Jangan Mengejarku, Cantik!

Jangan Mengejarku, Cantik!
S2-bagian 8


__ADS_3

Axel terkejut melihat Raiza datang ke rumahnya. "Kenapa tidak memberitahu aku jika mau ke sini?"


"Bagaimana bisa memberitahumu jika semua kontak aku di blokir?" balik bertanya.


"Za, maafkan aku!"


"Berapa kali kamu meminta maaf?"


"Ya, aku tahu beribu kali ku meminta maaf kepadamu tidak akan membuatmu memaafkan diriku."


"Tak perlu berbasa-basi lagi, aku akan menjauhimu dan melupakanmu asal kamu bisa menjaga kekasihmu," ujar Raiza.


"Maksudnya apa?" Axel mengerutkan keningnya.


"Kekasih yang kamu banggakan berani menyerang ku di minimarket," jawabnya.


"Tidak mungkin Sintya seperti itu!"


"Kalau kamu tidak percaya bisa memeriksa kamera pengawas di sana," imbuhnya.


Axel menarik sudut bibirnya.


"Aku hanya mengingatkan kamu saja!" Raiza membalikkan tubuhnya.


"Ku tahu kamu tidak pernah bisa melupakan aku, Za!" teriak Axel.


"Dengan sikapmu seperti ini, aku semakin yakin bisa melupakan dirimu!" Raiza pun berlalu.


Axel mengeluarkan ponsel dari kantong celananya dan menghubungi kekasihnya.


"Halo, sayang!" sapa Sintya dari kejauhan.


"Apa kamu tadi bertemu dengan Raiza?" tanpa basa-basi.


"Ya."


"Apa yang kamu lakukan padanya?"


"Aku hanya ingin memberikan dia sedikit pelajaran, tapi pengawal pribadinya itu menghalangi rencanaku."


"Sintya, kenapa kamu melakukan itu?" tampak kesal.


"Aku cemburu padanya, Axel. Kamu selalu membela dan memujinya," jawab Sintya.


"Cemburu? Kamu sekarang yang jadi pemenangnya, aku memilihmu daripada dia, jadi ku mohon jangan pernah untuk menyakiti dirinya. Kalau kamu tidak mau mendapatkan akibatnya," ancam Axel lalu menutup teleponnya.


Axel meremas wajahnya, "Aku mencintaimu, Za!"


-


Raiza sedang bersedih meminta Andra untuk menemani ke taman.


Keduanya duduk di kursi yang tersedia di taman tersebut.


Andra menatap wajah Raiza yang tampak sendu dengan tatapan kosong. "Apa sebegitu cintanya Nona kepadanya?"


"Aku tak tahu, tapi entah kenapa hatiku mengatakan jika dirinya berbohong," tuturnya.


Andra tertawa kecil.


"Apa ada yang lucu?"


"Nona berpikir kalau dia tak mencintai kekasihnya?"


Raiza mengangguk.


"Kenapa Nona tak mengejarnya? Atau bersaing dengan gadis itu untuk mendapatkan dia lagi?"


"Aku tidak mau terluka lagi."


"Lalu buat apa lagi Nona bersedih?"


"Aku juga bingung bagaimana cara melupakannya," ujarnya.


"Nona harus mencari penggantinya," usul Andra.


"Tapi, aku belum sepenuhnya membuka hati untuk orang lain," ungkapnya.


"Kalau begitu, Nona akan terperangkap di sana saja. Itu hanya merugikan diri sendiri," jelas Andra.


"Ya, kau benar," Raiza tersenyum. "Terima kasih," lanjutnya.


Andra tersenyum mengangguk.


Raiza berdiri dari kursi, "Aku harus bisa melupakannya!" berkata dengan semangat.

__ADS_1


Andra pun bangkit dan tersenyum. "Begitu dong, Nona!"


"Kalau begitu, mari kita senang-senang!" ajaknya.


"Memangnya kita mau ke mana, Nona?"


"Ke Mall."


"Nona mau belanja?"


"Tidak, kita akan bermain permainan di sana."


"Baiklah, Nona!"


Keduanya pun berangkat ke Mall Cahaya. Tak sampai 30 menit mereka tiba. Raiza begitu semangat ingin menikmati wahana permainan yang ada di pusat perbelanjaan itu.


Andra ikut bermain bersama dengan Raiza.


Gadis itu tampak selalu tertawa ketika dirinya selalu memenangkan permainan.


Semua permainan yang ada di wahana ia mainkan. Satu jam juga mereka berada di tempat itu.


"Nona, saya sudah lelah!" Andra tampak kecapean.


"Baiklah, kalau begitu kita pulang. Tapi tukar ini dulu," Raiza menunjuk tasnya yang berisi banyak karcis.


Andra mengangguk.


Keduanya berjalan dan menukarkannya, Raiza tersenyum ketika mendapatkan boneka beruang berukuran besar.


Dengan wajah sumringah, Raiza menggendong boneka itu.


Keduanya berhenti tepat di restoran Jepang.


Raiza mengajak Andra untuk mengisi perutnya.


Andra sesekali melirik putri atasannya itu, "Cantik!"


-


Jarum jam menunjukkan pukul 6 sore, keduanya sampai di rumah.


Sebelum keluar dari mobil, Raiza berkata, "Terima kasih sudah menemaniku hari ini!" tersenyum hangat.


"Sama-sama. Jika itu membuat Nona bahagia, saya malah senang," ujar Andra.


Andra menggerakkan pelan dagunya.


Setelah Raiza keluar dari mobil, Andra melepaskan senyumnya. "Nona, semoga kamu selalu bahagia!"


-


-


Andra pulang ke rumahnya dengan hati riang, ia mencium pipi ibunya yang sedang menonton televisi.


"Apa yang membuatmu sebahagia itu, Nak?" tanya Lina.


Andra hanya tersenyum.


"Apa seorang wanita yang membuatmu seperti ini?" tanyanya lagi.


"Ya," Andra kembali melemparkan senyum.


"Siapa dia?" Lina bertanya dengan wajah riang.


"Nona Raiza."


Seketika senyum Lina memudar.


Andra tahu jika ibunya tak suka mendengar nama itu.


"Hal apa yang di buat Nona Muda sehingga kamu tersenyum, An?" Lina bertanya dengan serius.


"Kami pergi bermain di wahana permainan," jawab Andra.


"Apa kamu serius menyukainya, Nak?"


Andra terdiam.


"Andra, Nona Muda gadis yang manja dan kaya raya. Ibu tak mau kamu kalah dengan perasaanmu," ujar Lina.


"Bu, Nona Muda gadis yang tangguh. Dia sangat baik hati," ungkapnya.


"Lupakan dengan perasaanmu itu," pinta Lina.

__ADS_1


"Bu, aku ingin melupakannya setahun yang lalu. Tapi, Opa Devan menyuruhku untuk menjadi pengawal cucunya," jelas Andra.


"Ibu tak melarangmu menjadi pengawalnya, tapi jangan pakai hati. Ibu tidak mau kamu terluka, An."


"Ibu tenang saja, aku tidak akan mencampuri urusan pribadiku dengan pekerjaan," Andra menyakinkan ibunya.


"Ibu pegang janji kamu," ujar Lina.


Andra mengangguk mengiyakan.


...----------------...


Raiza sedang menikmati makan siang bersama Andra di sebuah kafe.


Bella muncul menyiram Raiza dengan air putih dari gelas yang ada di meja makan restoran.


Andra dan Raiza tersentak lalu berdiri.


"Bella, apa yang kau lakukan?" bentak Andra.


"Kamu ingin membela dia?" Bella bertanya dengan lantang.


"Aku akan tetap membela dia, karena Nona Raiza tanggung jawabku!" menjawabnya secara tegas.


Raiza yang selera makannya sudah hilang beranjak ke kasir untuk membayar tagihan.


"Aku sudah memperingatkanmu, jangan pernah menyentuhnya!" Andra tampak marah.


"Karena kamu sudah menyukainya!" tebak Bella.


"Aku dibayar untuk melindunginya dari orang-orang sepertimu!" menatap tajam.


"Aku tahu kau menyukainya," tudingnya.


Andra menarik sudut bibirnya, "Jangan bersikap seperti kita masih memiliki hubungan!" ia lalu berlalu.


Bella menghentakkan kakinya karena kesal.


Sementara itu di dalam mobil, Raiza tampak cemberut.


"Nona, saya minta maaf atas perlakuannya," mohonnya.


"Kenapa dia selalu saja ada di mana-mana? Apa sebegitunya dia mencintaimu dan menganggap aku sebagai perebut kekasih orang?" cecar Raiza.


"Kami sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi, Nona."


"Dan menurutmu dia begitu tergila-gila padamu?"


"Saya tidak mengatakannya, Nona."


"Aku tak mau dia mempermalukan ku seperti tadi, jika kau tak ingin dipecat!"


"Baik, Nona."


-


-


Sepulangnya dari pekerjaannya, Andra pulang ke rumahnya. Ia berjalan ke meja makan lalu meraih gelas dan menenggaknya.


"Kenapa cepat sekali kamu pulang?"


"Ini semua karena wanita yang Ibu sayangi," jawabnya menyindir.


"Maksud kamu apa?" Lina tampak bingung.


"Bella menyiram air di wajah Nona Raiza."


"Ya, itu pantas dia dapatkan."


"Pantas Ibu bilang? Apa salah Raiza padanya?"


"Merebut kamu darinya."


"Bu, aku bekerja untuk menjaga dan melindunginya. Aku dibayar tinggi oleh keluarganya. Asal Ibu tahu Raiza akan memecatku jika hal seperti tadi siang terulang lagi. Aku akan kehilangan pekerjaan karena wanita yang selalu Ibu bela!"


"Apa benar Nona Muda akan memecatmu?"


"Bukan hanya di pecat saja, Opa Devan dan Opa Hilman akan memarahiku. Ibu mau aku bekerja jauh dari negara ini karena sikap Ibu yang selalu membelanya," jawab Andra berapi-api.


"Maafkan Ibu, Nak!" Lina tampak berkaca-kaca.


"Aku juga minta maaf, Bu. Telah berkata kasar padamu!" Andra memeluk wanita yang melahirkannya.


"Ibu akan berbicara pada Bella," ujarnya.

__ADS_1


"Bu, jangan paksakan aku kembali lagi padanya!" Andra memohon.


"Ya, Nak."


__ADS_2