak ada. Terimakasih sudah membuat ku menjadi perempuan yang paling beruntung," ucap Linda.
"Aku hanya ingin menunjukan pada orang di luaran sana jika perempuan seperti mu pantas di bahagiakan. Seseorang yang memiliki fisik yang berlebih juga bisa berubah asal ada niat dan kemauan. Masalah status mu yang janda atau apa lah, aku tidak peduli. Karena kebahagiaan seseorang di dari kepuasan hati bukan dari segi kasta atau pun status," tutur Alan panjang lebar.
"Anak-anak kita akan bangga karena memiliki ayah yang baik dan bijaksana. Suami ku, dari ribuan orang yang memiliki kekurangan mungkin aku salah satu yang berhak bahagia. Meski aku tahu setiap orang berhak bahagia atas jalan mereka sendiri,"
__ADS_1
"Sudahlah, jangan di pikirkan lagi. Mari kita pulang, aku ingin bermanja!"
"Nanti masakin lagi ya," ujar Linda.
"Apa toge kecil ini butuh pupuk?"
"Tentu saja, jika tidak bagaimana dia akan berkembang!"
suami istri itu tertawa, rasanya bahagia juga hidup Alan dan Linda sekarang. Sebelum pulang Alan dan Linda mampir untuk membeli kue terlebih dahulu.
"Kau lihat perempuan itu," tunjuk Helen pada Linda yang sedang bergangdengan masuk ke dalam toko kue.
"Perempuan yang cantik bersama suaminya itu ya?"
"Ya, celakai dia. Kalau bisa buat dia keguguran!" titah Helen.
"Siapkan saja bayarannya, kami akan membereskannya!" ujar pria bertubuh besar itu.
Helen tersenyum licik, memandang ke arah toko kue dengan penuh kebencian.
__ADS_1
"Kau akan sama hancurnya dengan diri ku dan Davin. Enak saja mau bahagia dia atas penderitaan orang!" ucap Helen lalu pergi dan membiarkan dua orang suruhannya untuk mematai Linda.