Jangan Mengejarku, Cantik!

Jangan Mengejarku, Cantik!
Mengutarakan Perasaan


__ADS_3

Rista ke restoran yang dimaksud diantar oleh sahabatnya. Wanita cantik yang bekerja sebagai desainer junior Arta Fashion itu tampil dengan gaun sederhana namun tampak mewah berwarna keemasan.


"Apa kau yakin akan menemui Presdir dengan kekasihnya?" Sella bertanya sesampainya mereka di restoran.


"Ya, ini adalah tugas. Aku tak mau gajiku dipotong karena menolak pekerjaan," jawab Rista dengan wajah sendu.


"Kau akan terluka jika tahu kenyataan, Rista."


"Ya, aku harus bagaimana lagi? Presdir mencintai wanita lain, aku tidak bisa memaksanya untuk menyukaiku," ungkap Rista dengan mata hampir basah.


"Aku pun juga bingung, semoga kau kuat menghadapinya," ujar Sella.


"Ya," Rista berusaha tetap tersenyum. Ia turun dengan langkah malas memasuki restoran tersebut.


Pelayan yang menyapanya mengarahkan langkahnya ke ruangan khusus yang sudah di dekor sangat indah.


Rista mengedarkan pandangannya, "Andai aku duduk di sana!" matanya terarah pada sebuah meja.


"Nona, silahkan duduk!" ucap pelayan menarik kursi dan mempersilakan Rista.


"Tapi, bukan saya yang akan duduk di sini!"


"Kata Tuan Darren jika ada seorang wanita yang datang, berikan ia kursi khusus. Saya hanya menjalankan perintah saja," jelas pelayan.


"Tapi, bukan saya wanita yang dimaksud," ujar Rista.


"Sekali lagi, maaf Nona. Anda wanita yang pertama yang datang artinya yang dimaksud adalah Nona sendiri," jelas pelayan lagi. "Jika tidak yakin, Nona bisa bertanya pada Tuan Darren saja," lanjutnya menjelaskan.


"Ya, nanti akan saya tanyakan," Rista tersenyum tipis.


"Kalau begitu, saya permisi!" pamitnya.


Rista menggerakkan sedikit kepalanya.


Tak lama kemudian Darren datang membawa sebuket bunga. Malam ini ia sangat tampan dengan wajah ceria.


Rista yang melihat kedatangan Presdir sejenak terpesona dengan wajah rupawannya, namun ia tersadar dan bangkit dari duduknya.


"Siapa yang menyuruhmu berdiri?" tanya Darren.


"Maaf, Tuan. Bukankah ini kursi untuk calon kekasih anda?"


"Ya, kau memang benar. Tapi, aku belum menyuruhmu untuk berdiri jadi duduklah!" perintah Darren.


Rista kembali duduk.


Darren duduk dihadapan wanitanya, "Kau sangat cantik malam ini," pujinya.


"Terima kasih, Tuan." Rista tersenyum tipis.


Darren memandangi Rista yang tampak salah tingkah.


Sementara itu, Sella berdiri mondar-mandir di depan restoran. Ia ingin mengetahui kalau temannya itu baik-baik saja. Sampai suara tak asing di telinganya memanggilnya, ia lantas segera menoleh.


"Sella, sini!" panggil Yuno.


"Tuan!" Sella dengan wajah gembira menghampiri pria itu.


"Sedang apa kau di sana?"


"Aku ingin memastikan Rista saja, Tuan."


"Kau tak perlu khawatir, Rista akan pulang dengan wajah bahagia," ujar Yuno.


"Kenapa begitu, Tuan?" tanya Sella.

__ADS_1


"Lebih baik kita duduk di sana dan memesan makanan. Apa kau mau?" tawarnya.


"Mau, Tuan."


"Ayo!" ajak Yuno. Keduanya duduk lalu memesan minuman dan makanan.


"Saya masih penasaran dengan ucapan Tuan kalau Rista keluar dengan wajah bahagia," Sella mengingatkan Yuno.


"Hari ini Darren akan mengutarakan perasaannya pada temanmu itu!" ungkapnya.


"Benarkah? Tapi kenapa Rista mengatakan sebaliknya? Kalau Presdir akan memperkenalkan kekasihnya pada temanku," ujar Sella.


"Dia berbohong, Darren hanya ingin memberikan kejutan untuk temanmu itu," jelasnya.


"Saya jadi senang mendengarnya, semoga saja Tuan Darren tidak menyakiti perasaan Rista," harap Sella.


"Ku yakin, kalau Darren tidak akan seperti itu!" Yuno tersenyum. "Ayo makan!" ajaknya ketika pesanan mereka telah tersedia.


Sella membalas ucapan Yuno dengan senyum lalu menikmati makanan dan minuman yang dipesan.


-


Dengan ragu-ragu Rista menyeruput jus yang ada dihadapannya, ia terus menoleh ke kanan dan kirinya.


"Cari siapa?" tanya Darren.


"Kenapa calon kekasih Tuan belum datang?"


"Dia takkan datang."


"Kenapa? Bukankah malam ini spesial untuknya?"


"Aku juga tidak tahu," jawab Darren sangat santai.


"Tuan, tidak marah kalau dia tak datang," ujar Rista.


"Ya, anda sudah dikecewakannya."


"Aku lebih kecewa kalau kau tidak datang malam ini," ujar Darren.


Rista mengerutkan keningnya, tak mengerti dengan ucapan atasannya itu.


Darren mengeluarkan kotak cincin dari saku jasnya, "Apakah ini cantik?" tunjuknya lalu membukanya.


"Cantik, Tuan." Rista menjawab pelan.


"Pakailah!"


"Kenapa saya?"


"Kau sangat cantik menggunakan ini," ujar Darren.


"Tapi, ini milik calon kekasih anda!" Rista berusaha menolak.


"Dia tak datang, jadi kau yang harus memakainya!"


"Anda pasti bercanda, Tuan." Rista tak percaya.


"Saya serius!" Darren berkata tegas.


Rista dengan ragu mengulurkan jemarinya, Darren meraihnya dan memasangkan cincin itu jari manis.


Rista tersenyum kecut.


"Apa kau tidak suka dengan cincinnya?"

__ADS_1


"Suka, Tuan."


"Kenapa wajahmu tidak bahagia?" tanya Darren.


"Saya tidak pantas memakainya apalagi ini milik orang lain," jawab Rista tertunduk.


"Siapa bilang milik orang lain, cincin itu sengaja ku berikan untukmu!" Darren tersenyum.


Rista mendongakkan kepalanya menatap Darren dengan berbagai pertanyaan.


"Kenapa menatapku seperti itu?"


"Saya tidak mengerti dengan semua ucapan anda," jawab Rista.


"Ayumi Charista, maukah kamu menjadi kekasih sekaligus calon istriku?" Darren berucap dengan tegas.


Seketika mata Rista mendelikkan matanya keheranan dan memegang mulutnya. "Serius?" tanyanya lirih.


"Aku serius, Rista. Ku jatuh cinta padamu!" jawabnya sembari menatap wanita yang ada dihadapannya itu.


Air mata Rista lolos begitu saja, ia tersenyum bahagia lalu berdiri dan mendekati Darren yang bangkit dari duduknya. "Aku juga mencintaimu," memeluknya.


Darren mengulum senyum.


"Kenapa kau sampai membohongiku seperti ini?" Rista menghapus air mata haru yang jatuh menetes.


"Karena aku senang membuatmu penasaran."


"Sejak kapan kau menyukaiku?" Rista mendongakkan kepalanya dan tak melepaskan pelukannya.


"Aku tidak tahu, tapi sejak kau mengejarku. Ku jadi tertarik padamu dan ingin dekat denganmu," jawab Darren.


"Jadi sekarang kita resmi menjadi sepasang kekasih?" tanya Rista lagi.


Darren mengangguk mengiyakan.


"Terima kasih," Rista memeluk erat tubuh Darren.


"Bisakah kau tidak memelukku seperti ini? Aku kesulitan bernapas."


"Maaf," Rista tersenyum senang.


"Aku akan mengenalkanmu kepada kedua orang tuaku, tapi selama di perusahaan kita hanya sebatas bos dan karyawan," ujar Darren.


"Baik, Presdir."


"Mulai sekarang. Jangan mengejarku, cantik!" ucap Darren. "Tapi, kau yang akan ku genggam dan tak ku lepas," lanjutnya.


Rista tersipu malu.


"Apa kau tidak lapar?" tanya Darren.


"Lapar sekali pun," jawab Rista manja.


"Ayo kita makan," Darren menarik kursi untuk Rista dan keduanya menikmati makan malam romantis.


Di tempat yang sama, di lain ruang. Sella sampai menguap menunggu Rista keluar dari ruangan VVIP.


"Apa kau sudah mengantuk?" tanya Yuno.


"Iya, Tuan. Kenapa mereka lama sekali? Kita sudah menunggu tiga jam di sini," jawab Sella.


"Aku juga tidak tahu, mereka mengobrol apa di dalam sana."


"Apa lebih baik aku pulang saja, ya?"

__ADS_1


"Tunggu sebentar lagi, aku tidak mungkin di sini sendiri," jawab Yuno. "Kalau kau pulang, lalu aku pulang dengan siapa?" lanjutnya bertanya.


"Ya, Tuan benar. Baiklah aku akan menunggunya," jawab Sella berusaha menahan kantuknya.


__ADS_2