Jangan Mengejarku, Cantik!

Jangan Mengejarku, Cantik!
S2-bagian 6


__ADS_3

Raiza menengguk air mineral dalam botol tanpa sisa, tatapannya sangat kosong.


Hal itu membuat Andra yang berada di kursi kemudi tampak khawatir. "Nona, apa anda baik-baik saja?"


Raiza tersentak mendengar pertanyaan sopirnya.


"Nona, apa anda mendengar saya?" tanya Andra sekali lagi.


"Ya," jawab Raiza pelan.


"Apa anda butuh teman cerita?"


"Tidak, terima kasih. Kita pulang saja!" perintahnya.


"Baiklah, Nona." Andra pun menyalakan mesin mobil dan melesat ke rumah orang tua Raiza.


Sesampainya di rumah Raiza berjalan cepat ke kamarnya, hal itu membuat Raisa keheranan. Ia lalu menanyakan sebab putrinya tampak murung kepada Andra.


"Kenapa dengan Raiza?"


"Saya tidak tahu, Nyonya. Setelah melihat seseorang dan menyebut nama Axel. Nona Raiza mendadak berubah," jelasnya.


"Axel? Bukankah dia lagi di luar negeri?" tanyanya lirih.


"Nona juga mengatakan 'dia sudah di negara ini'," ujar Andra.


"Jika Raiza bertemu dengan pria itu, beri tahu saya!" titahnya.


"Kalau boleh saya tahu, siapa Axel, Nyonya?"


"Saya kurang tahu hubungan antara mereka, namun empat tahun yang lalu Raiza menangis karena di tinggal Axel sekolah di luar negeri," ungkapnya.


Andra mengangguk paham.


-


-


Menjelang sore hari, Andra belum juga pulang untuk beristirahat. Ia ingin menghibur Raiza dan menanyakan apa yang membuat gadis itu bersedih.


Sesuai harapannya, Raiza muncul di taman samping rumahnya. Ia duduk sembari menatap langit sore hari.


Andra mendekati gadis itu dengan membawa permen kesukaannya. Andra menyodorkan permen tepat di depan wajah Raiza.


Gadis itu mendongakkan kepalanya melihat siapa yang memberikan dirinya permen. Ia pun meraihnya lalu mengucapkan terima kasih.


"Apa anda masih bersedih?" Andra masih berdiri di samping.


Raiza menggelengkan kepalanya pelan.


"Jika Nona ingin bicara, saya siap mendengarnya," ujarnya.


Raiza menarik sudut bibirnya. "Apa kau pernah menyukai seseorang tapi dia malah memilih orang lain?"


"Pernah, Nona."


"Bagaimana rasanya?" tanyanya pelan.


"Sakit tapi tidak terlalu parah," jawab Andra asal.


Raiza mengarah tatapannya kepada pengawal pribadinya dan tertawa tipis.


Andra menarik ujung bibirnya, ia merasa bahagia melihat Raiza bisa tersenyum walau tipis.


"Dia sahabat kecilku, dia selalu menolongku, terkadang menghiburku. Tetapi semuanya berakhir empat tahun lalu, saat aku menyampaikan perasaan ku," Raiza berkata lirih tak terasa air matanya menetes.


"Dia menolak Nona hari itu juga?"


Raiza menggelengkan kepalanya.


"Lalu?"


"Dia menolakku seminggu setelahnya, dia memutuskan melanjutkan pendidikan di luar negeri. Dia sudah berjanji akan menghubungiku jika kembali. Tapi, semua kenyataannya berbeda...."


Andra memberikan tisu dalam bungkusan kecil yang selalu di simpannya di kantong kemeja.


Raiza mengambilnya dan menggunakannya.


"Nona melihat dia bersama wanita lain dan pernyataan cinta yang Nona ucapkan sampai sekarang belum ada jawaban," tebak Andra.

__ADS_1


"Ya," ia berkata lirih.


"Bolehkah saya mengatakan kalau anda itu terlalu bodoh?"


Raiza menatap serius pria yang tetap berdiri di sampingnya, "Maksudnya kau, aku bodoh karena terlalu mencintainya?"


"Ya."


"Aku memang bodoh, menunggu seseorang yang sama sekali tidak mencintaiku," jawab Raiza. "Seandainya itu terjadi padamu, apa kau akan melakukan hal yang sama seperti aku?" lanjut bertanya.


"Saya akan mencari wanita lain yang cintanya luar biasa," jawab Andra.


"Semoga saja, kau tidak bernasib sama seperti ku," ujarnya tersenyum.


Andra juga tersenyum.


"Hari menjelang malam, apa kau tidak pulang?"


"Saya akan pulang setelah memastikan kalau Nona baik-baik saja," jawab Andra.


"Saya baik-baik saja, kau jangan khawatir," ujar Raiza.


"Syukurlah, kalau begitu," Andra tersenyum lega.


Raiza berdiri, "Terima kasih sudah mendengarkan ceritaku."


"Jika itu membuat Nona merasa tenang, itu tidak masalah kalau harus mendengarnya selama berjam-jam," ujar Andra.


...----------------...


Andrean melakukan pemotretan hari ini, ia berharap Raisa akan datang berkunjung dan benar saja gadis itu muncul menemani ibunya.


Ya, Raisa datang ke Arta Fashion untuk menemui Darren dalam rangka kerja sama di bidang amal. Keduanya akan melakukan aksi sosial membantu warga yang membutuhkan melalui pengobatan gratis.


Bakti sosial akan dilaksanakan selama sepekan. Jika ada warga yang diharuskan di rawat di rumah sakit seluruh biaya pengobatan akan ditanggung Arta Fashion dan showroom mobil milik Eza.


Andrean yang melihat kehadiran Raiza dengan cepat menghampirinya.


Raiza hendak turun menggunakan lift ia urungkan sementara dan memilih berbicara pada Andrean yang memanggilnya.


"Akhirnya kita bertemu lagi di sini," Andrean tersenyum.


"Bagaimana kabarmu?"


"Baik," jawab Raiza.


"Apa kamu suka dengan jam itu?"


"Ya, aku suka. Terima kasih, maaf baru menyampaikannya," jawabnya.


"Aku senang jika kamu suka," Andrean tampak gugup.


Raiza hanya tersenyum tipis.


Andrean pun diam.


"Kalau begitu aku duluan, ya!" pamit Raiza.


"Ya, aku harap kita bisa mengobrol lebih lama sembari minum kopi," pintanya.


"Itu bisa diatur, sampai jumpa!" Raiza pun turun menggunakan lift.


-


-


Setelah mengantar Raiza dan mamanya, Andra menemui Bella.


Di sebuah kafe, wanita seksi itu duduk sambil menikmati kopi. Ia tersenyum ketika Andra berjalan mendekatinya.


"Aku tidak ingin berbasa-basi, cepat bicara!"


"Andra, bisakah kamu berbicara lembut padaku?" Bella bertanya dengan nada manja.


"Bicara lembut, bukankah kamu sendiri yang meninggalkan aku demi pria itu?"


"Dia ternyata pria yang kasar dan jahat," ungkap Bella.


"Jadi kamu kembali menemui aku karena pria tak sesuai harapanmu?"

__ADS_1


Bella mengangguk.


"Maaf, aku tidak bisa menerima kamu kembali. Ku sudah mencintai seseorang," ujar Andra.


"Siapa dia, An?"


"Kamu tidak perlu tahu!"


Bella tersenyum sinis, "Aku tidak percaya kamu memiliki penggantiku. Apa kamu hanya berpura-pura?"


"Terserah kamu!" Andra beranjak berdiri.


"An, aku tidak membawa mobil. Bisakah kamu mengantarkan aku pulang?" mohonnya.


Andra merogoh kantongnya dan mengambil dompet, ia lalu mengeluarkan dua lembar uang berwarna biru kemudian meletakkannya di atas meja. "Buat ongkos taksi!"


"Kamu tega membiarkan aku pulang sendiri?" Bella menunjukkan wajah sedih.


"Kamu datang sendiri, jadi pulang juga sendiri," jawab Andra kemudian ia berlalu.


Bella menghentakkan kakinya karena kesal.


Andra mengendarai mobil meninggalkan kafe. Di tengah perjalanan tatapannya tertuju pada seorang pria yang menyeberang.


Andra memelankan laju kendaraannya agar bisa melihat pasti pria itu.


Dan benar saja, pria yang menyeberang adalah Axel. Nama yang beberapa hari lalu di sebut Raiza.


Andra tersenyum sinis, "Pria seperti itu yang membuat dia menangis!"


Andra melanjutkan perjalanannya.


-


Baru saja sampai di rumahnya, Andra mendapatkan telepon dari Raiza untuk mengantarnya ke kafe.


Andra meraih kunci mobilnya dan melesat ke kediaman Eza.


Raiza sudah berpakaian rapi dan memasuki mobil ketika pria itu tiba.


Mobil pun mengarah ke tempat tujuan, tak sampai 15 menit Raiza turun di susul Andra yang akan memilih duduk di teras kafe sedikit menjauh dari atasannya itu.


Raiza menoleh ke belakang, ia lalu membalikkan badannya berjalan mendekati Andra dengan cepat pria itu berdiri lagi.


Andra tak menyangka jika Raiza menyentuh tangannya dan menariknya.


"Kau tidak duduk di sini tetapi di sana bersamaku!" ajaknya.


Andra mengangguk pelan mengiyakan.


Raiza melepaskan genggamannya, ia berjalan ke meja tujuan.


Keduanya duduk bersebelahan tak lama kemudian seorang pria muda menghampiri mereka.


Andrean tersenyum ketika melihat Raiza namun seketika senyumnya memudar menatap Andra di samping gadis itu.


"Aku sengaja mengajak dia menemui kamu, karena Andra adalah pengawal ku," jelas Raiza.


Andrean mengangguk paham.


Mereka pun saling mengobrol hanya Andra memilih diam, ia hanya berbicara ketika ditanya.


Andra menyeruput kopinya sembari melirik Andrean yang terus menatap Raiza. Ada perasaan cemburu ketika model pria itu melihat Raiza.


Tak sampai 30 menit, Andrean memutuskan untuk mengakhiri obrolan karena ada pekerjaan yang harus ia kerjakan.


Tak lama Andrean pergi, Raiza beranjak berdiri dari kursinya begitu juga dengan Andra.


Langkah Raiza terhenti saat melihat pria yang selama ini ia kagumi berada dihadapannya. "Axel!" lirihnya.


"Raiza!" pria itu tampak terkejut.


"Hai!" Raiza menyapa dengan suara pelan.


"Za, ini tak seperti yang kamu kira," Axel melepaskan genggamannya dari gadis di sampingnya itu, ia tampak gugup.


Raiza berusaha tersenyum, "Tidak masalah. Permisi!" ia melanjutkan melangkah melewati Axel.


Andra juga mempercepat langkahnya menyusul gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2