
Seluruh tamu undangan telah hadir termasuk keluarga besar Artama. Mereka menunggu calon mempelai pria hadir.
Tepat pukul 10 pagi, Yuno memasuki gedung pernikahan. Ia duduk berhadapan dengan ayah kandung calon istrinya.
Walaupun ini acara bahagia putrinya tapi tidak dengan Nikita yang memasang wajah ketus. Ia duduk tak jauh dari suaminya yang kini berhadapan dengan calon menantunya.
Acara pun dimulai, seluruh tampak begitu khidmat mendengarkan nasehat-nasehat pernikahan hingga janji suci diucapkan secara lantang oleh Yuno.
Semua mengucapkan syukur dan lega ketika semua berjalan sesuai dengan harapan.
Natasha dihadirkan setelah ia resmi menjadi istri dari Yuno Anggara. Wanita cantik itu dibalut gaun berwarna putih bertaburan berlian berjalan dengan anggun menampilkan senyum terindahnya.
Yuno meraih tangan istrinya dan berdiri di sampingnya.
"Kau sangat sempurna hari ini!" bisiknya.
Natasha hanya bisa tersenyum mendengar pujian suaminya.
Setelah menandatangani surat-surat pernikahan, mereka diarahkan ke pelaminan yang dibuat dengan dekorasi yang sangat indah.
Keluarga dan saudara memberikan selamat serta berfoto bersama.
Devan dan seluruh keluarga besarnya ikut berfoto bersama dengan pengantin.
"Ini hari bahagia Natasha, cobalah tersenyum sedikit saja!" bisik Daniel di telinga istrinya.
Nikita hanya diam, ia tersenyum tipis ketika para tamu menyapa dan bersalaman dengannya.
Martha yang tahu putrinya itu tidak menyetujui hubungan cucunya mendekatinya. "Jangan membuat malu keluarga kita dengan wajah cemberutmu itu, Niki!"
"Aku tidak menyukainya, Ma." Bisik Nikita.
"Mau tidak mau, kamu harus menerimanya. Natasha adalah cucuku, jangan buat ia bersedih karena ulahmu!" ancam Martha.
"Iya, Ma," jawabnya ketus.
-
Varrel datang bersama Sella, keduanya berjalan beriringan dan memberikan selamat kepada kedua pengantin
Natasha yang melihat keduanya melemparkan senyuman. "Semoga kalian segera menyusul!"
"Hah!" Sella menatap Varrel.
"Memangnya mereka menjalin hubungan?" tanya Yuno pada istrinya.
Sella melambaikan tangannya mengatakan tidak.
"Doakan saja," ucap Varrel tersenyum.
"Ya, semoga saja."
__ADS_1
Tampak juga hadir kedua orang tua Varrel di acara tersebut.
Rista menyapa keluarga dari ayahnya seorang diri tanpa didampingi kekasihnya.
Darren melihat dari kejauhan Rista mengobrol dengan sepasang suami istri yang usianya hampir sama dengan kedua orang tuanya disampingnya juga ada Sella dan Varrel. "Bukankah itu direktur Karisma Fashion?"
Darren berjalan mendekati kekasihnya, namun keempat orang yang bersama Rista melangkah pergi.
Rista membalikkan badannya melihat Darren sudah berdiri dihadapannya.
"Siapa mereka?"
"Tante Tania, adik ayahku."
"Jadi, kau adalah pewaris Karisma Fashion?" Darren bertanya dengan nada dingin.
"Dari mana dia tahu?"
Tak ada jawaban, Darren lantas bertanya, "Aku mau pulang, kau tetap di sini atau bagaimana?" masih dengan ekspresi dingin.
"Aku akan pulang bersamamu," jawab Rista.
Darren melangkah menuju parkiran dan Rista berada di belakangnya.
Di dalam mobil, Darren masih diam sampai mereka meninggalkan gedung pernikahan.
"Sayang, kamu baik-baik saja 'kan?" Rista bertanya dengan hati-hati.
"Apa aku telah melakukan kesalahan?"
"Tidak."
"Darren, tadi kamu tidak seperti ini. Apa karena kamu tahu kalau aku cucu dari pemilik Karisma Fashion, makanya sikapmu berubah?"
Darren menghentikan laju kendaraannya. "Kenapa tidak berkata dengan jujur?"
"Maaf, aku tidak mau hubungan kita hancur jika kau tahu sebenarnya," jawab Rista terbata.
"Karisma Fashion pesaing berat Arta Fashion setelah AZ Fashion, mereka pernah mencuri desain kami dari seorang pengkhianat. Apa kau akan melakukan hal yang sama?" tudingnya.
Rista menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Aku tidak mungkin seperti itu," ujarnya.
"Kau berkata seperti itu karena bersamaku. Apa setelah dirimu duduk di perusahaan, sikapmu akan sama?"
"Darren, aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu. Aku tidak peduli dengan perusahaan itu, bagiku cuma kamu," ungkapnya.
Darren tertawa sinis, "Aku harus memikirkan ulang untuk menikahimu."
Rista menatap wajah Darren dengan perasaan yang sakit, ia memegang handle pintu dan membukanya. Ia pun turun.
Darren ikut juga turun. "Rista!"
__ADS_1
Wanita itu tak memperdulikan teriakan kekasihnya, ia melangkah cepat menjauh dari mobil.
Darren mengejarnya, "Rista!"
Ia tetap berjalan tak menggubrisnya.
"Rista, tunggu!" panggilnya lagi.
Rista membalikkan tubuhnya, "Ada apa? Bukankah kamu bilang akan memikirkan ulang pernikahan kita? Kenapa mengejarku?"
"Ya, aku memang akan memikirkannya."
"Baiklah, jika itu memang keinginanmu. Besok aku akan mengajukan surat pengunduran diri," ujarnya.
"Benar tebakkan aku, kau pasti akan memilih perusahaan itu!"
Rista mendengus kesal, ia kembali melangkah.
Darren masih mengejar, "Aku akan mengantarmu pulang!'
"Tidak perlu!" ucapnya lantang.
-
-
Sementara itu, Yuno dan Natasha kini sedang menikmati masa berdua di dalam kamar hotel yang telah di dekorasi sangat indah.
"Sayang, aku baru tahu jika orang tuanya Varrel adalah direktur Karisma Fashion," ujar Yuno.
"Aku juga baru tahu."
"Benarkah?"
"Ya, karena ku tahu jika Varrel mempunyai usaha bengkel dan kami kenal ketika bersama-sama di komunitas berbagi sesama."
"Oh, begitu."
"Ya, aku juga baru dengar kalau Rista adalah sepupu dari Varrel," ungkap Natasha.
"Itu artinya Rista adalah salah satu pewaris Arta Fashion?"
"Bisa jadi."
"Gawat!"
"Apanya yang gawat?"
"Mereka saling bermusuhan."
"Maksud kamu hubungan Rista dan Darren jadi taruhannya?"
__ADS_1
"Ya."