
"Tidak mungkin jika tidak ada sebab Vin. Sudah ku katakan beberapa kali untuk tidak menyinggung perasaan orang lain," ucap Aldi yang rasanya sudah bosan menasehati Davin.
"Tidak, aku tidak ada menyinggung siapapun Al," bantah Davin.
"Lalu ini apa?" tanya Aldi sambil menunjukan berita yang beredar.
Davin merampas ponsel Aldi lalu membaca satu persatu berita mengenai dirinya dan Linda. Davin terperangah, dirinya benar-benar tidak melakukan hal semacam ini.
"Aku tidak ada menyebarkan berita seperti ini. Tapi, ini memang benar bukti perjanjian antara keluarga ku dan keluarga Linda sebelum ayahnya meninggal!"
"Lalu siapa?" tanya Aldi tidak percaya, "Lihatlah sekarang, usaha yang dibangun oleh papah mu hancur dalam sekejap mata. Alan pasti tidak terima dengan berita seperti ini," tutur Aldi membuat Davin terdiam.
Tiba-tiba papah Aldi masuk ke dalam ruangannya, "Maaf Davin. Secara tidak hormat om harus memecat mu sekarang!"
"Tapi om, apa salah ku?" tanya Davin bingung.
"Om tidak mau perusahaan ini terkena imbasnya atas perseteruan keluarga mu dengan tuan Alan. Sekali om minta maaf. Tolong jangan datang lagi ke kantor ini," ucap papah Aldi kemudian langsung keluar.
Davin mengacak rambutnya frustasi, siapa lagi yang sudah memfitnah dirinya.
__ADS_1
"Maaf Vin, tapi kali ini aku benar-benar tidak bisa membantu mu," ucap Aldi lalu memutuskan untuk pergi.
Ponsel Davin berdering, satu panggilan dari nomor asing telah menghubunginya dan mengatakan jika sang papah terkena serangan jantung. Tidak hanya itu, Davin kembali mendapatkan telpon dari pihak kepolisian yang memberitahunya lagi jika Vina mencoba melakukan upaya bunuh diri lagi.
Davin syok, laki-laki terduduk lemas. Keluarganya di ambang kehancuran sekarang. Sejenak Davin mengatur nafas, setalah itu barulah lelaki ini pergi rumah sakit.
Davin melihat mamahnya yang sudah menangis histeris langsung memeluknya. Diana begitu terpukul ketika mendapatkan kabar bahwa anak dan suaminya sedang berada di rumah sakit.
"Bagaimana keadaan papah dan Vina mah?" tanya Davin.
"Dokter masih berusaha menyelamatkan mereka!" jawab Diana dalam isaknya.
"Jawab Davin mah, apa mamah yang sudah melakukan ini semua?"
"Mamah hanya ingin Vina bebas!" lirih Diana.
Davin memukul tembok, pria ini terkulai lemas di lantai.
"Keluarga kita hancur mah," ucap Davin pelan.
__ADS_1
Berbeda dengan Alan yang saat ini tersenyum puas. Tidak butuh waktu lama pria itu sudah berhasil membalaskan sakit hati istrinya. Alan memandang wajah lelah Linda yang sekarang sedang terlelap tidur bersama anak mereka.
"Siapa lagi yang menyakiti mu sayang? aku akan membalasnya untuk mu!" ucap Alan dengan wajah dinginnya.
Tak berapa lama Julia dan Gian masuk ke dalam ruangan. Sepasang kekasih ini sudah berhasil melaksanakan tugas mereka.
"Apa kau puas tuan?" tanya Julia.
"Tentu saja. Tapi, aku hanya ingin melihat mereka pergi jauh dari kota ini," ujar Alan.
"Di laksanakan tuan. Dalam waktu tiga hari mereka semua akan pergi dari kota ini," sahut Julia.
"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" tanya Gian.
"Hanya ingin bersenang-senang dengan anak dan istri ku. Giring beritanya, balikan pada mereka!" titah Alan langsung di jalankan oleh Gian.
Hanya Gian yang pergi, sedangkan Julia tinggal di sana. Baru sekarang Julia melihat anak Linda, karena dirinya sangat lah sibuk.
"Ya ampun, sangat menggemaskan!" ucap Julia yang sudah sangat pelan suaranya karena tidak ingin mengganggu istirahat Linda.
__ADS_1
"Jangan berisik atau ku lempar kau dari atas sini," ancam Alan langsung membuat Julia menelan ludahnya.
"Kejam!" batin Julia.