
Hari ini adalah hari bahagia buat keluarga besar Rey dan Roland karena mereka akan menjadi besan. Ya, Rayi dan Talitha resmi menikah.
Para tamu dari kalangan artis, pejabat dan pengusaha hadir dalam acara bersejarah bagi kedua insan itu.
Keluarga besar Devan Artama turut hadir memberikan selamat apalagi jika istrinya dan Raya adalah saudara sambung.
Yuno dan Natasha juga turut hadir memberikan selamat kepada kedua pengantin.
Namun, Darren datang seorang diri karena Rista menolaknya dengan alasan belum siap untuk bertemu dengan keluarga besar kekasihnya itu. Dan alasan keduanya, jika Neneknya belum juga pulang. Hal itu akan membuat wanita tua itu semakin banyak bertanya.
"Hai Darren, mana kekasihmu?" tanya Rayi.
"Dia tidak bisa ikut, Kak."
"Apa kau belum siap mempublikasikannya kepada kami?" tanya Talitha.
"Ya, Kak. Dia sangat pemalu," jawab Darren berbohong.
"Kalau begitu lain waktu saja kau mengenalkannya kepada kami," ujar Talitha.
"Ya, Kak. Kalian juga sudah mengenalnya sebelumnya," ungkap Darren.
"Benarkah? Di mana kami berjumpa?" Talitha begitu penasaran.
"Kak, lain waktu saja kita mengobrol. Banyak tamu yang ingin memberikan kalian selamat," jawab Darren.
"Ya," Talitha tersenyum begitu juga suaminya.
Darren turun dari panggung pelaminan lalu bergabung dengan keluarganya di satu meja yang sama.
"Rista tidak kamu bawa ke sini?" tanya Clarissa pada putranya.
"Dia masih malu, Ma."
"Oh, begitu. Kamu lihat itu, Yuno sangat serasi dengan Natasha, ya!" kagum Clarissa.
"Ya, Ma." Darren tersenyum tipis.
Sementara itu Yuno dan kekasihnya satu meja dengan kedua orang tuanya. Tampak wajah Yuna tak menyukai sang model berada di dekatnya.
Natasha terlihat tersenyum kaku ketika tak sengaja wajah keduanya saling bertemu.
"Setelah mengantar di pulang, segera kembali ke rumah," ucap Yuna ketus.
"Baik, Ma." Yuno mencoba tersenyum.
"Kalian dari pintu belakang saja, di depan terlalu banyak para wartawan," ujar Yuna lagi.
"Iya, Ma."
Sejam kemudian, Yuno dan Natasha berpamitan. Pria itu mengantarkan kekasihnya pulang.
Begitu sampai Yuno bergegas pulang. Ditengah perjalanan dicegat orang tak dikenal, dua pria turun menggedor jendela mobil secara berulang-ulang membuat Yuno turun.
Begitu Yuno keluar dari mobil salah satu pria memukul perutnya dengan kuat dan melayangkan pukulan di wajahnya membuat dirinya kesakitan.
"Ini peringatan untukmu, jangan berani mendekati Nona Natasha!" salah satu pria berkata tegas.
"Siapa kalian?" tanya Yuno lantang dengan memegang bibirnya berdarah.
"Kami dibayar untuk membuatmu menjauhi Nona Natasha. Jika masih berani mendekatinya, kau akan mendapatkan lebih parah dari ini," jawab pria yang memukul Yuno lalu keduanya pun pergi menggunakan sepeda motor.
Yuno berdiri setelah 2 pria itu menjauh, ia masuk ke mobilnya lalu melesat ke rumahnya.
Begitu sampai rumah, Yuno berjalan menaiki tangga menuju kamar tidurnya. Ia melangkah dengan pelan agar kedua orang tuanya atau pelayan di rumahnya tidak terbangun.
Di kamar ia mengobati lukanya, memandangi cermin dirinya mengingat perkataan 2 orang pria tadi. "Apa mereka suruhan Bibi Nikita?" tanyanya lirih pada dirinya sendiri.
Suara ponselnya berdering tertera nama Natasha, ia pun mengangkatnya dan menjawabnya.
"Kamu sudah sampai rumah?" tanya wanita itu dari kejauhan.
"Sudah baru saja," jawabnya.
"Tidak terjadi apa-apa denganmu, kan?"
"Tidak."
"Syukurlah, entah kenapa perasaanku tadi tidak tenang. Aku senang mendengar jika kamu baik-baik saja," ujar Natasha.
"Aku baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatir," Yuno terpaksa berbohong.
"Ya sudah kalau begitu, aku mau istirahat. Selamat tidur," ucap Natasha.
"Ya, selamat tidur juga," Yuno menutup teleponnya.
...----------------...
Keesokan paginya, Yuno melakukan aktivitasnya seperti biasanya. Ia sarapan pagi bersama kedua orang tuanya.
Yuna melihat wajah putranya tampak memar, ia lantas mendekati dan memegangnya. "Kenapa ini?"
"Ini hanya luka kecil saja, Ma."
"Apa kamu berkelahi?" tanya Vino.
__ADS_1
"Tidak, Pa."
"Jangan berbohong, Yuno. Siapa yang berani melakukan ini kepadamu?" desak Yuna.
"Ma, aku tidak apa-apa. Kalian, jangan khawatir," jawabnya.
"Bagaimana kami tidak khawatir? Kemarin di pesta masih terlihat baik-baik saja, siapa yang menghajarmu?" Yuna begitu penasaran.
"Sudah ya, Ma. Yuno hanya terjatuh saja," jawabnya.
"Di mana? Kapan? Kenapa tidak hati-hati?" sederet pertanyaan Yuna lontarkan pada putranya.
"Sehabis mengantar Natasha, ku terpeleset," jawabnya berbohong.
"Benarkah apa yang kamu katakan?" Yuna bertanya dengan nada lembut menatap wajah putranya.
Yuno tersenyum lalu mengangguk.
Yuna pun membalas dengan senyuman, ia lalu pergi ke dapur mengambil buah potong.
"Papa tidak percaya kamu jatuh, nanti jelaskan yang terjadi," pinta Vino.
"Ya, Pa."
-
-
Seperti biasa, Yuno menjemput Darren di kediamannya. Pertanyaan yang sama juga ditanyakan pria itu kepadanya.
"Kenapa wajahmu memar?" tanya Darren.
"Nanti aku ceritakan," jawab Yuno membukakan pintu untuk sahabatnya itu.
Darren pun mengiyakan, ia lalu masuk ke mobil.
Diperjalanan ke kantor Yuno mulai bercerita kalau dirinya dihajar oleh 2 orang pria tak dikenal sepulangnya dari mengantar Natasha.
"Memangnya mereka suruhan siapa?" tanya Darren.
"Aku tidak tahu, cuma mereka menyuruhku untuk menjauhi Natasha," jawabnya.
"Apa mereka orang suruhan pria yang menyukai Natasha?" tebak Darren.
"Aku rasa tidak, ku curiga kepada Bibi Nikita. Karena dia mengancamku akan menjauhi kami dengan caranya," jelas Yuno.
"Jadi, langkah kau selanjutnya apa?"
"Aku tidak akan memberitahu Natasha yang terjadi. Biar ku ikuti saja permainan Bibi Nikita," jawab Yuno.
"Aku akan hati-hati, bukankah cinta butuh pengorbanan?" Yuno menoleh sekilas atasannya itu.
"Ya, benar. Tapi menurutku kau harus memberitahu Natasha tentang ini," saran Darren.
"Aku tidak mau Natasha dan ibunya ribut tentang ini, biar ku saja yang mencoba meluluhkan hati Bibi Nikita," ujar Yuno.
"Ya, semoga saja ibunya bisa menyadarinya bahwa putrinya berhak bahagia," harap Darren.
"Bagaimana hubunganmu dengan Rista? Apa kau sudah bertemu dengan neneknya?"
"Rista selalu menolakku berkunjung ke rumahnya selama masih ada neneknya."
"Apa alasannya?"
"Rista selalu memberikan alasan yang tidak masuk akal, dia bilang kalau neneknya suka aneh jika melihat pria tampan kadang dia mengatakan kalau wanita tua itu sedang sakit dan dapat menularkan penyakitnya," ungkap Darren.
"Apa kau tidak curiga dengan alasan yang diberikan Rista?"
"Aku mencoba mempercayainya," jawab Darren.
"Apa mungkin neneknya Rista tak menyetujui hubungan kalian?" tebak Yuno.
"Aku juga tidak tahu, tapi apa alasannya dia tak merestui kami?"
"Itu yang harusnya kau cari tahu!"
"Aku akan mencoba mencari tahunya."
"Semoga saja hubungan kalian tidak seperti kami karena dendam masa lalu, aku dan Natasha jadi korban keegoisan mereka," ujar Yuno.
...----------------...
Darren akhirnya mendatangi kediaman Rista tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Ia ingin mencari tahu alasan kekasihnya itu melarang dirinya bertemu dengan neneknya.
Jarum jam masih menunjukkan pukul 7 pagi, Darren mengetuk pintu. Sesuai harapannya, Lusi yang membukakan pintu. Darren menampilkan senyum hangatnya kepada wanita paruh baya itu.
"Kau siapa?"
"Saya atasan Rista, Nek."
"Nek? Kau tahu aku ini neneknya Rista?"
"Ya, Rista sendiri yang mengatakannya," jawab Darren.
"Oh, jadi kau atasannya Rista. Apa jabatanmu di AZ Fashion?" tanya Lusi.
__ADS_1
Darren mengerutkan keningnya.
"Aku bertanya padamu, ku lihat mobilmu sangat mewah pastinya jabatanmu di perusahaan itu sangat tinggi," ujar Lusi.
"Tapi, saya tidak bekerja di AZ Fashion."
"Lalu bekerja di mana?" tanya Lusi.
Belum sempat dijawab, Rista dan Elisa muncul dari dalam rumah.
Lusi menatap ibu dan anak itu dengan tatapan serius.
"Eh, ada temanku di sini. Kenapa tidak telepon kalau mau datang?" Rista tanpa gugup dan terbata.
Darren semakin bingung dengan pernyataan kekasihnya yang menganggapnya hanya teman.
"Dia tidak bekerja di AZ Fashion," ujar Lusi. "Kalian sudah membohongiku," lanjutnya.
"Eh, Ibu, Nek, kami berangkat kerja. Aku sudah terlambat," Rista pun menyalami kedua wanita yang beda usia itu.
Darren hendak berpamitan namun tangannya sudah di tarik Rista menjauh dari Elisa dan Lusi.
"Apa yang kalian sembunyikan dariku?" tanya Lusi setelah mobil Darren pergi.
"Bu, tak ada yang disembunyikan. Ayo masuk, udara sangat dingin sekali di luar sepertinya akan hujan," Elisa menarik lembut tangan ibunya.
Sementara itu, Darren yang sedang menyetir menatap kekasihnya yang kelihatan sangat bingung. "Kenapa kau sangat gugup?"
"Tidak ada." Rista mencoba tersenyum.
"Kenapa tadi nenekmu menyebutkan nama AZ Fashion?"
"Hah!"
"Rista, kenapa dipikiran saat ini kau menyimpan sesuatu yang aku sendiri tak boleh tahu. Apa kalian menyimpan rahasia?"
"Tidak ada, sayang. Mungkin itu perasaanmu saja," jawab Rista.
"Ya, semoga saja itu perasaan aku saja!" Darren tersenyum tipis.
-
Gedung Arta Fashion
Natasha menghampiri ruang kerja kekasihnya sudah 2 hari ini mereka tidak bertemu setelah malam resepsi pernikahan Rayi dan Talitha.
Begitu masuk ke ruangan kerja pria itu, matanya tertuju pada sudut bibir yang masih memerah. "Kenapa ini?" Natasha menyentuh rahang kekasihnya.
"Tidak ada, hanya jatuh."
"Kapan kejadiannya?"
"Kemarin malam."
"Kamu tidak berbohong, kan?" tanya Natasha.
"Tidaklah, sayang."
"Semoga saja ucapanmu itu benar, karena aku takut dengan ancaman yang akan dilakukan Mama kepadamu," ujarnya.
"Tasha, walaupun mamamu mengancamku bahkan menyakitiku. Aku tidak akan menyerah, tapi jika kamu ingin mundur," Yuno menjeda perkataannya. Lalu kembali berkata, "Aku terpaksa akan menjauhimu!"
"Aku tidak akan mundur, begitu juga dengan dirimu. Kita akan sama-sama berjuang, karena aku sangat mencintaimu!" Natasha berkata tegas.
Yuno mengulas senyum mendengar perkataan kekasihnya. "Terima kasih sudah mencintaiku!"
Natasha membalas dengan senyuman, "Aku mau kembali ke studio. Jangan lupa untuk melihatku!"
"Nanti aku akan melihatmu!" Yuno mencoba menampilkan senyum.
"Baiklah, aku menunggumu!" Natasha pun berlalu.
...----------------...
Hari ini Elisa mengajak ibunya berjalan-jalan ke mall terdekat karena hampir sebulan wanita itu menginap belum pernah pergi ke mana-mana.Mengendarai taksi keduanya mengunjungi gedung mewah itu.
Ya, Lusi baru sekali memasuki mall yang baru 10 tahun di bangun itu. Dirinya memang pernah ke kota ini 34 tahun yang lalu saat suaminya tersandung masalah dan harus di tahan dibalik jeruji.
Jarum jam menunjukkan pukul 12 siang, restoran yang berada di dalam mall penuh pengunjung yang datang untuk menikmati makan siang.
Elisa dan Lusi memilih restoran hidangan lokal. Keduanya memesan makanan sembari mengobrol. Setelah pesanan tersaji mereka mulai menikmati.
Hampir 45 menit di dalam restoran mata Lusi tertuju pada 2 wanita yang saling bersenda gurau. Di sekitar wanita itu ada 3 orang gadis muda. Ia mengeraskan rahangnya. "Akhirnya kita berjumpa lagi!" menatap tajam ke arahnya.
"Bu, ada apa?" Elisa melihat tatapan Lusi bukan ke arahnya.
"Ibu mau menghampiri mereka!" Lusi beranjak berdiri dan berjalan sedikit cepat.
"Bu, tunggu!" panggil Elisa ngos-ngosan.
"Kalian berdua harus bertanggung jawab!" Lusi berkata dengan nada marah.
Kedua wanita itu menoleh ke arah Lusi dan terkejut.
"Kau...!" salah satu wanita tampak gugup.
__ADS_1