
Pagi ini Rion memanggil seluruh karyawannya berkumpul.
"Teman-teman sekalian kita hari ini akan kedatangan tamu spesial. Jadi, saya mohon kerjasamanya. Beliau ini sangat pembersih, tolong bersihkan seluruh ruangan VVIP jangan sampai ada debu dan sampah yang tampak," ujarnya.
"Tamunya berapa orang, Tuan?" tanya salah satu karyawan.
"Hanya dua orang saja," jawabnya. "Dia membayar pelayanan kita sangat mahal untuk makan siang ini, jadi bekerja keraslah memberikan yang terbaik buatnya," lanjutnya menjelaskan.
Rista yang mendengar ucapan Rion teringat dengan Darren. "Apa tamu yang di maksud adalah dia?"
"Kalau begitu mulailah bekerja!" titahnya.
"Baik, Tuan!" ucap seluruh karyawan.
Rista dan karyawan yang lain pun melakukan tugas dari atasan mereka. Persiapan di lakukan benar-benar ekstra. Meja harus bolak-balik di lap, ruangan di semprot cairan desinfektan.
Jam sudah menunjukkan waktu makan siang, seluruh karyawan telah bersiap menyambut tamu spesial hari ini. Pakaian yang mereka gunakan rapi, bersih dan wangi.
Rista sudah memakai masker dan sarung tangan berwarna putih, ia hanya menjaga-jaga saja jika tamunya Darren.
Rion melihat Rista berbeda dengan yang lainnya menghampirinya dan bertanya, "Kenapa kau memakai ini?"
"Bukankah Tuan mengatakan jika tamu kita ini pembersih dan harus kelihatan sempurna?"
"Ya."
"Jadi, saya berinisiatif memakai ini."
"Benar juga yang kau katakan," Rion setuju dengan ucapannya. "Kalau begitu, pelayan yang bertugas melayani ruangan VVIP harus menggunakan masker dan sarung tangan," perintahnya kepada karyawannya.
Karyawan yang bertugas melayani tamu spesial pun menggunakan perlengkapan sama seperti Rista.
Tepat pukul 12 siang, dua orang pria dan wanita tiba di restoran. Rista yang melihat kedatangan keduanya jantungnya terus berdetak tak karuan.
Salah satu teman Rista menyajikan hidangan di meja makan sementara dirinya dan 2 orang lainnya berdiri tak jauh dari meja tamu spesial.
Darren mengedarkan pandangannya sekelilingnya, ia menatap ke arah Rista dengan cepat wanita itu menundukkan pandangannya agar tidak diketahui.
Darren kembali menatap wanita yang menemaninya makan siang.
"Restoran ini salah satu tempat makan langganan keluarga kami," ujar wanita yang bernama Sisil.
Darren hanya tersenyum tipis sembari menikmati hidangan.
Tampak mata Rista berkaca-kaca menatap Darren berbicara dengan wanita yang lebih cantik darinya. "Apa sekarang dia sudah mendapatkan penggantiku?"
"Sisil!"
"Ya."
"Aku seperti mengenal salah satu di antara mereka," Darren mengarahkan pandangannya kepada ketiga pelayan.
"Memangnya siapa?"
"Kekasihku, calon istriku," Darren sengaja mengatakannya.
Sisil tertawa kecil, "Anda jangan bercanda, tidak mungkin calon istri anda dari kalangan bawah."
"Salah satu di antara mereka hanya mirip, tapi aku begitu merindukannya." Darren tersenyum.
"Saya pikir anda belum memiliki kekasih, jadi harapan untuk mendapatkan anda sudah tertutup," ucap Sisil.
__ADS_1
Darren hanya tersenyum, ia kembali melanjutkan makannya. Ia menoleh ke arah wanita yang berdiri mencuri pandang kepadanya, namun wanita itu dengan cepat membuang wajahnya ketika mata keduanya saling bertemu.
"Apa anda butuh sesuatu?" tanya Sisil.
"Panggilkan wanita yang berada di tengah itu!" jawabnya.
Sisil pun memanggil Rista yang posisinya berada di tengah.
Rista berjalan dengan perasaan gugup mendekati meja makan.
"Tolong, tuangkan air putih untuk ku!" perintah Darren.
Rista mengangguk pelan tanpa suara ia menuangkan air ke dalam gelas.
Darren mencium aroma parfum wanita yang melayaninya persis seperti Rista. Bentuk tubuh dan jemarinya juga hampir sama.
Setelah menuangkan air, Rista kembali bersama dengan temannya. Ia segera menundukkan pandangannya, ia berusaha agar air matanya tidak jatuh.
Darren masih menatap wanita yang menuangkan air putih ke gelasnya.
"Tuan Darren!" panggil Sisil.
"Ya," Darren menatap Sisil dan tersenyum.
"Kenapa anda selalu menatap padanya?"
"Tidak, aku hanya merindukannya," jawab Darren.
Rista yang mendengar percakapan keduanya, menarik senyumnya dari balik masker.
"Apa anda sangat mencintainya?"
"Terima kasih, kau masih mencintaiku. Aku belum siap untuk bertemu denganmu lagi, Darren." Dalam hati Rista.
Hampir 30 menit menikmati makan siang akhirnya keduanya pun pergi. Tak lupa Sisil mengucapkan terima kasih kepada Rion karena sudah memberikan pelayanan terbaik.
Rista akhirnya bisa bernafas lega, Darren telah meninggalkan restoran dengan cepat ia menghapus air matanya dan mengelap keringat di wajahnya dengan tisu.
"Sepertinya pria tampan itu selalu melihatmu," celetuk salah satu teman Rista.
"Mungkin itu perasaan kalian saja," ujarnya.
"Tapi yang dikatakan dia benar, pria itu sepertinya menyukaimu," sahut teman yang lainnya.
"Dia pria kaya, tidak mungkin menyukai aku. Sudah jangan bahas dia lagi, lebih baik kita bersihkan ini," menunjuk meja yang baru saja ditempati Darren dengan teman wanitanya.
-
Darren dan Sisil kembali ke kantor milik wanita itu yang berada di Kota E. Beberapa hari yang lalu Devan menyuruh putranya menemui klien di kota tersebut. Tetap dengan perjalanan di temani sopir.
Darren dan Sisil duduk bersebelahan di depan mereka dua orang pria yang bertugas sebagai sopir pribadi keduanya.
Darren menghadap jalanan menikmati pemandangan kota E, namun matanya tertuju pada seorang wanita paruh baya yang berdiri di pinggir jalan.
"Pinggirkan mobilnya!" titahnya.
Sopir pun melakukan perintah Darren.
"Ada apa, Tuan?" tanya Sisil yang heran Darren meminta sopir berhenti.
Darren tak menjawab, ia bergegas membuka pintu dan mencoba menghampiri Elisa namun usahanya gagal wanita paruh baya itu telah menaiki angkutan umum.
__ADS_1
Darren berdecak kesal, ia melihat dari kejauhan kendaraan yang ditumpangi ibunya Rista. "Jadi mereka di kota ini!"
Darren kembali ke mobil.
"Tuan, anda sedang mengejar siapa?" tanya Sisil.
"Tidak ada."
-
-
Malam harinya, Darren meminta sopirnya untuk menemani mengelilingi kota kebetulan sopirnya pernah berkunjung beberapa kali jadi hapal dengan jalanan.
Darren selalu memperhatikan jalan, ia berharap dapat bertemu dengan Rista.
Hampir sejam berkeliling namun wanita yang dicarinya tak kunjung ia temui.
"Tuan, sebenarnya anda ingin ke mana?" tanya Sopir.
"Kenapa? Kamu sudah lelah?" Darren balik bertanya.
"Bukan, Tuan. Kita sudah sejam tapi tidak ada tujuan," jawabnya.
"Apa kau lapar?" tanya Darren.
Sopir tersenyum nyengir.
"Ya, sudah kau pergilah makan. Aku akan menunggu di mobil," ujar Darren.
"Baiklah, Tuan." Sopir mengendarai mobil ke warung makan terdekat.
Mobil berhenti tepat di depan warung kaki lima yang menyediakan hidangan ayam goreng dan pecel lele.
Sopir turun dan Darren menunggu di dalam mobil.
Sembari menunggu Darren sesekali memainkan ponselnya. Ia berharap dalam hatinya bisa menemukan wanitanya.
Sepuluh menit menunggu netra matanya tertuju pada seorang wanita yang baru saja keluar dari minimarket menenteng dua plastik berukuran sedang. Darren tersenyum senang akhirnya ia bertemu dengan seseorang yang dicarinya. Dengan langkah cepat, Darren keluar dari mobil.
"Rista!"
Wanita yang dipanggil namanya menghentikan langkah kakinya. "Aku seperti mengenal suaranya!"
"Rista, tunggu!" Darren memanggil untuk kedua kalinya.
Rista menoleh ke belakang dan melihat pria yang ingin hindari berjalan mendekatinya. Tanpa berlama-lama, Rasti membalikkan badannya dan berlari-lari kecil menjauhi Darren.
"Rista!"
Tanpa menoleh, Rista membelokkan kakinya ke sebuah gang kecil.
Darren yang mengejar Rista harus gagal lagi karena ada beberapa kendaraan lalu lalang menghalanginya.
Darren melayangkan pukulan ke udara karena gagal membawa Rista kembali ke Arta Fashion.
...----------------...
Jangan Lupa Tinggalkan Jejak 😊
Terima Kasih 🌹
__ADS_1