
"Aku datang ke sini hanya untuk melihat bagaimana keadaan orang yang sudah membuat hati istri ku sakit. Jadi, apa yang kau rasakan sekarang?" tanya Alan dengan wajah dinginnya.
"Bebaskan aku Alan. Apa kau lupa jika kita pernah berteman?" Airin memohon.
"Apa kau juga lupa jika aku sudah memperingati mu untuk tidak mengganggu istri ku!" ujar Alan dengan sudut bibir terangkat, "Dan kau," tunjuk Alan pada Vina yang duduk memeluk kedua kakinya, "Keluarga mu sudah bangkrut. Orang tua mu tidak akan mampu membayar pengacara untuk mu. Di banding Airin, kau lah orang yang akan paling tersiksa di tempat ini," tutur Alan panjang lebar.
"Dasar brengsek!" umpat Vina, "Kau hanya berani melawan perempuan lemah seperti kami," ucap gadis yang nampak kurus itu.
"Perempuan lemah?" Gian mengulangi perkataan Vina, "Bukankah kau nampak kuat ketika membully orang lain,lalu kenapa sekarang kau menganggap diri mu lemah?"
Vina terdiam, sekuat apa pun dirinya melawan nyatanya akan kalah juga.
"Alan, ku mohon bebaskan aku. Aku minta maaf, aku akan minta maaf pada Linda. Jika bukan karena Vina, tidak mungkin aku akan seperti ini."
"Dasar perempuan ******! sekarang kau malah menyalahkan ku?" tanya Vina geram, "Bukankah kau sendiri yang ingin menghancurkan rumah tangga mereka agar kau bisa menikah dengan Alan!" .
Alan dan Gian tidak peduli, mereka kemudian langsung pergi. Alan hanya mampir sebentar untuk memastikan orang-orang yang sudah menyakiti istrinya perlahan menderita.
Di tempat yang berbeda, Linda dan Julia sedang berada di cafe yang berada tak jauh dari kantor. Meskipun sedang hamil namun Linda tidak ingin terlalu di manjakan berlebihan oleh suaminya.
"Astaga Linda, lihat siapa yang masuk!" ucap Julia berbisik.
Linda membuang nafas kasar, suasana hatinya langsung berubah buruk.
"Mau apa kau ke sini?" tanya Linda acuh.
__ADS_1
"Linda, aku tahu kau pasti di sini," ujar Davin, "Lin, aku mohon agar kau bisa bicara pada Alan untuk kembali membantu perusahaan ku. Ku mohon!"
"Davin, aku tidak tahu apa yang sudah mamah mu ucapkan beberapa waktu lalu. Yang jelas itu sangat menyinggung Alan. Maaf, aku tidak bisa membantu mu!"
"Dasar keluarga tidak tahu malu!" cibir Julia, "Apa kalian lupa bagaimana perlakuan kalian pada Linda dulu hah?"
"Diam kau!" bentak Davin, "Dasar babu!"
Linda tertawa, mengusap perut yang mulai membuncit, "Ternyata mulut mu masih sama seperti dulu. Masih suka merendahkan orang lain."
"Aku memang babu, setidaknya aku tidak pernah mengemis pada orang yang pernah aku sakiti," singgung Julia.
Jengah, Linda dan Julia memutuskan untuk pergi meskipun Davin terus mengikuti dari belakang.
"Bajingan itu masih mengikuti kita," ujar Julia.
Mobil Davin langsung lurus ketika melihat mobil Alan yang beriringan masuk ke dalam kawasan perusahaan. Nyali nya seakan menciut ketika melihat Alan.
"Sayang, kau dari mana?" Alan langsung merangkul pinggang istrinya.
"Habis makan di cafe depan," jawab Linda.
"Wah, anak daddy sudah makan ternyata," ucap Alan sambil mengusap perut istrinya.
"Duh, jadi pengen menikah," kata Julia yang baper sendiri.
__ADS_1
"Hih menjijikan!" sahut Gian.
"Diam kau!" sentak Julia tidak terima.
Mereka sama-sama masuk, Julia yang benar ceriwis langsung mengadu pada Alan. Tentu saja Alan marah, sudah bisa di tebak oleh Linda.
"Apa ku bilang, mantan suami mu itu pasti akan mengemis pada mu," ucap Alan geram.
"Bahkan dia mengatai ku babu tuan!" ujar Julia dengan wajah yang dibuat sedih.
"Kita babu sultan. Kenapa kau harus sedih?" tanya Gian.
"Aku kan hanya bercanda!" seru Julia.
"Sayang, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" tanya Linda penasaran.
"Hanya ingin melihat mereka meminta maaf pada mu di depan publik. Selama ini orang-orang hanya
selalu menganggap mu salah. Aku tidak ingin istri ku di pandang jelek di luar sana," ujar Alan membuat Linda terharu.
"Manisnya, kapan aku menemukan jodoh semanis tuan Alan yang mencintai dan menerima pasangan apa adanya?" Julia berangan.
"Tidurlah, maka kau akan mendapatkan segalanya!" sahut Gian membuat Linda dan Alan tertawa namun tidak bagi Julia.
...***Yuk mampir di novel baru ya***...
__ADS_1