Janda Kesayangan Tuan Alan

Janda Kesayangan Tuan Alan
77.Biarin Aja


__ADS_3

"Aku benar-benar lelah!" keluh Linda yang baru saja mendaratkan bokongnya di sofa kamar. Dengan cekatan Alan langsung memijat kaki istrinya.


"Betah sekali dia didalam sana, kapan kau akan keluar sayang?" Alan mengusap perut buncit istrinya.


"Aku tidak habis pikir, mamahnya Davin seperti memiliki dendam pada ku. Kata-katanya terlalu menyakitkan!" ujar Linda.


Alan menatap wajah istrinya, "Kata mu, tidak usah di pikirkan. Kenapa masih di pikirkan?"


"Aku seorang wanita dan sedang mengandung. Jujur saja, aku sedikit takut jika sewaktu-waktu aku kenapa-kenapa!"


Alan mengusap wajah istrinya lalu berkata, "Selama aku berada di samping mu. Kau akan tetap baik-baik saja!"


Beda lagi dengan Alan dan Linda, Diana mengomel tanpa sebab di ketika pulang ke rumah. Meskipun kehidupan keluarga mereka sudah membaik berkat usaha keras yang di lakukan anak dan suaminya.


"Mah, sejak tadi bahas Linda, Linda, dan Linda. Ada apa mah?" tanya Robby yang pusing sendiri.


"Mamah heran deh pah, kok bisa aja perempuan yang sudah menghancurkan keluarga kita itu masih hidup. Mana perutnya udah besar lagi,"


"Mah, kalau bicara jangan sembarangan!" tegur Davin yang tidak suka dengan ucapan mamahnya.

__ADS_1


"Biarin aja. Nyatanya memang begitu kok!"


"Kita punya Vina mah, bicaralah yang baik-baik. Jika hal tersebut terjadi pada Vina bagaimana?" tanya Davin namun Diana yang keras kepala kekeh dengan ucapannya.


"Vina itu anak terdidik. Tidak seperti Linda yang mencuri harta kita juga menghancurkan segalanya!"


"Mah, sudahlah. Di posisi ini keluarga kita yang salah. Berhenti menyalahkan Linda," ujar Robby yang mulai pusing dengan istrinya.


"Halah, kalian sama saja. Kamu Davin, kenapa sih kamu belain Linda terus?"


"Davin gak belain Linda mah. Davin juga merasa bersalah pada Linda yang pernah menyakitinya dulu,"


Apa kabar Airin dan Vina, kedua perempuan itu sedang menjalani hukuman penjara selama lima tahun. Sudah pasti nampak kurus, Vina masih belum merima jika dirinya harus di penjara seperti ini.


"Berhenti menangis Vina. Kau membuat telinga ku tuli...!" sentak Airin.


"Aku mau bebas!" ucap Vina dengan suara seraknya.


"Aku juga ingin bebas. Masih ada waktu empat tahun lebih lagi untuk kita bebas. Jadi, hentikan tangis mu,"

__ADS_1


"Aku tidak suka makanan di sini, aku tidak suka tempat tidur di sini. Aku ingin bebas!" Vina kembali menangis.


Airin menarik nafas panjang, ingin sekali menjambak rambut anak manja yang satu sel dengannya ini.


"Mental lemah tapi kau sok jago ingin menjatuhkan orang lain. Dasar lembek!" cibir Airin namun tidak di hiraukan oleh Vina.


Dua hari kemudian, Davin tidak sengaja melihat mantan istrinya bergandengan tangan yang sedang masuk ke dalam toko kue. Itu adalah Linda, hampir dua hari sekali wanita ini pergi ke toko kue bersama suaminya.


"Perempuan yang hujat dulu, bahkan kau tidak memberinya makan karena dia sudah sangat gemuk. Bagaimana, apa kau menyesal sekarang?" tanya Aldi yang masih ingat betul kejadian malam itu.


"Linda semakin cantik, jika boleh aku merebutnya kembali bagaiman?" Davin meminta pendapat pada Aldi.


"Tuan Alan sudah mengubahnya menjadi seorang ratu. Lalu kau datang untuk menjadikannya babu. Sadarlah Davin, kau hanya tertarik pada kecantikannya saja. Tapi, jika kau merebutnya kembali, apa Linda mau kembali bersama mu?"


"Jelas tidak, Alan lebih segalanya di banding aku. Tapi, kita mana tahu hati seseorang. Siapa tahu jika Linda hanya memanfaatkan Alan saja?"


"Kau ini asal bicara saja. Alan menerima Linda apa adanya, bahkan dia tidak memandang status Linda yang sudah pernah menjadi mantan istri mu. Apa kau tidak malu jika harus mengemis perhatian dari Linda?"


Davin terdiam, setiap kata-kata yang keluar dari mulut Aldi terdengar jelas mengena di hati. Davin tidak bisa berbuat banyak, jika dulu Davin suka menghina Linda, namun sekarang Davin sangat mengagumi kecantikan mantan istrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2