Jangan Mengejarku, Cantik!

Jangan Mengejarku, Cantik!
S2-bagian 20


__ADS_3

Raiza menunggu Andra di meja makan, namun pria itu tak kunjung nampak. Ia pun berniat menyusulnya ke kamar.


Raiza mengetuk pintu kamar namun tak ada sahutan dari dalam, ia mulai khawatir apalagi semalam Andra mengalami demam tinggi.


Raiza membuka pintu, seketika ia berteriak dan menutup matanya dengan kedua tangannya.


Andra yang sedang memakai celananya mendengar suara Raiza dengan cepat mengancing resletingnya, ia lalu membalikkan badannya. "Nona, ada apa ke sini?"


Mendengar Andra bertanya, gadis itu membalikkan tubuhnya tanpa menurunkan tangannya, dengan langkah cepat ia keluar dari kamar.


Raiza kembali ke meja makan, ia merutuki dirinya.


Tak lama kemudian Andra datang dan duduk bersama dengan Raiza. Tampak gadis itu malu-malu karena kejadian yang baru saja terjadi.


"Kau sudah sehat?" Raiza membuka obrolan tanpa menatap pria yang ada dihadapannya itu.


"Sudah lumayan sehat, Nona."


"Kalau belum sehat, tidak perlu mengantarku," ujarnya.


"Saya masih bisa menyetir, Nona."


"Ya sudah, kalau begitu," Raiza memalingkan wajahnya.


Selesai sarapan, Raiza memilih duduk di kursi belakang penumpang. Ia sengaja menatap jalanan dan kadang-kadang memainkan ponselnya agar tidak bertemu pandang dengan Andra.


Begitu sampai di sekolah, Raiza bergegas turun dari mobil sebelum Andra membukakan pintu untuknya.


Andra tersenyum melihat tingkah Raiza yang terlihat sangat menggemaskan baginya.


Sesampainya di kelas, ia memukul pelan kepalanya berulang-ulang. "Bodoh...bodoh!"


Tere dan Niken yang baru saja datang menghampiri Raiza.


"Kau kenapa?" tanya Niken.


"Tidak ada," jawabnya dengan cepat.


"Kau tadi memukul-mukul kepala, maksudnya apa?" tanya Tere.


"Tidak ada apa-apa," jawabnya lagi.


"Yakin, Za?" tanya Tere lagi.


"Iya," jawabnya. "Kalian ke mana saja? Sulit sekali dihubungi, kirim pesan beberapa jam baru di balas," keluhnya.


"Aku sedang sibuk, Za." Jelas Tere.


"Iya, aku juga," sahut Niken.


"Kalian sibuk apa?" Raiza bertanya lagi.


"Ya, kami memang lagi sibuk," jawab Niken terbata.


"Aku tahu kalian memang sibuk, tapi 'kan ada alasannya. Misal, sibuk dagang atau sibuk mengurus hidup orang lain," ujar Raiza.


"Saudaraku dari luar pulau datang berkunjung jadi aku sibuk menemani mereka jalan-jalan keliling kota," Niken memberikan alasan berbohong.


"Kalau kau?" Raiza mengarahkan pandangannya pada Tere.


"Aku... kalau aku, teman lama masa kecilku berulang tahun jadi aku sibuk bantu mengurus pestanya," ia terbata dan gugup.


"Begitu, ya."


"Ya, Za." Sahut keduanya serentak.


"Hari ini aku benar-benar malu, mau dibawa ke mana wajahku ini dihadapannya?" Raiza memasang muka merengek.


"Memangnya malu kenapa?" tanya Tere penasaran.


"Aku tadi tak sengaja masuk ke kamar Andra dan melihatnya sedang berpakaian," jawabnya dengan wajah polos.


Sontak jawaban itu membuat Tere dan Niken tertawa lebar.


"Wah, kau beruntung, Za!" goda Niken.


"Apa yang beruntung?" mengerucutkan bibirnya. "Aku jadi malu dan tak berani memarahinya lagi," lanjutnya.


"Kau harus minta maaf padanya!" saran Niken.

__ADS_1


"Bagaimana aku bisa minta maaf? Bicara saja dengannya saja ku sangat malu," ujarnya.


"Bagaimana kalau kami yang minta maaf padanya?" Tere melirik Niken lalu keduanya mengulum senyum.


"Jangan!" larangnya.


"Kau bilang malu berbicara padanya," ujar Niken.


"Biar aku saja yang bicara padanya," ucapnya.


"Nah, memang seharusnya karena kau berani masuk ke kamarnya,"ujar Tere.


-


Sepulang sekolah, Tere dan Niken mendekati Andra keduanya tersenyum ketika melihat pria itu.


Raiza menatap curiga kedua sahabatnya.


"Hai!" sapa Niken.


"Ya, Nona!" Andra sedikit menunduk kepalanya.


"Lain kali, kamarnya di kunci," Niken melirik Raiza.


Sementara gadis itu mendelikkan matanya, ia mendengus kesal.


"Kasihan yang masuk kamar tanpa izin. Kan, jadi malu," Tere ikutan meledek.


"Jangan dengarkan omongan mereka! Ayo kita pergi dari sini!" Raiza bergegas naik ke mobil.


Tere dan Niken mengulum senyum.


"Nona berdua tidak ikut pulang bersama dengan Nona Raiza?" tanya Andra.


"Tidak," jawab Niken.


"Kami sudah ada yang jemput," Tere berbohong.


"Ya, dia benar," sahut Niken.


"Ya sudah, kalau begitu saya permisi," pamit Andra kepada kedua gadis itu.


"Baik, Nona." Andra pun masuk ke mobil lalu melesat.


Raiza tampak masih sebal dengan kedua temannya.


"Nona, Tuan dan Nyonya hari ini tidak jadi pulang," ujar Andra.


"Kita susul saja mereka di sana," usul Raiza.


"Tidak bisa, karena besok Nona masih sekolah," jelas Andra.


"Memangnya mereka ada urusan apa sampai lama sekali pulangnya," omelnya.


"Saya tidak tahu, Nona."


"Nanti malam, kau tidak perlu tidur di rumahku lagi!"


"Saya akan tetap menemani Nona karena itu perintah Tuan Eza," ujar Andra.


Raiza menghela nafas pasrah.


"Nona, tidak mau ke mana-mana lagi?" Andra menawarkan diri.


"Ke Mall saja, aku ingin bermain," jawabnya.


"Baik, Nona."


Mobil pun melaju ke arah pusat perbelanjaan itu. Sesampainya di sana, keduanya menikmati wahana permainan yang ada di dalam gedung tersebut.


Baru 30 menit menikmati permainan, Raiza terlihat cemberut ketika bertemu dengan Sintya dan kekasihnya.


"Kita jumpa lagi di sini," gadis itu tersenyum.


"Ya, entah kenapa aku harus bertemu kalian lagi? Itu sangat membuatku sial," ucap Raiza.


"Oh, ya. Kau cemburu melihat kedekatan kami," ujar Sintya bangga.


"Sintya, ayo kita pergi dari sini!" ajak Axel pelan.

__ADS_1


"Sayang, tunggu sebentar. Aku belum selesai bicara," ujar Sintya.


"Nona, mau pulang atau tetap di sini?" tanya Andra.


"Nona? Wow, katanya calon suami. Kenapa memanggil nama dengan sebutan Nona?" Sintya semakin menjadi mengejek.


"Ya, dia belum terbiasa memanggil namaku," Raiza memberikan alasan.


"Benarkah? Aku yakin kalian hanya berpura-pura saja," ledek Sintya lagi.


"Siapa bilang?"


"Aku!" jawabnya. "Mana buktinya kalau memang kalian sepasang kekasih dan akan menikah," lanjutnya.


"Ya, memang tidak ada bukti. Karena kami belum lamaran," jelas Raiza lagi.


Sintya tertawa sinis. "Kau memang pembohong, Raiza!"


"Sintya, sudah cukup!" ucap Axel berbisik.


Raiza tampak mulai kesal, ia mengarahkan badannya dan sedikit berjinjit lalu mengecup pipi Andra membuat Sintya dan Axel membulatkan matanya begitu juga dengan pria yang dicium.


"Astaga, kau sungguh berani melakukannya di depan umum!" ucap Sintya.


Axel yang cemburu melihat Raiza mencium pipi Andra menarik tangan kekasihnya menjauhi keduanya.


Andra menyentuh pipinya lalu menatap Raiza.


Gadis itu hanya mengucap kata maaf tanpa ekspresi.


"Andai Nona tahu, aku berharap ini jadi kenyataan!"


"Ayo kita pulang, aku sudah tidak semangat lagi untuk bermain," ajaknya. Raiza berjalan lebih dahulu.


Sesampainya di mobil, gadis itu memilih duduk di depan samping pengemudi. Wajahnya masih terlihat cemberut.


"Apa Nona masih menyukai Tuan Axel?" bertanya sembari menyetir.


"Aku tidak menyukainya lagi, tetapi mulut kekasihnya itu buatku sebal," omelnya.


"Nona katakan saja yang sejujurnya," ujar Andra.


"Kau mau aku terus diledeknya seperti tadi, rasanya aku ingin mencakar mulutnya itu tapi karena di tempat umum saja!" masih terlihat emosi.


"Ya, Nona tak perlu menghiraukannya karena itu akan menjadi beban untuk diri Nona sendiri. Menjadikan saya kekasih pura-pura dihadapan mereka," ungkap Andra.


"Aku tuh bingung saja, kenapa mereka harus muncul lagi," ocehnya.


"Ya, mungkin kebetulan saja mereka ada di sana."


"Mereka sangat menyebalkan, sama seperti kau yang memanggil aku Nona," ketusnya.


"Saya sudah terbiasa, Nona."


"Kalau kita bertemu dengan mereka lagi, ingat kau harus memanggilku Raiza atau apalah yang penting jangan ada kata 'Nona'. Apa kau paham?"


"Paham, Nona. Tapi, tidak ada adegan ciuman seperti tadi 'kan?"


"Aku hanya spontan saja, dalam hal itu kau juga yang diuntungkan," Raiza mengerucutkan bibirnya.


"Saya merasa rugi bukan untung, Nona. Bagaimana kalau calon suami Nona dan keluarga besar Artama mengetahui hal ini? Saya juga pasti akan di marahi bahkan dipecat," jelasnya.


"Aku akan bicara pada mereka, lagian sampai sekarang Opa belum saja memberi tahu siapa calon suamiku, buat penasaran saja!"


"Apa kau tahu, siapa calon suamiku?" Raiza bertanya pada Andra.


"Saya tidak tahu, Nona. Cuma kata Tuan Eza, beliau sudah mengenal calon suami Nona," jawabnya.


"Tapi, kenapa Papa dan Mama tak pernah bercerita?"


"Mungkin akan menjadi kejutan buat Nona," tebak Andra.


"Kejutan apa? Bagaimana kalau pria itu tak sesuai dengan harapanku?"


"Namanya juga dijodohkan pasti takkan sesuai harapan," jawabnya. "Tetapi banyak juga yang awalnya cocok dan sesuai tapi ujungnya mereka berpisah," lanjutnya.


"Ya, kau benar juga. Apa mereka mengatakan tentang calon suami agar aku tidak gampang bergaul dengan pria yang bukan kriteria Opa?"


"Bisa jadi, Nona."

__ADS_1


__ADS_2