
Raiza menjalankan hari dengan penuh keyakinan, apalagi Eza sudah mengatakan tegas kalau akan membantunya berbicara dan membela dirinya dihadapan Opa Devan.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi, namun pria itu tak kunjung datang. Andra akan tiba tepat 30 menit sebelum Raiza ke sekolah.
Padahal ini sudah lewat 30 menit, Andra tak memunculkan batang hidungnya. Pesan atau telepon sama sekali tidak ada. Mencoba menghubunginya juga sangat sulit.
Khawatir, cemas dan curiga menjadi satu di hatinya. Raiza lantas menghampiri Raisa yang sedang sibuk dengan laptopnya.
"Mama!" panggilnya.
"Ya, ada apa?" mata tetap fokus di depan layar.
"Andra sama sekali belum datang padahal sudah jam delapan," jawabnya.
"Kamu teleponlah!" saran Raisa.
"Tidak aktif nomor ponselnya," ujar Raiza.
"Mungkin dia lagi sakit," Raisa berkata tanpa menatap putrinya.
"Sakit apa?"
"Mana Mama tahu," jawab Raisa.
"Aku akan ke rumahnya sekarang," ucapnya.
"Raiza, kamu sudah libur sehari. Tak mungkin hari ini tidak masuk sekolah," Raisa mengingatkan putrinya.
"Tapi, Ma..."
"Nanti biar Mama yang menghubunginya," ujar Raisa. "Pergilah sekolah!" perintahnya.
"Baik, Ma," ucap Raiza malas.
-
-
Sepulang sekolah, Andra sudah menunggu gadis itu di parkiran dengan bersandar di mobil.
Dari kejauhan Raiza tersenyum menatap pria yang ia tunggu muncul dihadapannya.
"Kenapa tadi pagi kau tidak menjemputku?" Raiza bertanya saat jarak keduanya dekat.
"Saya ke rumah Tuan Besar, Nona."
"Ada apa ke sana?"
Andra tak menjawab, ia membukakan pintu untuk Raiza.
Di dalam mobil gadis itu bertanya lagi. "Kenapa ke rumah Opa?"
"Saya ingin mengundurkan diri, Nona."
"Apa!" Raiza tampak terkejut. "Kenapa? Harus mengundurkan diri?" cecarnya.
"Karena saya ingin bekerja di perusahaan Arta Fashion dan Tuan Devan mengizinkan saya membawa ibu ke sana," ujar Andra.
Raiza yang mendengarnya seketika mendadak bersedih. "Kau meninggalkanku di sini?" tanyanya lirih.
"Nona, tidak sendiri. Ada kedua orang tua, Tuan dan Nyonya Besar serta calon suami," jawab Andra.
Raiza tertawa tipis, "Ya, kau benar. Aku ada mereka, kenapa ku baru sadar?" tanyanya pada diri sendiri.
Andra tetap fokus menyetir.
Raiza memalingkan wajahnya dari pria itu.
"Nona!"
"Ya," Raiza menatap wajah Andra dengan senyum terpaksa.
__ADS_1
"Maaf, jika selama ini saya melakukan kesalahan," ujarnya.
"Aku yang harusnya meminta maaf, mungkin keputusanmu mengundurkan diri karena ucapanku kemarin," tebak Raiza.
"Bukan itu, Nona."
"Sudahlah lupakan saja, lagian kita takkan bertemu lagi. Mungkin kau akan bertahun-tahun di sana dan aku segera menikah," ungkapnya.
"Saya akan datang ke pernikahan, Nona." Janji Andra.
"Ya, kau memang harus datang memberikan aku selamat bahagia," ucap Raiza.
"Saya akan sempatkan datang," ujar Andra.
"Ya."
"Bagaimana kalau hari ini Nona saya traktir makan dan bermain di wahana permainan?" Andra memberikan tawaran.
"Boleh juga," Raiza menjawabnya dengan terpaksa.
Keduanya makan siang bersama tak ada obrolan sama sekali.
Setelah itu mereka lanjut ke wahana permainan, tempat di mana Raiza dan Andrean pernah berkunjung.
Andra berusaha membuat Raiza tertawa dengan mencoba semua permainan yang ada.
Akhirnya Raiza bisa tertawa lepas, Andra membawakan dua botol minuman.
"Saya sudah lelah. Apa Nona masih mau lanjut?"
"Ya, aku ingin menghabiskan waktuku hari ini bersamamu," Raiza tersenyum lalu menenggak minuman botol.
Keduanya melanjutkan permainan yang memacu adrenalin. Raiza begitu semangat ketika menaiki roller coaster.
Andra duduk bersebelahan dengan Raiza yang tersenyum.
Permainan pun dimulai, Raiza berteriak sekencang-kencangnya hingga memekakkan telinga. Dirinya seperti meluapkan rasa sesak dan amarah di dadanya.
Raiza pun pasrah ketika dirinya diajak pulang padahal ia ingin berlama-lama dengan pria itu.
Andra membelokkan mobilnya ke arah rumah makan. Karena keduanya sangat kelaparan setelah lelah bermain di wahana permainan.
"Terima kasih buat hari ini," Raiza tersenyum.
"Sama-sama, Nona."
"Karena makan siang dan wahana permainan kau yang teraktir. Jadi sore ini, giliran aku. Anggap saja terakhir kali dan buat perpisahan kita," ujar Raiza.
Andra tersenyum tipis. Hati kecilnya mengatakan tak rela berpisah dengan Raiza.
Andra sudah jatuh hati pada Raiza 5 tahun yang lalu, keduanya bertemu di acara pesta keluarga dari pihak Clarissa yang di selenggarakan di Kota B. Saat itu, Raiza sebagai dayang-dayang pengantin.
Andra yang datang menemani Opa Hilman, menatap dari jauh gadis yang terlihat begitu cantik dimatanya sedang memegang bunga.
Sejak itu ia berusaha agar bisa masuk ke lingkungan keluarga Artama hanya untuk melihat Raiza. Walaupun dirinya masih menjalin hubungan dengan Bella, namun hati Andra sudah tertambat dengan Raiza.
Dan kesempatan itu datang padanya ketika ia ditawarkan menjadi pengawal pribadi gadis itu. Andra menyambutnya senang apalagi hubungannya dengan Bella telah berakhir.
"Kapan kau akan berangkat ke Belanda?"
"Seminggu lagi, Nona."
"Bukankah itu hari ulang tahunku, apa kau tidak menunggu acara bahagia aku selesai lalu kemudian berangkat?" sarannya.
"Tidak bisa, Nona."
"Kenapa?"
"Tuan Devan yang menyuruhnya."
"Oh, begitu. Aku bisa apa kalau Opa sudah berkehendak," ujarnya pasrah.
__ADS_1
"Aku yakin pilihan Tuan Besar terbaik untuk Nona."
"Ya, semoga saja aku bisa bahagia bersamanya," harapnya.
"Saya yakin Nona pasti bahagia dengannya!"
"Ya."
Jarum jam menunjukkan pukul 6 sore, keduanya beranjak dari tempat duduk. Andra berjalan lebih dahulu dan Raiza di belakang.
Andra yang berada di depan terdorong.
Bruukk......
Suara dentuman keras dan teriakan pengunjung restoran membuat Andra membalikkan badannya.
Andra membulatkan matanya melihat Raiza tergeletak penuh darah di wajahnya. Ia berlari mendekati dan merangkul tubuh gadis itu, "Nona!"
Raiza hanya tersenyum berusaha menahan sakit.
Orang-orang disekitar menyingkirkan lampu hias yang jatuh mengenai Raiza.
"Nona, bertahanlah!" wajah Andra tampak pucat dan panik, matanya mulai berair.
"Sebentar lagi ambulans datang, tenanglah!" ujar salah satu karyawan restoran juga ikutan ketakutan.
Raiza menutup matanya.
"Nona, bangunlah!" panggilnya dengan suara lantang.
Ambulans pun tiba, dua orang petugas medis membawa Raiza ke dalam mobil.
Andra ikut menemani Raiza di dalam ambulans. Ia terus berada di dekat gadis itu dengan memegang tangannya.
"Andra!" panggilnya lirih. Raiza perlahan membuka matanya.
"Jangan bicara, Nona!" mohonnya dengan berurai air mata.
"Kau menangis?" tanyanya lirih.
Andra menyeka air matanya.
"Aku mencintaimu!" ucapnya dengan nada sangat pelan.
"Jangan berkata apapun, Nona."
Raiza menutup matanya kembali.
"Nona, bangunlah. Jangan tinggalkan saya!" panggilnya.
Tak ada sahutan.
"Aku mencintaimu, Nona!" Andra membisikkannya di telinga Raiza dengan suara isak.
Raiza sama sekali tak merespon.
Andra semakin panik, ia mengecup tangan Raiza. "Maafkan aku!" ia memegang wajah gadis yang tampak pucat.
Ambulans pun tiba di rumah sakit.
Raiza di pindahkan ke brankar, Andra terus memegang tangan gadis itu tanpa ia lepaskan hingga di ruang pengobatan keduanya terpisah.
Andra mengambil ponsel di saku celananya dengan tangan gemetaran ia menghubungi Eza.
Dengan suara diiringi tangisan Andra berbicara dengan pria paruh baya itu melalui panggilan telepon.
Suara perawat memanggilnya, membuat Andra mengakhiri pembicaraannya dengan orang tua Raiza.
Andra memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku, lalu menoleh ke arah perawat.
"Tuan, pasien membutuhkan donor darah!"
__ADS_1