Janda Kesayangan Tuan Alan

Janda Kesayangan Tuan Alan
97.Dia Masih Bayi


__ADS_3

Begitu sedihnya Linda, karena hari ini dirinya harus di tinggal oleh Melan yang akan melanjutkan sisa pendidikannya dan Julia yang akan pergi bulan madu bersama Gian yang sudah resmi menjadi suaminya.


Ketiga wanita ini saling berpelukan di bandara. Melan juga sangat berat meninggalkan keponakannya ini.


"Tunggulah aunty mu ini Hansel. Aunty janji akan segera pulang!" ucap Melan sambil mencium keponakannya.


"Kau sangat suka pada anak kecil. Kita bisa membuatnya nanti setelah kita menikah!" ujar Gibran langsung mendapatkan tatapan tajam dari Alan dan Gian, "hanya bercanda kak, jangan di ambil serius!"


"Sini gantian," ujar Julia lalu mengambil baby Hansel dari gendongan Melan, "Aunty juga akan segera pulang Hansel. Tunggu kami yang akan membawakan mu banyak oleh-oleh."


"Salah satunya teman bermain nanti," sahut Gian.


"Hah, teman bermain?" Julia tidak paham maksud suaminya.


"Jangan dipikirkan. Kau bisa gila nanti," ujar Linda.


Masing-masing dari mereka mulai masuk kedalam bandara, sedangkan Alan dan Linda hanya bisa melambaikan tangan mengantar kepergian mereka berempat.

__ADS_1


"Kau terlihat sedih, apa kau ingin pergi liburan juga?" tanya Alan pada istrinya.


"Tidak, nanti saja jika Hansel sudah bisa berjalan." Tolak Linda.


"Ya sudah, mari kita pulang!" ajak Alan yang jika kemana-mana lebih suka menggendong anaknya sekarang.


Kini, kehidupan rumah tangga Alan dan Linda sudah mulai tenang dan damai. Tidak ada lagi orang jahat yang mengusik rumah tangga mereka. Orang-orang yang pernah membully dan merendahkan Linda juga sekarang jauh lebih sungkan pada wanita ini.


Lalu, bagaimana kabar keluarga Davin, sejak Alan membuang mereka keluar negeri dan mencabut hak berpergian mereka, keluarga Davin mulai bejalan bagaimana menjalani hidup dengan saling menghargai.


Meskipun Alan membuang mereka ke negara lain, Alan tetap mencukupi kebutuhan mereka. Alan memberi fasilitas rumah dan tempat usaha untuk menyambung hidup.


"Mamah juga merasa lebih bisa menikmati hidup. Hidup apa adanya tanpa memiliki rasa iri dan dengki ternyata jauh lebih damai," timpal Diana, "Lihat adik mu, dia juga bisa menjadi lebih mandiri sekarang!"


Sejak pindah, Vina mulai belajar cara menghargai orang bahkan Vina sekarang juga bisa lebih ramah. Gadis ini juga membantu kakaknya dalam mengelola restoran, karena pada saat itu Alan tahu jika keluarga Davin lebih mendominasi berbisnis di dunia kuliner dari pada bisnis lainnya.


Kabar Airin, Hellen dan ibunya, sebagai hukumannya Alan membuang mereka secara terpisah. Sejak mengalami kekerasan dari anak buah Alan, ibu Hellen mendadak gila dan sekarang di rawat di rumah sakit jiwa yang berada di salah satu kota terpencil.

__ADS_1


Hellen sendiri sangat tersiksa hidupnya, mata wanita ini di buat buta sebelah. Tubuhnya banyak yang cacat hingga membuatnya Depresi. Hellen sengaja di buang di tempat kumuh begitu juga dengan Airin yang memiliki nasib tak jauh berbeda dari Hellen.


"Sayang, sudah lama kita absen. Apa kau tidak merindukan bergoyang bersama ku?" tanya Alan yang sudah tidak tahan lagi.


"Heh, ada anak mu bicara seperti itu."


"Dia masih bayi, mana mengerti kita ngomong apa?"


"Tapi tetap saja itu tidak baik jika di dengar anak mu!"


"Jadi aku harus bagaimana, apa kau tidak kasihan pada suami mu ini?" gerutu Alan.


"Tunggulah beberapa hari lagi. Mungkin akan selesai," ujar Linda.


"Hansel, lihat mommy mu. Dia sudah berkorban banyak untuk mu. Jika kau besar nanti menyakiti hatinya, akan ku gantung kau di pilar depan!"


Plaaaak....

__ADS_1


Linda menepuk kaki suaminya.


"Kalau bicara suka begitu. Ajarkan anak yang baik-baik!"


__ADS_2