Jangan Mengejarku, Cantik!

Jangan Mengejarku, Cantik!
Baru Terasa Kehilangan


__ADS_3

Gedung Arta Fashion


Darren berjalan memasuki gedung kantornya sembari melirik Sella yang berada di meja resepsionis, ia melangkah pelan membuat sekretaris pribadinya menatap heran.


"Apa anda butuh sesuatu, Tuan?"


"Bisakah kau minta informasi tentang Rista dari temannya itu?" pinta Darren.


Yuno mendekati Darren lalu menjawabnya dengan pelan. "Kau yang telah membuat temannya pergi, jadi tanyakan saja sendiri!"


Darren berdecak kesal.


"Saya tidak mau ikut campur urusan anda, Tuan!" Yuno tersenyum menyindir.


Darren terpaksa menghampiri Sella dan Yuno mengikutinya.


Wanita itu melihat Presdir mendekatinya bergegas berdiri. "Selamat pagi, Tuan!" sapanya tersenyum.


"Pagi juga!" balas Darren. Ia lalu melirik teman kerja Sella yang berada di samping.


"Sella, aku permisi ke toilet," pamitnya. Karyawan sudah paham jika Presdir mulai melirik itu artinya mereka tak boleh mendengar obrolannya.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Sella ramah.


"Hemm..." Darren belum menjawab pertanyaan karyawannya itu.


Sella dan Yuno saling pandang melirik tingkah Presdir.


"Sella!" panggilnya pelan.


"Ya, Tuan!" sahut wanita itu menatap Presdir.


"Apa kamu tahu di mana Ayumi Charista tinggal?" tanyanya.


Sella menggelengkan kepalanya.


"Kamu 'kan temannya!" ucapnya.


"Ya, saya temannya setelah itu kami tidak pernah berkomunikasi lagi, Tuan." Jawab Sella berbohong. "Tuan, menanyakan tentangnya apa ingin merekrutnya kembali?" tanyanya antusias.


"Bukan!" jawab Darren dengan cepat.


"Lalu, Tuan?" tanya Sella lagi.


"Sudah lupakan saja!" Darren pun melangkah meninggalkan meja resepsionis.


Yuno menyusulnya dari belakang.


Sella menarik sudut bibirnya, "Aku tidak akan pernah memberi tahu di mana dia berada. Sekarang anda baru mengerti apa artinya kehilangan!"


Di dalam lift, Darren menggerutu. "Dia sahabatnya, tapi kenapa tidak tahu di mana Rista berada."


"Mungkin Rista yang melarangnya memberi tahu," tebak Yuno.


"Apa sebegitunya dia marah padaku?" tanya Darren.


Yuno menaikkan bahunya


-


Darren meletakkan tas kerjanya di atas meja, ia lalu menyandarkan tubuhnya di kursi sambil menatap jendela dengan pemandangan gedung-gedung pecakar langit.


"Di mana dia sekarang berada?" gumamnya.


Darren meraih ponselnya, ia mencoba mencari tahu wanita itu dari sosial media namun tak ia temukan. Padahal ketika masih mereka bersama Rista cukup aktif di dunia maya membagikan kegiatannya walau tak setiap hari ia posting.


Mata Darren tertuju pada tanda berwarna di salah satu aplikasi media sosial. Ya, Rista sedang online namun wanita itu tak membagikan tentang kegiatannya.


Darren ingin mengirim pesan pribadi namun ia urungkan, di sini dirinya yang salah karena sudah memecat kekasihnya itu dengan tidak hormat tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.


Hubungan jalinan kasih mereka juga belum sepenuhnya bubar karena tak ada kata putus. Tapi, Rista mendadak menghilang sejak keputusannya yang terpaksa.


Darren menjambak rambutnya, "Aaarrrghhh....Kenapa aku jadi begini? Rasanya sangat hampa!"


-


-


Makan malam Darren lebih banyak diam, ia hanya mengaduk-aduk makanannya tanpa menyantapnya.


"Darren, kenapa tidak makan?" tanya Clarissa.


"Aku tidak lapar, Ma!" jawabnya pelan.


"Sudah dua hari kamu seperti ini, apa kamu sakit?" tanya Clarissa lagi.


"Tidak, Ma."


"Apa yang terjadi coba ceritakan pada Mama?" usul Clarissa.


"Ma, Pa, aku mau ke kamar. Rasanya hari ini sangat lelah sekali," Darren menghentikan makannya ia lalu beranjak pergi.


"Van, apa kamu tahu apa yang terjadi dengan putra kita?" tanya Clarissa pada suaminya.

__ADS_1


"Aku tidak tahu," jawab Devan santai.


"Apa Darren seperti itu karena permintaan kita?"


"Kita melakukan itu juga demi kebaikannya."


"Tapi, kau lihat dia jadi pendiam dan sangat dingin," ujar Clarissa.


"Aku yakin dan percaya, semakin berjalannya waktu dia akan melupakan wanita itu."


"Bagaimana jika Darren tak bisa melupakannya?"


"Aku akan menjodohkannya dengan wanita lain."


"Tidak semudah itu menjodohkannya," ujar Clarissa.


"Itu salah satu cara agar bisa melupakan wanita itu."


"Aku kurang setuju dengan usulan darimu!"


"Kenapa?"


"Aku kasihan kepada Darren dan Rista karena keegoisan kau mereka akhirnya terpisah."


"Kenapa jadi menyalahkan aku? Nenek wanita itu yang sudah menyakitimu tapi kau masih membela cucunya. Mereka berdua itu sama saja," ungkap Devan.


"Yang salah neneknya bukan Rista, Van. Aku akan membawa dia kembali untuk putraku," Clarissa beranjak berdiri.


"Rissa, kenapa kau jadi keras kepala seperti ini? Selalu menentang keputusan aku," Devan berkata dengan nada tinggi.


"Apa kau tidak pernah tahu rasanya patah hati? Ketika mencintai seseorang tapi orang itu pergi meninggalkanmu karena terpaksa itu sangat menyakitkan, Van."


"Rissa, neneknya saja membenci kita pasti dia akan sangat benci kepada Darren," ujar Devan.


"Aku akan tetap membawa Rista di hadapan putraku," Clarissa tetap bersikeras.


Devan menarik lengan tangan istrinya. "Aku tidak pernah setuju kau melakukan itu!"


"Aku tidak peduli, Van. Kebahagiaan Darren itu nomor satu bagiku!" Clarissa menyingkirkan tangan suaminya dari lengannya.


Devan menghela nafas pasrah. "Baiklah, aku terima usulan dirimu!"


Clarissa tersenyum ia lalu memeluk suaminya, "Terima kasih!"


...----------------...


Sarapan pagi seperti biasanya, Darren duduk meminum segelas susu dan memakan sepotong roti.


"Darren, Mama ingin bertemu dengan Rista," ujar Clarissa.


"Mama ingin mengajaknya makan siang berdua dengannya," Clarissa tersenyum.


"Dia tidak lagi di kota ini," ujar Darren.


"Maksudnya kamu memecatnya?" tanya Clarissa.


"Sesuai keinginan Papa dan Mama untuk menjauhinya, salah satu cara adalah dengan memecat dirinya. Agar ku tak bisa melihat wajahnya lagi," jelas Darren.


"Darren, maafkan Mama!" Clarissa menunjukkan wajah sendunya.


"Tidak perlu minta maaf, Ma. Semua sudah terjadi," Darren mengelap bibirnya dengan tisu ia lalu bergegas pergi menuju kantor.


"Van, dia marah padaku!" Clarissa berucap lirih.


Devan mengelus punggung tangan istrinya. "Kau tidak bersalah, aku akan berbicara kepadanya," Ia merangkul bahu Clarissa lalu mengecup ujung kepalanya.


Sementara itu di tempat lain, Rista sedang sibuk di restoran. Ya, dia lagi membersihkan lantai, menata kursi dan meja karena jam tamu berkunjung akan tiba.


Restoran akan buka pukul 9 pagi, para karyawan sibuk melakukan aktivitasnya. Selesai membersihkan bagian ruang para tamu makan, Rista mengganti pakaiannya dengan seragam yang diberikan.


Tepat pukul 9 pagi, tamu mulai berdatangan. Rista menampilkan senyumnya ia menyambut para pengunjung dan melayani dengan ramah.


Rion yang dari kejauhan menatap Rista dengan senyuman. Sejak 3 hari yang lalu wanita itu bekerja, restorannya ramai pengunjung. Di tambah lagi dengan kecantikan yang dimiliki membuat pria itu menaruh hati padanya.


"Tuan, Rista sangat cantik dan ramah, ya!" celetuk kepala koki.


"Ya," Rion menyahut tanpa sadar.


"Apa Tuan menyukainya?" tanyanya.


Rion yang menyadari pertanyaan itu segera menoleh dan melihat lawan bicaranya.


Pria kepala koki hanya tersenyum.


"Kenapa kau di sini? Ingin melihat dia juga, ya?" protes Rion.


"Rion, dari tadi aku lihat kau memperhatikan karyawan barumu itu saja!" ujarnya.


"Itu perasaanmu saja, aku hanya melihat kinerja dia tidak lebih," jelas Rion.


"Benarkah?"


"Jangan banyak bertanya, sudah sana kembali bekerja," Rion mengusir karyawan sekaligus sahabatnya itu.

__ADS_1


-


-


Pukul 4 sore, akhirnya jadwal kerjanya berakhir. Rista duduk sambil memijat kakinya karena seharian ini ia harus mondar-mandir melayani tamu.


Rista hanya bisa beristirahat selama 30 menit saja. Pengunjung restoran hari ini cukup ramai, dua kali lipat dari kemarin.


Melihat Rista memijat kakinya tanpa sadar Rion berjongkok membantu wanita itu memijatnya.


Rista yang sadar kakinya di sentuh bergegas berdiri.


"Maaf!" ucap Rion karena ia telah bertindak bodoh memegang kaki wanita yang bukan siapa-siapa.


Rista hanya diam, ia ingin marah karena pria itu telah lancang menyentuh kakinya.


"Kamu sudah boleh pulang," ujar Rion membuyarkan kecanggungan keduanya.


"Ya, Tuan." Rista pun segera ke ruang khusus karyawan mengganti pakaiannya lalu bersiap pulang.


Rion menghampiri Rista yang baru saja keluar dari ruangan karyawan. "Mau ku antar pulang?" tawarnya.


"Tidak, Tuan. Terima kasih," jawab Rista.


"Kamu kelihatan sangat lelah hari ini dan kakimu pasti masih sakit biar ku antar pulang," Rion tetap memaksa.


"Tidak usah, Tuan. Saya masih bisa berjalan, lagian rumah saya tak terlalu jauh dari sini. Terima kasih tawarannya, permisi!" Rista melangkah cepat meninggalkan restoran.


-


Begitu sampai rumah, Rista mengambil air putih di atas meja dan meminumnya.


Elisa yang baru saja keluar dari kamar melihat wajah putrinya sangat kelelahan. "Bagaimana pekerjaanmu hari ini, Nak?"


"Hari ini sangat ramai sekali, Bu. Kakiku sakit," jawabnya.


"Pergilah mandi, Ibu akan memijitnya!"


"Baiklah, Bu!" Rista ke kamar mandi membersihkan diri.


Setelah selesai sesuai janjinya, Elisa memijat kaki putrinya. "Pekerjaanmu kali ini sangat berat ya, Nak. Andai kamu masih di perusahaan itu pasti tidak akan seperti ini."


"Bu, cukup. Jangan bahas perusahaan itu, aku tidak ingin mengingatnya," ujar Rista.


Elisa pun diam, ada rasa bersalah di hatinya karena tak memberi tahu sebenarnya kepada Rista tentang masa lalu ibunya sebelum kejadian.


Karena sangat lelah, akhirnya Rista tertidur.


-


-


Rista terbangun karena mendengar suara ponselnya berdering, ia menjawab panggilan tersebut. "Halo, Sel. Apa kabarnya?"


"Aku baik, bagaimana dengan dirimu dan ibumu?"


"Aku dan Ibu baik-baik saja."


"Rista, kemarin Presdir menanyakan kau," ujarnya.


"Untuk apa lagi dia menanyakan aku?"


"Mungkin dia masih mencintaimu," jawabnya.


Rista menarik nafas panjang lalu ia hembuskan, "Jika dia mencintaiku takkan mencampakkan aku seperti ini!"


"Mungkin dia baru sadar dan menyesal," ujar Sella.


"Semua sudah terlambat, aku tidak ingin mengingatnya lagi sangat menyakitkan!"


"Ya, kau benar. Bagaimana dengan pekerjaan barumu?"


"Aku senang melakukannya walau sangat lelah."


"Syukurlah, semoga kau baik-baik saja di sana. Aku rindu denganmu, Rista. Kita sekarang sudah jarang bertemu," ujarnya.


"Jika libur kau bisa mengunjungi ku kemari."


"Benarkah?"


"Ya."


"Baiklah, aku akan mengunjungimu. Beri alamat lengkap kau, jika ada waktu ku akan datang!" pintanya.


"Ya, aku akan mengirimkan alamatnya."


"Aku tunggu segera!"


"Iya, Sella. Sampai jumpa!"


"Sampai jumpa juga!" Sella menutup panggilan teleponnya.


Rista mengirimkan alamat rumahnya kini melalui pesan singkat berwarna hijau.

__ADS_1


Sebelum beranjak dari tempat tidurnya, ia membuka media sosialnya. Sebuah pesan singkat masuk di aplikasi berwarna coklat, Rista membacanya tertera nama pengirim Darren dengan tulisan kata, 'Hai!'


Rista menarik sudut bibirnya tak membalas pesan dari mantan kekasihnya. "Aku memang dulu sangat menyukaimu, Presdir. Tetapi, sekarang ku harus benar-benar melepaskanmu!" lirihnya.


__ADS_2