Jangan Mengejarku, Cantik!

Jangan Mengejarku, Cantik!
S2-bagian 22


__ADS_3

Sebulan kemudian....


Seperti biasa Andra akan mengantar Raiza ke sekolah, namun pria itu memilih diam.


"Kau sakit?" Raiza meletakkan telapak tangannya di kening Andra, namun segera ditepis.


"Maaf, Nona."


"Aku yang harusnya minta maaf, jika kau tak suka dengan sikapku tadi," ujar Raiza.


Andra kembali bersikap seperti antara sopir dan majikan.


"Nanti sore temani aku ke kedai es krim, ya!" pintanya.


"Baik, Nona."


Begitu sampai, Andra membukakan pintu. Ia sedikit menunduk saat Raiza melewatinya. Tak ada sapaan candaan seperti sebelumnya.


Raiza berjalan, beberapa meter ia membalikkan badannya hanya untuk sekedar melihat pengawalnya itu.


"Hai, Za!" sapa Niken.


Kedua temannya duduk , lalu menatap heran Raiza.


"Za, kenapa melamun?" tegur Tere.


"Siapa yang melamun?" balik bertanya.


"Kau punya masalah?" tanya Niken.


"Tidak, cuma hanya heran saja. Andra akhir-akhir ini berubah," jawab Raiza.


"Berubah menjadi superhero," celetuk Tere.


"Bukan begitu," ujarnya. "Dia lebih banyak diam, kalau bicara sekedarnya saja. Dia tak mau membalas pesanku dan seperti jaga jarak," lanjutnya.


"Mungkin dia tahu batasannya antara atasan dan bawahan," ujar Niken.


"Tapi, aku seperti kehilangan dia," ucap Raiza sedih.


"Kau menyukainya?" Tere penasaran.


Raiza mengangguk.


Niken dan Tere menutup mulutnya tak percaya.


"Kau sudah dijodohkan, Za. Mungkin Andra menjauh karena dia sadar tak pantas untukmu!" ujar Niken.


"Aku juga bingung, Opa akan memberitahuku saat berulang tahun," jelasnya.


"Kau harus tahan perasaanmu, Za. Jangan sampai Opa marah padamu dan Andra. Apa kau mau kalau dia dipindahkan ke luar negeri karena kesalahanmu?" tanya Tere.


"Itu yang juga menjadi masalahnya," jelas Raiza.


"Kau tidak boleh memiliki perasaan kepada Andra, ingat kau sudah memiliki calon suami," Niken mengingatkan sahabatnya itu.


"Ya, aku tak boleh jatuh hati padanya," janjinya.


"Bagus, ini juga demi kebaikan dirinya," ujar Tere lalu melirik Niken dan keduanya mengulum senyum.


-


-


Sesuai janjinya, Andra menemani Raiza ke kedai es krim. Pria itu menolak ajakan untuk masuk. "Saya di sini saja, Nona!"


"Kau membiarkan aku makan es krim sendirian?"


"Nona, bisa membungkusnya dan membawanya pulang," jawab Andra.


"Baiklah," Raiza pun keluar dari mobil dengan wajah cemberut.


Ia memesan es krim lalu duduk sendirian di meja yang sudah disediakan, Raiza mengedarkan pandangannya ke lainya yang menikmati es krim bersama dengan orang terkasih.


Raiza mengaduk-aduk es krim hingga mencair, ia hanya mencecapnya sekali saja. Karena di rasanya sangat bosan, ia pun meninggalkan gelas yang masih terisi.


Dengan wajah kesal, ia masuk ke mobil dan duduk di kursi belakang.


Di balik kaca spion, Andra melihat wajah Raiza murung. Tak ada obrolan sama sekali selama perjalanan pulang ke rumah.


Raiza memilih mengurungkan dirinya di kamar bahkan menguncinya dari dalam. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang.


Saat makan malam, Raiza lebih banyak diam. Ia hanya berbicara ketika di tanya.


Selesai makan, ia memilih kembali ke kamar. Hal itu membuat Raisa dan suaminya menjadi bertanya.


Eza lalu menghubungi Andra mengenai putrinya, apa yang sebenarnya terjadi dan pria itu mengatakan tidak terjadi apa-apa.


Raisa juga menghubungi Tere dan gadis itu mengatakan kalau Raiza menyukai Andra.


Raisa lalu berbicara pada suaminya, tentang perasaan putrinya. "Apa kita berkata jujur saja sekarang? Raiza juga sudah menyukai Andra," usulnya.


"Biar Papa saja yang mengatakannya, Andra juga belum jatuh hati pada putri kita," Eza menolak usulan istrinya.


"Apa kita tahu hatinya Andra? Mungkin dia tak menyukai putri kita," tudingnya.


"Makanya kita tunggu sebulan lagi, kalau memang Andra menyukai Raiza pasti dia akan berkorban," ujar Eza.


"Kau ingin membuat rencana apa lagi?" tanya Raisa.


"Nanti kau juga akan tahu," jawab Eza tersenyum.


...----------------...


Keesokan paginya, sebelum berangkat sekolah. Andra menerima telepon dari seseorang. Raiza yang berada di sampingnya merasa penasaran. Ia mencoba menguping isi percakapan namun ia tak dapat mendengar dengan jelas.


Raiza pura-pura memainkan ponselnya, saat Andra membalikkan badannya dan memasukkan gawainya di saku celana.


"Kita berangkat sekarang, Nona!"


"Ya."


Mobil melesat ke sekolah Raiza.


Setelah mengantar, Andra bergegas pergi. Raiza yang melihat mobil telah menghilang dari pandangannya, ia pun segera menyusul dengan menggunakan taksi.


Beruntung mobil menggunakan GPS, jadi dengan mudah Raiza melacak keberadaan Andra.


Niken dan Tere berkali-kali menghubunginya namun tak ia hiraukan.


Taksi berhenti di sebuah kafe tak jauh dari kediaman orang tua Andra.


Raiza keluar dari taksi, ia sengaja berdiri dari kejauhan untuk melihat aktivitas yang dilakukan pengawal pribadinya.

__ADS_1


Raiza mengepalkan tangannya saat Bella menyentuh wajah Andra.


Tak tahan menahan rasa cemburunya, Raiza berjalan mendekati keduanya.


Andra yang melihat kedatangan Andra segera berdiri, "Nona, kenapa di sini?" tampak gugup.


"Aku sengaja mengikutimu!"


"Sayang, kenapa dia di sini? Kamu bilang dia di sekolah," ujar Bella.


"Kau memanggilnya sayang, bukankah kalian sudah putus?" tanya Raiza.


"Ya, kami memang sudah putus. Tapi, hari ini saya dan Bella akan menjalin sebuah hubungan lagi," sahut Andra menjelaskan.


Raiza menggelengkan kepalanya pelan. "Tak mungkin, kau mengatakan tidak akan memberikan kesempatan kepadanya. Kenapa sekarang...."


"Ya, karena kami masih saling mencintai," sambung Andra lagi.


Dengan mata berkaca-kaca, Raiza meninggalkan kafe.


Andra ingin mengejarnya namun Bella menghalanginya. "Jika kau mengejarnya, dia takkan berhenti mendekatimu!"


Andra akhirnya mengurungkan niatnya.


Raiza berjalan seorang diri di tengah keramaian lalu lintas, Raiza menyeka air matanya. Ia berhenti di sebuah taman yang sepi pengunjungnya. "Kenapa sesakit ini?"


Air matanya kembali menetes, Andra tak mengejarnya artinya pria itu tak menyukainya.


Sejam pasca kehadiran Raiza yang tiba-tiba, Andra mencoba menghubungi gadis itu namun tak dijawab. Rasa khawatir menyelimuti dirinya, ia pun mulai mencarinya.


Tak sampai 15 menit, ia menemukan Raiza duduk seorang diri dengan melamun.


Dengan cepat Andra menghampirinya, "Nona!" panggilnya.


"Kenapa kau kemari?"


"Nona tidak kembali ke sekolah?"


"Jangan pernah hiraukan aku!" jawabnya ketus tanpa menatap.


"Nona, mari saya antar," Andra menawarkan diri.


"Tidak perlu, aku bisa sendiri!" Raiza bangkit dari bangkunya.


Ia berjalan tanpa arah, ia ingin menghindari pengawalnya itu.


Andra tetap mengikutinya dari belakang.


Raiza membalikkan badannya. "Kenapa masih di sini? Pergilah temani kekasihmu sana!" usirnya.


"Saya tidak bisa meninggalkan Nona seorang diri," ujar Andra.


Raiza tersenyum sinis, "Benarkah? Tidak bisa meninggalkan aku sendiri, kau malah kembali mengobrol. Tak mengejarku dan baru tiga puluh menit yang lalu, kau menghubungiku. Aku sudah sejam di sini."


"Nona, maaf!"


"Berapa kali kau meminta maaf padaku?"


Andra bergeming.


Raiza kembali berjalan.


Andra mengikutinya lagi.


Andra memegang tangan Raiza. "Nona, kita dilihat orang-orang!"


"Aku tidak peduli!"


"Nona, mari saya antar pulang!" ajaknya.


Tanpa suara, Raiza berjalan ke arah mobil yang terparkir di depan taman. Sesampainya, ia merebut kunci yang digenggam Andra. "Biar aku yang menyetirnya!"


Andra membiarkannya, ia duduk di kursi samping pengemudi.


Raiza mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, apalagi kendaraan pagi itu sangat padat.


"Kurangi kecepatan, Nona!" titahnya.


Raiza tak menghiraukannya.


"Nona, jalanan masih ramai. Jangan sampai kita membuat pengendara lain celaka!"


Mendengar itu, Raiza mengurangi kecepatan kendaraannya dan melaju seperti biasa.


"Nona, kita mau ke mana?" Andra tampak bingung karena jalanan yang dilalui mereka bukan ke arah sekolah atau rumah Raiza.


Gadis itu tak menjawabnya.


Sejam kemudian, mobil berhenti di dekat kawasan pantai yang ada di kota A.


"Pulanglah, biarkan aku sendiri!" Raiza keluar dari mobil.


Andra bukannya menuruti keinginan Raiza malah mengikuti gadis itu.


Raiza berjalan ke arah pantai.


"Nona, saya tak bisa pulang tanpa anda!"


"Kau harus terbiasa!" sentaknya. "Sebentar lagi aku akan menikah. Jadi....." ucapannya terpotong. "Lupakan saja!" lanjutnya. Ia kembali berjalan.


Andra tetap mengikutinya, "Sebenarnya apa yang terjadi dengan, Nona!"


"Kau mau tahu, apa yang terjadi denganku? Kau itu pembohong, jadi Bella wanita yang tak bisa kau taklukkan hatinya. Kau takkan memberikan kesempatan ketiga karena dia berselingkuh, kau malah balikkan padanya!" ungkap Raiza.


"Memangnya ada yang salah, Nona!"


"Ya, karena aku menyukaimu!" Raiza berkata tegas.


"Nona, jangan bercanda," ujar Andra.


"Aku tidak bercanda dan ku serius!"


"Nona, ini salah."


"Ya, memang salah karena aku menyukaimu saat sebentar lagi keluargaku mengenalkan aku dengan calon suamiku, aku malah jatuh cinta padamu!" Raiza mengungkapkannya dengan mata berkaca-kaca.


"Nona, ini jelas salah. Saya tidak pantas," ujar Andra pelan.


Raiza malah semakin menangis, ia berlari ke arah pantai dengan cepat.


Andra terdiam dengan mata berkaca-kaca, "Kau mencintaiku, Nona!"


Andra segera tersadar dari lamunannya, "Aku tidak boleh terbawa perasaan, Nona Raiza akan segera menikah!"

__ADS_1


Ia pun berjalan mendekati Raiza dan menarik tangannya dengan paksa.


Gadis itu tersentak kaget, kala melihat Andra menarik dirinya dengan kasar.


"Kau mau apa?" meringis kesakitan.


"Kita harus pulang, Nona!"


"Aku tidak mau!" tolaknya.


"Nona, mau saya dipecat karena tingkah konyol anda ini!" bentak Andra.


Raiza menggelengkan kepalanya.


"Nona, tolong jangan mempersulit saya!"


Raiza melepaskan tangan Andra dengan paksa. "Mereka sudah tahu aku akan dijodohkan, kenapa harus mengirimkan kau padaku. Mendekatkan kita, setiap hari kita bertemu bahkan kita tinggal seatap beberapa hari."


"Karena saya ditugaskan untuk menjaga Nona," jelas Andra.


"Sedekat ini menjagaku?"


"Nona, jangan seperti kekanakan!" bersuara dengan nada tinggi karena tak tahu menjawab apa.


"Ya, aku memang seperti anak-anak yang harus diawasi gerak-geriknya. Ke mana-mana selalu ada kau yang akhirnya tumbuh rasa suka dan ingin memiliki. Apa aku salah?" Raiza berjongkok dengan terisak.


Andra berusaha tetap tenang padahal dalam hatinya ia ingin memeluk Raiza dan mengatakan kata cinta namun ia sadar kalau dirinya hanya pengawal.


Raiza meletakkan wajahnya di pangkuan lipatan tangannya.


Andra lalu berjongkok mengelus lengan Raiza. "Maaf!" berkata dengan lembut.


Bahu gadis itu masih bergetar.


"Nona, mari kita pulang. Lupakan hari ini!"


Raiza mendongakkan kepalanya menatap Andra yang berjongkok dihadapannya dengan mata memerah.


Pria itu tersenyum begitu hangat walaupun tampak dari semburat wajahnya sendu.


Raiza akhirnya luluh, ia pun berdiri dan mau diajak pulang.


Sepanjang perjalanan ke rumah tak ada obrolan, Raiza lebih memilih melamun menatap jalanan.


...----------------...


Beberapa hari kemudian....


Raiza melakukan aktivitas seperti biasanya begitu juga dengan Andra, namun keduanya memilih diam setelah Raiza mengungkapkan perasaannya.


Pulang sekolah, Raiza memilih langsung ke rumah menutup dirinya di kamar dan akan keluar ketika makan malam atau sedang butuh sesuatu.


Andra pun lebih awal pulang, biasanya pria itu akan pulang malam hari namun beberapa hari ini jam 3 sore sudah di rumah. Ia pun lebih banyak diam.


"Ma, Pa, dua minggu lagi aku akan berulang tahun. Bisakah kalian menjauhkan Andra dariku?" pintanya di sela-sela makan malam.


"Memangnya kenapa dia harus menjauh?" tanya Raisa.


"Opa akan mengumumkan pria yang akan menjadi calon suamiku, apa salahnya menjaga perasaannya agar aku tidak dengan lelaki lain," jelasnya.


"Andra hanya pengawalmu, pasti calon suamimu tidak cemburu. Percayalah!" Eza tersenyum.


"Tapi, aku tidak suka dia ada di sampingku!"


"Kenapa? Apa Andra melakukan kesalahan padamu?" tanya Eza.


"Aku yang melakukan kesalahan padanya," jawab Raiza.


"Kesalahan apa, Nak?" Raisa penasaran.


"Aku mencintainya, Ma."


Raisa dan Eza menarik nafas saling bertatapan lalu menghembuskan nafasnya pelan, keduanya pun tersenyum.


"Itu wajar," ujar Eza.


"Wajar bagaimana? Putrimu menyukai lelaki lain selain calon suaminya, bagaimana jika Papa tahu?" Raisa pura-pura panik.


"Ya, katakan saja yang sebenarnya," jawab Eza santai.


"Ya, tidak bisa begitu, sayang. Kamu mau Andra dicampakkan ke Belanda?" Raisa menatap suaminya.


"Ya, itu resiko dia. Wajar dong kalau mereka saling jatuh hati, setiap hari bertemu pasti benih-benih cinta tumbuh diantara mereka," ujar Eza.


Raiza hanya melihat kedua orang tuanya berdebat.


"Sayang, Papa sudah menjodohkannya. Harusnya Andra sadar diri dong!" Raisa tak mau kalah.


"Yang namanya perasaan tidak bisa disalahkan, sayang. Ini hanya pengakuan dari mulut putri kita. Aku yakin Andra pasti juga menyukai Raiza," Eza menebak.


"Tapi, ini tetap salah. Andra ditugaskan untuk mengawal bukan jatuh cinta," protes Raisa.


"Tidak salah, kamu sudah benar Raiza. Papa mendukungmu, pergilah dan katakan lagi. Tanyakan padanya apa dia menyukaimu atau tidak. Papa akan membantumu," ucap Eza.


"Aku tidak mau ikutan bermasalah dengan Papa, bagaimana jika dia murka?" tanya Raisa.


"Itu urusan belakangan," jawab Eza.


Raiza memijit kepalanya melihat kedua orang tuanya saling beradu pendapat.


"Nak, pergilah dan temui dia besok pagi!" perintah Eza.


"Papa mendukungku kali ini dan akan membantuku menjelaskannya kepada Opa?" tanya Raiza.


"Ya, demi kebahagiaanmu," jawab Eza.


Raiza mendekati papanya dan memeluknya, "Terima kasih!"


"Jika Andra tak berani mengatakannya, Papa yang memecatnya karena sudah berani mempermainkan putriku yang cantik ini!" Eza tersenyum hangat.


Raiza membalas dengan senyuman.


"Mama tak mau menanggung resiko," celetuk Raisa.


"Cinta itu butuh perjuangan, sayang. Seperti kita waktu itu, aku mencintaimu istriku!" Eza tersenyum.


Raiza yang ikutan tersenyum senang berlari ke kamarnya.


Punggung Raiza tak terlihat lagi, keduanya tertawa dengan suara kecil.


"Apa kau yakin kalau Andra mencintai putri kita?" tanya Raisa.


"Sesama pria, aku yakin kalau Andra mencintai Raiza," jawab Eza mantap.

__ADS_1


__ADS_2