Janda Kesayangan Tuan Alan

Janda Kesayangan Tuan Alan
93.Rasanya Seperti Apa?


__ADS_3

Melan dan Gibran duduk di kursi paling depan sambil menggendong baby Hansel karena Linda dan Alan bertugas mendampingi Gian dan Julia.


Ketika pintu gereja di buka, semua mata tertuju pada Linda dan Julia yang sangat cantik meskipun Linda hanya mengenakan gaun putih polos biasa.


Gian dan Alan sejenak tertegun, sinaran wajah kedua perempuan yang sedang berjalan di altar pernikahan itu telah membuat hati mereka lumpuh sejenak.


"Astaga, aku seperti merasa ingin menikah lagi," ucap Alan sambil memegang dadanya.


"Wah, akan ku adukan pada Linda!" ancam Gian.


Alan kembali diam, memandang istrinya yang berjalan di samping Julia. Meskipun tidak ada keluarga yang mengantar, Julia sudah merasa sangat bahagia.


Gian mengulurkan tangan pada Julia, sedangkan Alan mengulurkan tangan pada istrinya. Alan dan Linda kembali ke kursi mereka.


"Kemarikan anakku!" ujar Alan pada Melan.


"Biarkan aku Hansel bersama ku kak!"


"Bikin sendiri sana!" ujar Alan langsung mengambil anaknya.


"Sayang, kita di suruh bikin!" adu Melan pada Gibran.


"Nanti ya, selesaikan dulu kuliah kita yang sisa beberapa bulan itu," ujar Gibran.


"Jangan dengarkan kakak mu," tegur Linda.

__ADS_1


Acara pemberkatan di mulai, Gian tidak pernah melihat Julia menangis pada akhirnya hari ini pria itu melihat Julia menangis.


"Sungguh mengharukan!" seru Melan juga ikut mengusap air matanya.


Kedua mempelai saling bertukar cincin, tangan Gian bergetar saat itu. Laki-laki ini tidak bisa melakukan hal romantis hingga membuatnya sangat gugup.


Selesai acara pemberkatan, mereka kembali ke hotel karena malam ini acara resepsi pernikahan akan di langsungkan.


"Apa ibu yakin kami bisa masuk?" tanya Hellen.


"Tentu saja, ibu akan jadi pelayan nanti malam."


"Ku pikir hanya bercanda,"


"Nanti ibu akan melihat situasi, kalian akan masuk melalui pintu dapur. Gunakan gaun yang bagus dan mahal agar kalian tidak di curigai,"


Ibunya Hellen keluar dari gudang, karena sekarang Hellen dan Airin bersembunyi di gudang yang berada tak jauh dari dapur.


"Apa yang akan kita lakukan di dalam nanti?" tanya Airin bingung.


"Aku hanya ingin membunuh Alan. Dia harus sama menderitanya dengan ku!" ujar Hellen.


"Lalu bagaimana dengan Linda?Jika kita tertangkap bagaimana?" tanya Airin khawatir.


"Tidak akan, tamu akan sangat ramai jadi tidak mungkin kita akan tertangkap. Setelah aku berhasil mencelakai Alan atau Linda, masing-masing dari kita harus berbaur dengan para tamu!" jelas Hellen.

__ADS_1


"Kau sangat pintar, tidak sia-sia aku berteman dengan mu!" puji Airin.


Sambil menunggu malam, kedua wanita itu saling atur strategi.


Sementara itu, di kamar hotel yang sangat luas hanya ada Linda, Julia dan Melan karena Gian dan kedua pria lainnya berada di kamar samping.


"Em Linda, setelah menikah apa yang harus kita lakukan?" tanya Julia berusaha mengorek ilmu dari Linda.


"Tentu saja jadi istri yang baik dalam melayani suaminya," jawab Linda.


"Lalu, semengerikan apa malam pertama itu?" tanya Julia dengan polosnya.


Linda melirik Melan lalu tertawa garing.


"Katakan saja kak, biar aku belajar!" ujar Melan sama polosnya.


Linda menggaruk kepalanya bingung, mau jawab tapi ragu.


"Ah, kau akan tahu sendiri nanti," kata Linda yang sudah bingung sendiri.


"Cepat beritahu aku Linda," rengek Julia.


"Rasakan sendiri nanti. Intinya bikin nagih!" ujar Linda.


"Duh, enak kali ya. Jadi pengen nikah juga!" kata Melan langsung membuat mata Linda melotot lebar.

__ADS_1


***Mampir di karya baru kak ya masih hangat loh***



__ADS_2