
Rista ikut turun, ia berjalan di belakang Presdir. Seorang karyawan datang menyapanya.
"Silahkan pilih!" Darren memberikan perintah kepada Rista.
"Saya, Tuan!" menunjuk diri sendiri.
"Iya, sebagai bonus untukmu!"
"Anda tidak berbohong, kan?"
"Apa kau melihat aku seperti itu?" Darren balik bertanya.
Rista menggelengkan kepalanya.
"Aku beri waktu lima menit untuk memilih mobil," ucap Darren.
Rista dengan cepat melihat-lihat karena waktu terbatas akhirnya ia memilih mobil yang tidak terlalu besar sesuai dengan dirinya.
"Waktu sudah selesai, jadi kau memilih yang mana?" tanya Darren.
"Ini, Tuan!" menunjuk mobil berwarna merah.
Darren pun membayar transaksi, setelah itu mereka pulang.
"Tuan, terima kasih!" ucapnya.
"Ya."
"Tuan, aku lupa!"
"Lupa apa?"
"Aku belum terlalu mahir membawanya, bagaimana ini?"
"Belajarlah!"
"Tapi aku tidak ada waktu untuk belajar menyetir," ungkap Rista.
"Terserah kau saja, kapan mau belajar menyetir. Aku sudah memenuhi janjiku," ujar Darren.
-
-
Tak lama Rista tiba di rumahnya, mobil yang dibelikan datang.
"Mobil siapa?" Elisa merasa heran.
"Punya aku, Bu!"
"Kau punya uang banyak?"
"Aku dibelikan sama Tuan Darren."
"Dia siapa? Apa kekasihmu? Jangan bilang kau istri simpanan atasanmu," tuding Elisa.
"Tuan Darren membelikan aku mobil karena kinerja kerjaku sangat memuaskan," jelas Rista.
"Oh, begitu."
"Nona, ini kunci dan surat-suratnya. Selamat pakai," ucap karyawan toko mobil.
"Ya, terima kasih!" Rista tersenyum.
"Ayo kita coba, Nak!" ajak Elisa setelah karyawan telah pergi.
"Ma, aku belum terlalu mahir."
"Panggil Sella, biar dia yang bawa!"
"Ibu benar, baiklah aku akan memanggilnya!" Rista pun menelepon sahabatnya itu.
__ADS_1
Sejam kemudian Sella datang, ia begitu terpukau dengan mobil pemberian Presdir Arta Fashion. "Ternyata dia bos yang baik!" pujinya.
"Karena aku sudah bekerja keras," Rasti keluar dengan rambut masih dibalut handuk.
"Ayo, Nak. Kita jalan-jalan biar Sella yang membawanya," ajak Elisa.
"Baiklah, aku akan bersiap-siap," ujar Rista.
Tak sampai 30 menit dan hari sudah gelap, Rista pergi menikmati jalan-jalan dengan mobil bersama ibu dan sahabatnya itu.
"Aku sudah lama tidak membawa mobil," ujar Sella.
"Kau yakin bisa?" tanya Rista.
"Kita coba pelan-pelan, ya!" Sella melajukan kendaraannya dengan kecepatan lambat.
Hampir 15 menit, mereka berputar-putar. Akhirnya Rista kembali mencoba dengan bimbingan Sella.
Beruntung jalanan tidak terlalu ramai, makanya ia mau belajar menyetir.
Rista mulai mengendarai mobil dengan pelan-pelan karena kurang fokus dan hati-hati ia menabrak mobil orang lain. "Gawat!" ucapnya.
"Bagaimana ini, Rista?" Elisa tampak ketakutan. "Orangnya kemari!" Lanjutnya.
"Tante, tenang saja. Biar aku yang bicara," ujar Sella.
Jendela pun diketuk, Sella keluar menemui pengendara mobil yang ditabrak. "Maaf, Tuan!"
"Aku ingin bicara dengan pengemudinya," ujar pria itu.
"Bicara dengan saya saja, Tuan. Dia lagi belajar menyetir," jelas Sella.
"Jadi, kau yang mengajari dia menyetir?"
"Iya, Tuan."
"Kalau tidak bisa mengajarinya, tak usah jadi guru!"
"Kau lihat itu!" Ia menunjuk bagian belakang mobil.
"Ini hanya kerusakan kecil, tidak terlalu berat," ucap Sella santai.
"Mana kartu namamu?"
"Untuk apa?"
"Aku ingin meminta ganti rugi," jawabnya.
"Tidak bisa, Tuan. Kami tidak sengaja," Sella tak mau kalah.
"Memangnya ada kecelakaan disengaja, jikapun ada itu artinya ada dendam!"
"Sini ponselmu!"
"Untuk apa?"
"Agar kau tahu nomor ponselku dan meminta ganti rugi," jawab Sella.
Pria itu memberikannya, Sella menekan nomor teleponnya lalu menyambungkannya ke ponselnya. "Anda lihat tersambung, kan?"
"Ya."
"Kabari biaya perbaikannya, saya rasa ini tak sampai menghabiskan gaji anda setengah bulan. Tapi, jika Tuan hanya sopir pribadi, itu cukup memberatkan."
Pria itu menyipitkan matanya, "Kau pikir aku tak mampu membayar perbaikan ini!"
"Kalau anda mampu, kenapa minta pada saya?"
Pria itu mendengus kesal, "Payah bicara dengan wanita sepertimu. Ku berharap tidak bertemu denganmu!"
"Aku juga!"
__ADS_1
Pria itu pun berlalu, sementara Sella mengulum senyum. Ia kembali masuk ke dalam mobil.
"Apa dia marah? Atau minta ganti rugi?" cecar Rista.
"Tidak jadi, rusaknya tak terlalu parah. Jadi kau tenang saja!" jelas Sella.
"Syukurlah!" ucap Elisa lega.
Begitu sampai rumah, Rista bergegas turun melihat kondisi mobilnya pasca insiden kecil. Rista tersenyum lega, kalau kendaraan pemberian Darren tidak mengalami kerusakan parah.
Ponsel Sella berdering, ia lalu menjawabnya. "Halo!"
"Halo, Nona. Besok pagi aku akan ke bengkel dan mengirim tagihannya. Anda tidak bisa lari karena nomor ponsel ini sudah ku simpan, jika berani macam-macam kau akan tahu akibatnya!"
"Kau mau mengancamku? Aku tidak takut, baiklah ku tunggu tagihannya." Sella lalu menutup teleponnya.
"Siapa?" tanya Rista.
"Pria yang mobilnya, kau tabrak mengancamku!" Sella menggigit kukunya. "Kau harus mengganti rugi biaya perbaikan," lanjutnya.
"Memangnya berapa?"
"Aku tidak tahu," jawab Sella.
"Sudahlah, besok kita pikirkan lagi. Sekarang waktunya tidur, aku sangat mengantuk!" ujar Rista.
...----------------...
Keesokan paginya, Rista berangkat ke kantor menggunakan bus karena dia belum berani menyetir sendiri.
Sementara Sella masih berada di rumah Rista sambil menunggu pesan dari pria yang kemarin tak sengaja sahabatnya itu tabrak.
Pukul 10 pagi sebuah pesan masuk, kalau pria itu memberikan alamat bengkel dan total nominal biaya.
Sella menghubungi Rista dan meminta transferan uang dan sahabatnya itu pun mengirimkannya.
Sella harus pergi ke bengkel karena pria itu ingin dirinya membayar langsung. Terpaksa ia pun pergi menggunakan motor ke sana.
Begitu sampai, ia menghampiri pria yang kemarin. "Aku sudah di sini!"
"Kau datang juga, ku pikir mau mencoba kabur."
"Aku bertanggung jawab dengan ucapanku!"
"Silahkan bayar di sana!" pria itu menunjuk ke kasir.
Sella pun membayar tagihannya, setelah itu ia kembali menghadapnya. "Aku sudah membayarnya, tolong hapus nomor ponselku!" Ia menyerahkan secarik kertas.
Pria itu meraih kertas tersebut.
"Semoga kita tidak bertemu lagi!" ucap Sella lagi.
"Aku pun berharap demikian!" Pria itu menarik sudut bibirnya.
Sella pun meninggalkan bengkel baru beberapa meter motornya mogok, ia berusaha menghidupkan mesin kendaraannya namun gagal.
Ia membuka ponselnya melihat saldo rekening ternyata hanya sedikit, tak mungkin minta lagi kepada kedua orang tuanya.
Ia ingin menghubungi Rista namun diurungkan takut mengganggu waktu kerja temannya. Ia pun akhirnya duduk di pinggir jalan sambil memandangi motornya.
Suara klakson mengejutkan Sella, ia melihat mobil yang berhenti di dekat motornya. Seorang pria turun dari kendaraan itu menghampirinya.
"Kenapa dengan motormu?"
"Bukan urusanmu, lebih baik pergi sana!" usirnya.
"Apa kau tidak butuh bantuan?"
"Tidak, terima kasih!" jawab Sella ketus.
"Baiklah, aku pergi. Kalau kau tidak butuh bantuan!" Pria itu pun pergi, sebelum masuk ke dalam mobil ia mengangkat panggilan telepon. "Aku segera ke sana, Na!" ia lalu menutup teleponnya dan berlalu.
__ADS_1