Jangan Mengejarku, Cantik!

Jangan Mengejarku, Cantik!
Aku Cemburu (2)


__ADS_3

Dua hari setelah malam penghargaan, Darren dan Rista kembali bertemu di Mall Cahaya.


Darren datang mengunjungi toko milik Arta Fashion yang berada di Mall tersebut sebelum jam pengunjung di buka.


Darren bersama Yuno ingin melihat produk-produk yang ditawarkan di tokonya. Matanya tertuju pada pria dan wanita yang berjalan sembari mengobrol tampak Rista selalu tersenyum.


Darren terdiam melihat keakraban keduanya.


Rista juga datang untuk memantau toko milik perusahaannya yang berada di pusat perbelanjaan itu.


"Tuan!" panggil seorang manajer toko.


Darren tak mendengar panggilan tersebut.


"Tuan Darren!" Yuno kali ini yang memanggilnya.


Namun tak dihiraukannya.


Yuno mengikuti arah tatapan Darren, "Pantas saja!" lirihnya.


"Apa kau ingin melihat dia terus seperti itu?" bisik Yuno di telinga Presdir.


Darren segera tersadar ketika mendengar bisikan sekretarisnya itu.


"Kita ke sini untuk mengecek toko, bukan melihat kekasih pria lain," celetuk Yuno berbisik.


"Tuan, mari saya tunjukkan!" ucap Manajer.


"Ya," Darren berusaha bersikap dingin, tegas dan wibawa.


-


"Terima kasih Tuan Frans telah menemani saya berkeliling toko," ujar Rista tersenyum.


"Sama-sama, Nona Rista."


"Kalau begitu saya pamit balik ke kantor," ujar Rista lagi.


"Apa mau saya antar?" tawar Frans.


"Saya bersama sopir, terima kasih tawarannya," jawabnya.


"Ya," Frans mencoba tersenyum walau sedikit kecewa. "Bagaimana kalau lain waktu kita makan siang bersama?" tawarnya lagi.


Rista tersenyum lalu menjawab, "Saya akan usahakan!"


"Terima kasih, aku senang mendengarnya," Frans tersenyum bahagia.


Rista berjalan ke arah pintu utama Mall, Darren melihat mantan kekasihnya melangkah seorang diri meminta Yuno untuk melanjutkan pengecekan di toko.


Darren mengikuti langkah Rista, ia pun memanggil nama wanita itu.


Rista menoleh ke belakang, namun tanpa senyuman.


"Akhirnya kita bertemu lagi," ujar Darren.


"Ada apa?" tanya Rista ketus.


"Kau dan dia semakin akrab saja," tukasnya.


"Ya, memangnya kenapa? Apa itu jadi masalah bagi anda?"


"Ya, aku cemburu," jawab Darren tanpa sadar.


Rista menarik ujung bibirnya, "Kalau boleh saya tahu kita ada hubungan apa, sehingga anda cemburu?"


Darren tak bisa menjawabnya.


Rista membalikkan badannya lalu lanjut melangkah ke mobilnya.


...----------------...

__ADS_1


Yuno memberikan laporan bahwa penjualan produk di toko yang ada di Mall mengalami penurunan sebesar 30 persen.


"Penjualan kita harus berada di bawah Karisma Fashion, perusahaan itu sepertinya sangat cepat menyalip kita," ujar Yuno.


"Karena salah satu petinggi di perusahaan itu adalah mantan karyawan perusahaan ini. Sedikit atau banyaknya dia tahu kelemahan kita."


"Kau ingin mengatakan jika Rista turut andil dalam kemajuan Karisma Fashion?"


"Bisa jadi."


"Kenapa kau tidak membawa dia kembali lagi ke sini?"


Darren menarik simpul senyumnya, "Kau ingin aku menjilat ludahku sendiri?"


"Ya, tidak juga. Karena itu tak mungkin kau lakukan untuk kedua kalinya," Yuno memberikan jawaban menyindir.


Darren menghela nafasnya.


"Apa langkah selanjutnya yang akan kita lakukan?" tanya Yuno.


"Kita akan mengadakan rapat sejam lagi," perintahnya.


"Baiklah," Yuno pun pamit keluar ruangan.


-


Sejam kemudian...


Rapat dilaksanakan dipimpin oleh Darren Artama. Jajaran direksi telah berkumpul di ruangan khusus pertemuan.


"Tuan, para pembeli kita menginginkan rancangan Nona Rista dan saat ini kita butuh brand ambassador untuk menunjang penjualan kita."


"Apa kita kekurangan desainer?" tanya Darren.


"Tidak, Tuan. Para desainer kita tak bisa memenuhi permintaan pasar yang sesuai harapan masyarakat."


"Masalah model, bagaimana?" tanya Darren.


"Kita belum dapat yang cocok, Tuan."


Seluruh peserta rapat terdiam.


"Ini tugas kalian mengatasi kekacauan, penjualan seminggu ini harus naik. Kalau tidak aku akan memotong gaji kalian!" ancam Darren. Ia beranjak berdiri dan meninggalkan ruangan rapat disusul Yuno.


"Tuan Darren kenapa bisa sekejam itu? Padahal selama dia memimpin tak pernah dia mengancam kita dengan pemotongan gaji," ungkap salah satu petinggi perusahaan.


"Entahlah, sejak ditinggal Nona Rista dia lebih galak dan suka marah-marah," ucap yang lainnya.


"Apa kita bertemu saja dengan Nona Rista?" usul lainnya.


"Bagaimana jika pertemuan kita di ketahui Presdir?"


"Aku akan mengundurkan diri," jawabnya.


"Aku juga," sahut yang lainnya. "Karisma Fashion sangat menjanjikan apalagi Nona Rista berada di sana!"lanjutnya.


"Ya, kita memang harus melakukan pertemuan rahasia dengan Nona Rista."


-


-


Tiga orang petinggi Arta Fashion sore harinya melakukan pertemuan dengan Rista di sebuah kafe.


"Selamat sore, Nona!" salah satu tamu Rista menyapa dan bersalaman.


"Selamat sore juga!" Rista bersalaman dengan ketiga tamunya. "Ada keperluan apa kalian ingin bertemu dengan saya?" tanyanya.


"Arta Fashion sedang mengalami kesulitan sejak anda pergi, para pelanggan kami menginginkan desain Nona. Belum lagi, Tuan Darren akhir-akhir ini sering marah. Bahkan dia mengancam memotong gaji kami karena membuat penjualan menurun."


"Saya sudah tidak bisa lagi ikut campur dalam urusan Arta Fashion," ujarnya.

__ADS_1


"Nona, tolonglah kembali. Arta Fashion membutuhkan anda," pinta seorang diantaranya.


"Saya tidak bisa, saya sekarang adalah pesaing kalian," tolaknya.


"Kalau begitu kami akan ikut dengan anda saja, Nona!" ucap yang lainnya.


"Tidak bisa, Arta Fashion sangat membutuhkan kalian. Tuan dan Nona sekalian sudah mengabdi di perusahaan lebih dari lima tahun. Saya mohon tetaplah di sana, kita akan bersaing secara sehat," jelas Rista.


Hampir satu jam mereka mengobrol sembari menikmati kopi. Ketiganya pun pamit dan berlalu. Tanpa mereka sadari sepasang mata memperhatikan pertemuan keempatnya.


"Sungguh licik, dia ingin merebut orang-orang ku juga," Darren mengeraskan rahangnya.


Rista beranjak dari kursinya, namun seorang pria yang dikenalnya berdiri tepat dihadapannya.


"Begini caramu menghancurkan Arta Fashion, pengkhianat!" tudingnya.


Rista yang mendapatkan tudingan tersebut hanya tersenyum.


"Kau sengaja menghubungi mereka dan mengajak bertemu," ujar Darren.


"Apa anda bisa memberikan bukti?"


"Kalian berempat berkumpul dan saling mengobrol bukankah kau ingin merencanakan sesuatu?"


Rista menghela nafasnya.


"Rencana apa yang kau buat?" desak Darren.


"Tidak ada."


"Jangan berbohong!" sentaknya, membuat beberapa pengunjung menatap keduanya.


"Terserah dirimu saja, Tuan!" Rista meraih tasnya dan beranjak pergi.


Darren menyusul wanita itu, "Tunggu!"


Rista tak menghiraukannya dan tetap berjalan.


Darren menarik lengan Rista, "Ternyata dugaan aku benar, kalau dirimu memang pengkhianat!"


"Ya, aku memang pengkhianat. Aku hanya ingin membuktikan ucapanmu saja!"


Darren mengeraskan rahangnya.


"Apa anda bisa melepaskan saya?" Rista tersenyum sinis.


Darren melepaskan genggamannya.


Rista pun bergegas menaiki mobilnya.


...----------------...


Darren akhirnya memanggil ketiga karyawannya yang bertemu dengan Rista.


"Jelaskan pertemuan kalian kemarin!"


"Pertemuan apa, Tuan?" tanya salah satunya tampak gugup.


"Masih saja bertanya, kalian mau dipecat?"


"Tidak, Tuan." Jawab ketiganya serentak.


"Cepat jelaskan kenapa kalian bertemu dengan Ayumi Charista?"


"Kami yang mengajak Nona Rista bertemu, Tuan. Kami ingin dia kembali ke sini lagi untuk memajukan Arta Fashion," ungkap salah satu diantaranya.


"Kalian pikir, aku tak mampu membesarkan perusahaan hingga menyuruh wanita itu kembali lagi," hardiknya.


"Kami percaya, Tuan."


Darren membuang nafasnya secara kasar. "Sekarang kalian bisa pergi!"

__ADS_1


Ketiganya pun keluar ruangan khusus tamu Presdir.


Darren teringat ucapannya yang menuduh Rista melakukan pertemuan rahasia dengan ketiga karyawannya.


__ADS_2