Janda Kesayangan Tuan Alan

Janda Kesayangan Tuan Alan
62.Halah


__ADS_3

"Sudah ku bilang, aku mau membantu asal keluarga mu memberikan apa yang sudah di janjikan sebelumnya. Ingat Davin, itu bukan hak kalian!" tutur Alan panjang lebar, "Masalah adik mu, maaf jika kami tidak bisa mencabut laporannya!"


"Kau sudah sangat kaya, kenapa sepertinya kau kekeh ingin meminta saham perusahaan kami. Menurut ku, Linda juga tidak memerlukannya!"


Alan tertawa renyah, menatap pria yang tanpa malu di hadapannya ini, "Mau Linda memerlukan atau tidak, itu urusan dia. Di sini aku hanya ingin kau dan keluarga mu memberikan hak Linda lalu meminta maaf pada istri ku," ujar Alan kemudian pergi begitu saja.


Davin mengepalkan ke dua tangannya marah. Hanya karena seorang Linda kini keluarganya menjadi kacau. Tak punya tujuan, pergi ke kantor juga percuma karena sudah tutup. Pada akhirnya Davin memutuskan untuk pulang ke rumah.


"Bagaimana Davin?" tanya Robby.


"Gagal pah!" jawab Davin lesu, "Alan tetap kekeh meminta sebagian yang sudah papah berikan pada keluarga Linda,"


"Apa sih hebatnya Linda itu, kok bisa si Alan nurut sama dia?" Diana bingung memikirkannya.


"Demi kebaikan kita, papah akan memberikannya pada Linda," pada akhirnya Robby mengalah.


"Pah, jangan bodoh!" seru Diana.


"Mau bagaimana lagi mah?" tanya Robby bingung, "Kita sudah tidak memiliki pemasukan, Vina di penjara karena ulahnya. Kalian semua bikin papah pusing aja!" Robby meninggikan suaranya membuat Davin dan Diana terdiam.


Sedangkan Alan, pria yang baru pulang ini langsung mencari istrinya sambil membawa berbagai macam manisan yang di minta Linda tadi pagi. Linda dan Melan ada di ruang keluarga, hangat rasanya hati Alan melihat istri dan adiknya akur seperti ini.


"Sayang, aku pulang!" seru Alan membuat Linda langsung bergelayut manja pada suaminya.


"Ini pasti pesanan ku!" tebak Linda.


"Iya, kamu pasti suka," ujar Alan lalu menyerahkan bungkusan yang dia bawa pada bibi untuk di siapkan.


"Kak, Melan liburnya dua minggu ya," gadis itu memohon.


"Tidak, waktu mu hanya satu tahun Melan. Lagian, untuk apa kau libur lama-lama?"


"Aku masih rindu kalian!" alasan Melan.


"Tidak!" tegas Alan membuat adiknya sedikit marah.


"Suami mu itu pelit," bisik Melan pada Linda.


"Jangan menghasut," kata Alan.


"Aku sumpahkan anak kakak mirip aku!" ucap Melan langsung membuat Alan tidak terima.


"Sudah sayang, jangan ganggu Melan. Sini, aku ingin rebahan!" ujar Linda langsung di turuti oleh Alan.


"Aku heran, kenapa mulut mantan suami mu itu semuanya jahat. Mereka berusaha menghasut ku untuk membenci mu." Alan memberitahu istrinya.

__ADS_1


"Benarkah? Lalu, apa kau membenciku?" tanya Linda.


"Tidak mungkin," jawab Alan, "Malam ini, kita akan kedatangan tamu!"


"Siapa kak?" tanya Melan penasaran.


"Lihat saja. Aku harus menelpon Julian dan Gian untuk datang malam ini," kata Alan semakin membuat Linda dan Melan penasaran.


Benar saja, selesai makan malam Alan dan Linda kedatangan tamu yang tidak di undang. Mereka menyambut hangat, namun salah satu dari tamu itu tidak mau berjabat tangan dengan Linda siapa lagi kalau bukan Diana.


Sejak awal masuk, mata Diana jeli memandang ke sekeliling rumah Alan.


"Pertunjukan seru lagi," bisik Julia pada Gian.


"Ngapain mereka ke sini?" tanya Melan pada Gian.


"Tidak tahu, mari menonton!" ujar Gian lalu mereka bertiga menyusul Alan dan Linda ke ruang tamu.


"Om dengar kamu sedang hamil, selamat ya Linda," ucap Robby sekedar basa basi.


"Terimakasih om,"


"Halah, paling juga anak laki-laki lain," celoteh Diana membuat Alan dan Linda geram.


"Tolong jaga bicara anda. Jika tidak suka, silahkan pergi dari rumah ku!" usir Alan.


"Perasaan satu keluarga mulut lemes amat ya," celetuk Julia.


"Begini Alan, kedatangan kami ke sini untuk meluruskan satu masalah....!"


"Langsung pada intinya pak Robby!" Alan memotong ucapan Robby.


"Intinya kami kami akan memberikan tiga puluh lima persen saham perusahaan asal kamu bersedia membantu kami," ujar Robby.


Alan menoleh ke arah istrinya, "Bagaimana sayang?" tanya Alan.


"Kenapa harus meminta pendapat Linda, dia pasti akan setuju?" ujar Diana.


"Mah, bisa tenang tidak?" Davin menekan pada mamahnya.


"Maaf tante, sebagai orang yang jauh lebih tua, kenapa tante tidak memiliki etika sopan santun dalam bertamu?" tanya Linda yang mulai jengah.


"Ya ampun, kamu di sini juga masih numpang kok malah ngatur!" cibir Diana hanya bisa membuat Davin menarik nafas panjang.


"Wah, mulut anda ini belum pernah di bor ya?" ujar Julia membuat Gian dan Melan tertawa.

__ADS_1


"Mah sudah, kita ini tamu!" tegur Robby pada istrinya, "Maaf Alan, bagaimana?" tanya Robby pada Alan.


"Bagaimana sayang?" tanya Alan pada istrinya sekali lagi.


"Terserah pada mu!" jawab Linda yang pasrah.


"Besok, anak buah ku akan mengurusnya. Kalian bisa pulang sekarang!" ujar Alan langsung membuat hati Davin dan Robby lega namun masih berat memberikan saham tersebut.


"Terimakasih Alan. Terimakasih banyak!" ucap Robby.


"Terimakasih Alan, terimakasih Linda!" ucap Davin.


"Tidak perlu berterimakasih pada Linda. Dia hanya pembawa masalah!" ucap Diana.


"Ya, tidak usah berterimaksih pada ku. Aku hanya pembawa masalah!" sahut Linda yang benar-benar geram.


"Didik lagi mamah mu!" seru Alan pada Davin membuat Davin merasa tidak enak hati.


"Ni ibu-ibu kebanyakan makan rudal. Makanya mulutnya selalu panas pengen meledak!" ujar Julia lagi-lagi membuat Gian dan Melan tertawa. Sedangkan Linda dan Alan masih berusaha menahan tawa mereka.


"Babu aja cuma bisa ngatain orang!" seru Diana pada Julia.


"Duh, anak mu yang di penjara noh di urusin!" sahut Julia semakin membuat Diana panas.


"Mah sudah mah. Malu,...!" ujar Davin langsung membawa mamahnya keluar dari rumah Alan.


Ketika keluarga Davin pergi, tawa mereka lepas. Pusing yang di tahan Linda sejak tadi seakan lenyap begitu saja.


"Kak Julia ini berani. Aku harus belajar banyak sepertinya!" ucap Melan.


"Aku yakin tante Diana akan mengoceh sepanjang perjalanan," ujar Linda.


"Untung orang tua, jika dia seumuran ku sudah pasti akan ku geprek!" kata Julia yang benar-benar geram.


"Gaji mu akan ku naikan!" seru Alan, "Gian, ikut aku ke ruangan kerja,"


"Em, baiklah!"


"Sayang, main bersama mereka dulu ya," ucap Alan pada istrinya.


"Seperti anak kecil saja!" protes Linda.


"Mereka memang seperti anak kecil. Jadi, kau berhati-hati dengan Melan dan Julia," bisik Alan agar tak terdengar adiknya.


Linda hanya bergeleng kepala dengan sikap suaminya.

__ADS_1


"Kita ke ruang keluarga saja kak, jangan pedulikan mereka. Jika sudah berada di ruangan terkutuk itu pasti lama," ujar Melan.


Sama saja, Melan ketemu dengan Julia sangat cocok sekali. Mulut mereka sangat ramai dan Linda suka hal seperti ini. Baru sekarang Linda merasa memiliki teman yang bisa di ajak bercanda.


__ADS_2