
Ketika Raiza dipasangkan dengan Andrean penjualan produk semakin meningkat. Para penggemar sang artis menyandingkan keduanya sebagai pasangan yang sangat serasi.
Pernyataan para penggemar membuat Andrean merasa senang, apalagi ia sudah jatuh hati pada gadis itu.
Sementara Raiza yang membacanya hanya tersenyum tipis.
Devan yang mendengar berita itu sangat geram. "Memangnya mereka siapa? Menyandingkan cucuku dengan pria itu!"
Clarissa yang berada di samping suaminya mengulum senyum. "Raiza sudah dewasa dia berhak menentukan pilihannya."
"Tapi, aku tidak suka Raiza menikah dengan seorang artis," berkata dengan tegas.
"Bagaimana kalau mereka berjodoh?" celetuk Clarissa.
"Kenapa kau sangat optimis menjodohkan mereka?" menatap tajam istrinya.
"Aku tidak menjodohkan mereka hanya mengatakan bagaimana jika berjodoh, cuma itu saja."
"Raiza hanya boleh menikah dengan pilihanku!"
"Memangnya kau akan menjodohkannya dengan siapa?"
"Andra."
Clarissa sejenak berpikir lalu berkata, "Aku setuju dengan pemuda itu."
"Makanya ku menyuruh dia menjadi pengawal Raiza agar mereka semakin dekat," ungkapnya.
"Jadi itu alasanmu memaksa Raiza memiliki pengawal?"
"Ya."
-
-
Di sekolah berita kedekatan Raiza dan Andrean menjadi heboh apalagi foto kebersamaan mereka ketika di lokasi syuting juga tersebar.
Para siswa berebutan meminta foto dirinya. Hingga Niken dan Tere kewalahan melayani penggemar dadakan sahabatnya itu.
Raiza berjalan cepat ke parkiran, begitu juga dengan Niken dan Tere.
"Ternyata capek sekali menjadi fotografer dadakan seperti ini," keluh Niken.
"Ternyata benar Opa Devan katakan, dia tak ingin kau dikejar-kejar penggemar dan wartawan," ujar Tere.
"Ya, itu alasannya," sahut Raiza.
...----------------...
Hari ini adalah hari libur dan pagi ini Raiza berlari-lari kecil sekitaran perumahannya.
Di mana ada Raiza di sanalah pasti ada Andra. Pria itu selalu mendampinginya ke mana pun ia pergi.
"Ini hari libur, kenapa kau masih bekerja saja?" sindirnya.
"Nyonya Raisa yang menyuruh saya menemani, Nona."
"Aku sedang tidak ke mana-mana, jadi kau tak perlu menemaniku," ujarnya.
"Saya hanya menjalankan tugas saja, Nona."
Raiza tampak kesal mendengar jawaban Andra yang selalu saja benar, akhirnya memilih berlari lebih cepat menjauh darinya. Tanpa ia sadari, sebuah mobil melaju kencang ke arahnya.
Andra yang menyadarinya berlari dengan cepat dan menarik tangan Raiza menjauh dari jalanan.
Andra mendekap tubuh Raiza erat. Jantungnya berdetak sangat kencang, itu bisa di rasakan dan di dengar oleh gadis itu.
"Aku baik-baik saja, An." Raiza berkata lirih.
Andra melepaskan pelukannya.
"Apa kau begitu sangat khawatir padaku?" tanyanya pelan.
"Ya, Nona. Saya tidak ingin sesuatu terjadi pada anda," jawabnya dengan nafas masih memburu.
"Terima kasih," Raisa tersenyum kecil.
"Sama-sama, Nona."
Keduanya kembali berlari mengelilingi perumahan, sesekali Raiza melirik pria yang ada di sampingnya.
-
Selesai berolahraga, Raiza mengajak Andra sarapan pagi bersama. Kebetulan hari ini Raisa dan suaminya tidak berada di rumah.
Raiza mengoleskan selai strawberry di roti, ia juga menuangkan jus jeruk di gelas begitu juga dengan air putih.
"Nona, biar saya saja yang melakukannya," Andra menolak di layani seperti itu.
"Aku yang mengajakmu, jadi hari ini kau menjadi tamuku," ujar Raiza.
__ADS_1
Andra pun hanya diam.
Raiza menyajikan dua potong roti yang sudah diolesi selai, sepiring kecil buah potong, segelas jus jeruk, segelas air putih dan segelas susu sapi.
"Nona, tidak salah menyajikan kepada saya sebanyak ini?" Andra tampak heran.
"Tidak," jawabnya santai.
"Saya tidak sanggup untuk menghabiskan semua ini," ujar Andra.
"Pelan-pelan saja, jangan terburu-buru," Raiza tersenyum.
"Jangan hukum saya, kalau tidak habis," ujar Andra.
"Kau tetap harus menghabiskannya, karena butuh tenaga untuk menjagaku," Raiza berkata dengan santai.
Andra memakan sepotong roti, lalu meminum segelas susu dan setengah gelas air putih.
Raiza juga menikmati hidangan yang sama. "Kenapa jus jeruknya tidak di minum?"
"Saya sudah kenyang, Nona."
"Kalau begitu setengah jam lagi nanti diminum," titahnya.
"Tapi, Nona...."
"Andra, kau butuh tenaga yang banyak untuk selalu berada di dekatku. Aku tidak mau dirimu sakit apalagi sampai terluka," ujarnya.
Andra menatap serius gadis yang ada dihadapannya itu.
"Jika kau terluka dan sakit, siapa yang akan menjadi sopir dan pengawal aku," Raiza menjelaskannya.
Andra tertawa kecil. "Bukankah ada Tuan Andrean, Nona?"
"Kenapa harus membawa namanya?"
"Nona, bisa memintanya untuk menjaga selama saya sedang sakit," jawabnya.
"Tidak mungkin bisa, Opa akan memarahiku jika bersamanya," ujar Raiza menengguk susu.
"Apa Nona menyukainya?"
Raiza tertawa kecil, "Jikapun aku menyukainya, Opa pasti akan melarang keras hubungan kami."
"Saya bisa bantu Nona."
"Bantu apa?"
"Apa kau berani berhadapan dengannya? Apa kau mau dikirim ke luar negeri karena membelaku?"
"Jika itu bisa membuat Nona bahagia. Kenapa tidak?"
"Kau memang pengawal yang sangat berjuang untuk kebahagiaanku," Raiza tersenyum manis.
...----------------...
Sekolah Tinggi Ilmu Bisnis dan Ekonomi
"Nona Niken!"
Gadis itu menoleh, ia menatap pria yang berlari ke arahnya.
"Kebetulan sekali saya bertemu dengan anda," Bayu berkata dengan nafas masih ngos-ngosan.
"Memangnya ada apa?"
"Tolong berikan ini kepada Nona Raiza," Bayu menyodorkan kotak berwarna hijau dengan di ikat pita merah.
"Baiklah, aku akan sampaikan," ujarnya.
"Kalau begitu, terima kasih."
"Tunggu dulu!"
"Ada apa, Nona?"
"Mana upah untukku!" pintanya.
"Upah?" Bayu mengerutkan keningnya.
"Ya, upah sebagai pengganti kurir," jawabnya santai.
"Nona, kau minta upah untuk memberikan ini kepadanya," Bayu geleng-geleng kepala.
"Aku haus, Tuan. Penghasilanmu juga besar, apa salahnya memberikan aku uang untuk membeli sebotol air mineral."
Bayu tak mau berdebat, mengambil dompet dari saku celananya lalu memberikan selembar uang berwarna ungu.
"Astaga, anda cuma memberikan aku segini," protesnya.
"Itu cukup membeli sebotol air mineral!"
__ADS_1
"Dasar manajer artis pelit!"
"Hei, anda bilang apa tadi?"
"Pelit!"
Bayu merampas uang yang dipegang Niken.
"Antar sendiri!" gadis itu mengembalikan kotak yang dititipkan tadi.
Bayu membuka dompetnya lagi dan menyodorkan selembar uang berwarna biru kepada Niken.
"Nah, begini 'kan enak!" gadis itu tersenyum, ia lalu mengambil kotak yang tadi ia serahkan kepada Bayu. "Terima kasih!" Niken pun berjalan ke kelasnya.
"Huh, dasar gadis matre!" gerutunya.
-
Niken meletakkan kotak di atas meja belajar Raiza. "Buatmu dari Andrean!"
"Apa ini?" tampak heran.
"Aku tidak tahu," jawab Niken.
Belum sempat dibuka, seorang pengajar pria memasuki kelas. Raiza menunda melihat isi dalam kotak tersebut.
Sejam berlalu, akhirnya ketiganya keluar dari kelas.
Di dalam mobil, Raiza membuka kotak pemberian dari model.
Andra melihat dari kaca spion kalau Raiza begitu senang dan semangat membuka kotak itu.
Raiza tersenyum menatap hadiah dari Andrean berupa jepitan rambut.
Sebuah kartu ucapan terselip di kotak tersebut, ia pun membacanya dan tersenyum.
Lantas Raiza berkata kepada temannya, "Dia mengundangku makan malam!"
"Wah, benarkah?" Niken dan Tere turut senang.
Seketika senyum Raiza memudar. "Aku takut Opa akan tahu!"
Tere dan Niken juga bingung.
"Saya tidak akan memberitahu Tuan Besar, Nona."
"Benarkah?" tanya Raiza antusias.
"Ya, Nona. Saya juga akan mengantar anda ke restoran," jawab Andra.
"Terima kasih!" Raiza tersenyum bahagia.
-
-
Malam harinya, Raiza pergi memenuhi undangan makan malam Andrean. Ia juga sudah meminta izin kepada orang tuanya.
Eza dan Raisa menasehati putrinya agar tak jatuh cinta kepada Andrean karena sangat sulit menaklukkan hati Devan.
Raiza keluar menggunakan gaun selutut namun tampak mewah.
Andra yang menunggu dengan bersandar di badan mobil sejenak terpesona dengan kecantikan cucu pertama pemilik Arta Fashion itu.
"Andra, ayo buka pintunya!" Raiza membuyarkan lamunan pengawal sekaligus sopirnya.
"Iya, Nona." Andra membukakan pintu.
-
Di perjalanan menuju restoran yang dituju, Andra selalu memperhatikan Raiza yang sangat cantik.
Raiza menatap jalanan, ia berharap makan malamnya ini tidak diketahui Opa Devan.
Begitu sampai, Andra kembali membukakan pintu.
Raiza keluar dari dalam mobil.
Andra melemparkan senyumnya, "Semoga berhasil, Nona!"
Raiza tersenyum sekedarnya.
Andra menatap punggung itu memasuki restoran. Walau ia merasa patah hati namun dirinya harus bisa bersikap profesional.
Andrean berdiri ketika melihat kedatangan Raiza yang tampak cantik. Ia menarik kursi dan mempersilakan gadis itu duduk.
"Terima kasih!" Raiza tersenyum bahagia.
"Aku senang kamu datang memenuhi undanganku."
"Aku hanya tidak ingin mengecewakanmu saja."
__ADS_1
"Ya, terima kasih!" Andrean tersenyum hangat.