
"Tumben diam saja, ada masalah?" tanya Linda penasaran karena sejak pagi suaminya terlihat murung.
Alan menarik istri untuk duduk di atas pangkuannya.
"Aku berat sayang!"
"Tidak, kau tidak berat. Lebih berat lagi jika tidak ada kau!"
"Ada apa dengan mu suami ku?" sekali lagi Linda bertanya.
"Tidak ada, hanya sedang membayangkan bagaimana bahagianya kita setelah anak ini lahir?"
"Benarkah?" Linda tidak percaya.
"Em, kapan aku berani berbohong pada mu. Sayang, di mulai hari ini sampai kau melahirkan, tolong jangan memegang ponsel dulu ya?"
Linda mengerutkan keningnya bingung, "Ada apa sebenarnya?" tanya wanita itu penasaran.
"Tidak ada, hanya saja aku ingin melihat mu lebih tenang menjelang kelahiran anak kita ini,"
"Tidak, aku yakin pasti ada apa-apanya!"
Linda turun dari pengakuan suaminya lalu mengambil ponsel dan mengecek apa yang sebenarnya sudah terjadi. Alan berusaha mengambil ponsel milik Linda namun wanita itu langsung mengancamnya.
Wajah Linda mendadak sedih, wanita ini terus membaca berita yang sekarang sedang menyudutkannya.
"Jangan di pikirkan!" ucap Alan mengambil ponselnya.
"Bagaimana bisa mereka mengatakan jika anak yang aku kandung ini hanya untuk ku jual pada mu?" tak terasa air mata wanita itu mengalir deras.
Alan langsung memeluk istrinya, "Jangan dipikirkan. Percayalah jika aku sangat mencintai mu!"
"Siapa lagi yang sudah membuat berita fitnah seperti ini, kenapa mereka suka sekali mengusik hidup ku?"
"Siapa lagi kalau bukan keluarga mantan suami mu. Di berita juga tertulis jelas jika kau mengingkari sebuah amanah hanya untuk mengejar aku!"
__ADS_1
"Oh Tuhan. Apa yang mereka mau sebenarnya?" lirih Linda.
"Sudah, jangan di pikirkan. Aku akan membalas mereka semua!"
Terus menangis, hingga membuat perut Linda mengalami kontraksi. Alan panik, apa lagi ada cairan yang mengalir di kaki istrinya.
"Perut ku sakit!" keluh Linda dengan air matanya.
"Sayang, kau kenapa?"
Tidak menunggu lama lagi, Alan langsung menggendong istrinya keluar dari kamar. Tidak lupa Alan memanggil adiknya karena mereka akan pergi ke rumah sakit.
Linda kontraksi belum pada waktunya, wanita ini terus menggenggam erat tangan suaminya.
"Aku sudah tidak tahan lagi," ucapnya dengan suara di tekan.
"Sabar, sebentar lagi sayang!" Alan sangat panik. Tanpa terasa lelaki ini mengusap air matanya. Wajah Linda begitu pucat membuat suaminya sangat khawatir.
"Pihak rumah sakit sudah bersiap kak. Gibran juga sudah ada duit sana!" ujar Melan memberitahu.
Tak berapa lama mereka tiba di rumah sakir, Gibran dan Dokter Sarah sudah menunggu mereka. Buru-buru Linda di bawa ke ruangan bersalin. Hanya Alan yang boleh masuk ke dalam sana.
"Aku ingin menemani kakak!" ujar Melan namun di halangi oleh Gibran.
"Mereka akan baik-baik saja. Tenang lah!" ucap Gibran.
Tidak lupa Melan menghubungi Julia dan Gian. Bahkan, Alan memerintahkan Melan untuk meliburkan semua karyawan perusahaan.
Julia dan Gian datang tergesa-gesa, begitu panik wajah Julia karena yang ia tahu jika sekarang bukan jadwal Linda untuk melahirkan.
Sementara itu, Alan terus mengusap wajah istrinya. Tangan Linda di genggam erat tak mau di lepas. Linda terus mengatur nafas sesuai arahan dari Dokter.
"Kuatlah, kuatlah sayang!" lirih Alan.
Terus mengerahkan sisa tenaga, pada akhirnya suara tangis bayi pecah memenuhi ruangan. Alan terkulai lemas, kakinya masih bergetar karena lelaki ini merasakan begitu kuatnya tenaga sang istri ketika melahirkan anak mereka.
__ADS_1
"Terimakasih sayang. Terimakasih sudah melahirkan anak kita!" bisik Alan lalu mencium seluruh wajah istrinya.
"Kau menangis kah?" tanya Linda yang tidak pernah melihat suaminya menangis.
Buru-buru Alan mengusap air matanya, "Tidak, ini hanya keringat saja.Lihat, dia sangat tampan seperti ku!" bohong Alan.
"Dia anak ku!" seru Linda.
"Dia juga anak ku!" balas Alan.
Setelah bayi laki-laki mungil tersebut di bersihkan, Dokter melegakannya fi atas dada Linda. Linda kembali menangis haru, untuk yang pertama wanita ini menyentuh seorang bayi.
"Oh, dia begitu tampan!" puji Linda.
"Heh, siapa dulu pabriknya?" msih sempatnya Alan membanggakan diri.
Selang beberapa waktu, Linda juga akan di pindahkan ke ruang rawat yang sudah di siapkan dari jauh hari. Alan menyerahkan anaknya pada Dokter sebentar karena laki-laki ini ingin menemui Gian.
"Bagaimana keadaan Linda?" tanya semua orang ketika Alan keluar dari ruangan.
"Baik-baik saja. Gian, aku ingin bicara pada mu!"
Dengan wajah dingin Alan sedikit menjauh dari keramaian. Melan mulai merasa curiga dengan sikap kakaknya.
"Ada apa?" tanya Gian penasaran.
"Gara-gara berita tidak bermutu itu aku hampir saja kehilangan istri dan anak ku. Tangkap dia!" titah Alan yang langsung di mengerti oleh Gian.
"Bukan anaknya, tapi ibunya. Dia hanya ingin anak perempuannya di bebaskan!" ujar Gian membuat Alan berpikir kembali.
"Memang brengsek!" umpat Alan.
"Hancurkan usaha mereka!" titah Alan kemudian berlalu pergi.
Tidak, Alan tidak akan memanas perbuatan orang yang tidak mengusik terlebih dulu. Namun, tiba-tiba ssja Diana menyuruh orang untuk menyebarkan berita tentang Linda agar Linda kembali di benci orang banyak. Jika begitu, Linda memiliki rasa takut lalu membebaskan Vina.
__ADS_1