Jangan Mengejarku, Cantik!

Jangan Mengejarku, Cantik!
Makan Malam Bersama Keluarga Darren


__ADS_3

Darren akhirnya memberanikan bicara kepada kedua orang tuanya kalau dia telah menjalin hubungan kasih dengan seorang wanita.


"Siapa dia?" tanya Clarissa.


"Desainer Arta Fashion, Ma."


"Namanya siapa?" tanya Clarissa.


"Ayumi Charista."


"Apa Papa mengenalnya?" Clarissa menatap suaminya.


Devan berusaha mengingat, "Gadis yang menyiram kamu dengan air?"


Darren memanyunkan bibirnya sementara itu Clarissa mengulum senyum.


"Apa dia gadisnya?" tanya Devan.


"Ya, Pa."


"Ternyata putra kita melanggar sumpahnya," sindir Clarissa.


"Ma, jangan bahas yang lalu," protes Devan dengan manjanya.


"Kapan kamu akan mengenal dia kepada kami?" tanya Clarissa.


"Secepatnya, Ma."


"Kami akan menunggunya," Clarissa tersenyum.


-


Darren berangkat ke kantor di depan pintu masuk ia bertemu dengan kekasihnya yang melambaikan tangannya. Ia hanya tersenyum kemudian berlalu.


Rista melihat Darren tersenyum sudah membuat hatinya cukup senang. Ya, dia harus profesional selama bekerja meskipun kekasihnya itu terkadang memarahinya namun setelah pulang keduanya kembali akur.


"Nona Rista, anda dipanggil Presdir ke ruangannya!" Yuno menghampiri ruang kerjanya.


"Baiklah, Tuan!" Rista tersenyum senang.


Dengan hati gembira ia mendatangi ruang kerja kekasihnya yang baru 2 minggu itu.


"Hai, sayang!" sapa Rista menampilkan senyum indahnya.


"Kenapa kau memanggilku dengan sebutan itu di sini?" protes Darren.


"Tak ada karyawan yang tahu, kamu tenang saja!" Rista menyakinkan.


"Aku tak mau kau memanggilku dengan sebutan itu di kantor," ujar Darren.


"Baiklah!"


"Aku menyuruhmu ke sini untuk menanyakan rancangan yang kau buat beberapa hari lalu. Apa sudah selesai?"


"Astaga, aku lupa. Bolehkah beri waktu dua hari lagi?" mohon Rista.


"Baiklah, ku memberikan waktu lagi," jawab Darren. "Lain kali tepat waktu, ku tak mau seperti ini lagi," lanjutnya.


"Siap, Presdirku!" Rista tersenyum.


"Ya sudah sana, kembali ke ruanganmu!"


"Apa kita boleh?" Rista senyum-senyum malu sambil menggerakkan dua jarinya.


Darren menyipitkan matanya.


Rista tersenyum nyengir, "Maaf!"


"Kembali bekerja, jangan sampai ku potong gajimu!"


"Ya ampun , kamu masih kejam saja padahal kita sudah menjadi kekasih," ujar Rista.


"Pekerjaan dan hubungan asmara harus dibedakan," Darren menyentil kening kekasihnya itu.


"Baiklah, Tuan Darren."


"Jangan lupa, makan siang ku tunggu di restoran yang sama."


"Baik," Rista pun meninggalkan ruangan sambil melambaikan tangannya.


-


Natasha dengan rasa gugup dan malu menghampiri ruang kerja Yuno. "Permisi, Tuan!" sapanya dengan terbata.


"Ya, silahkan masuk!"

__ADS_1


Natasha duduk dihadapan sekretaris Presdir dengan memainkan ujung kemejanya


"Ada apa?" tanya Yuno ketus.


"Tuan, terima kasih sudah membantu saya beberapa hari yang lalu," jawab Natasha.


"Tahu kesalahan apa yang telah anda buat?"


"Ya."


"Arta Fashion mencari brand ambassador yang bersih dari citra negatif, Nona Natasha mabuk itu sudah melanggar salah satu isi kontrak yang kita buat. Beruntung saat itu tak ada media yang tahu. Bagaimana jika tahu? Anda harus mengganti rugi dan yang memilih diri Nona ikutan malu. Karena kami sangat ketat menyeleksi calon bintang iklan di perusahaan ini. Jadi, tolong jaga sikap anda selama terikat kontrak!"


"Maafkan saya, Tuan!"


"Ya, dimaafkan. Anda boleh keluar!" perintah Yuno.


Natasha pun berdiri lalu berjalan sebelum membuka pintu pria itu memanggilnya dan ia menoleh menatapnya.


"Apa yang kau ucapkan saat malam itu benar?" tanya Yuno.


Natasha mengerutkan keningnya. "Memangnya saya bicara apa?"


"Sudah lupakan saja, silahkan keluar!"


Natasha memiringkan bibirnya lalu keluar dengan hati kesal.


Yuno mengulum senyumnya ketika wanita itu telah pergi.


Sambil berjalan ke parkiran gedung. "Apa yang telah aku katakan padanya? Buat penasaran saja!" batinnya berkata.


-


Siang ini Darren dan Rista menikmati makan siang bersama di restoran. Pria itu lebih dahulu sampai.


"Kamu tak lama menunggu, kan?" tanya Rista.


"Tidak." Darren tersenyum.


"Kamu sudah pesan makanan?" tanya Rista lagi.


"Sudah, aku juga memesan makanan untukmu."


"Terima kasih," Rista tersenyum.


"Besok malam aku akan mengajak makan malam dengan kedua orang tuaku," ujar Darren.


"Persiapan untuk apa?"


"Aku tidak bisa makan seperti wanita anggun dan orang-orang konglomerat, ku butuh belajar agar bisa di terima keluarga besar kamu."


Darren tertawa kecil.


"Memangnya ada yang salah?" tanya Rista.


"Kedua orang tuaku tidak seperti itu, ibuku hampir sama sepertimu. Dia melakukan apa yang menurutnya nyaman dan dirinya sangat asyik untuk diajak ngobrol," jelas Darren.


"Benarkah? Pantas saja Ibuku sangat mengidolakan dia," ujar Rista.


"Ya."


...----------------...


Hari libur waktunya untuk bersantai. Namun, tidak bagi Rista karena malam ini ia akan bertemu dengan kedua orang tua Darren.


Rista sedang mencoba gaun yang dikenakannya pada makan malam. Ia bercermin sembari tersenyum membuat Elisa dari kejauhan mendekati putrinya.


"Mau ke mana?" tanyanya.


"Presdir mengundangku makan malam, Bu."


"Dalam rangka acara apa?" tanya Elisa.


"Dia ingin memperkenalkan aku pada orang tuanya," jawab Rista.


"Pria itu serius padamu?" Elisa tak percaya.


"Iya, Bu."


"Ibu senang mendengarnya," jawab Elisa. "Semoga nenekmu tidak pernah tahu kalau kamu bekerja di Arta Fashion dan menjalin hubungan dengan putranya," batinnya.


"Bu, lebih cantik warna yang mana merah atau kuning?" tanya Rista menunjuk gaun sederhana yang hanya sebatas lutut.


"Merah, Nak."


"Baiklah kalau begitu aku akan memakai ini," Rista tersenyum puas.

__ADS_1


-


-


Malam pun tiba, Darren menjemput Rista di rumahnya. Begitu sampai kedua wanita beda usia itu sudah menunggunya.


Rista tersenyum manis ketika Darren untuk pertama kalinya mendatanginya dan meminta izin kepada ibunya.


Elisa mengulurkan tangannya untuk berkenalan namun hanya dilihatin calon menantunya itu.


"Eh, Bu. Aku lupa memberitahumu, kalau Darren tidak bisa bersentuhan dengan orang lain selain keluarga kandungnya," Rista menjelaskan hati-hati dengan tersenyum.


"Begitu, ya!" Elisa menarik tangannya.


"Maafkan saya, Bibi!" Darren menundukkan sedikit kepalanya.


"Tidak apa, Bibi juga tidak tahu." Elisa tersenyum paham.


"Kalau begitu, kami pamit!" ujar Rista.


"Ya, kalian hati-hati," ucap Elisa.


Darren mengangguk mengiyakan dan tersenyum.


Keduanya berjalan ke arah mobil yang terparkir di pinggir jalan.


Elisa tersenyum bahagia melihat putrinya bisa seceria dan sesenang itu.


-


Kediaman Artama


Clarissa menyambut kekasih putranya, makan malam ini bukan hanya kedua orang tua Darren tapi ada juga Raisa dan Eza.


Rista merasakan gugup karena ia bisa satu meja dengan orang-orang terkenal dan kaya.


Ia duduk bersebelahan dengan Darren.


"Apa yang membuatmu suka dengan dia?" tanya Raisa membuka percakapan.


"Kakak, kenapa menanyakan hal itu?" protes Darren.


"Kamu, pria yang cukup aneh. Kenapa bisa dia menyukaimu," ujar Raisa.


"Karena hal itu membuat saya menyukainya," sahut Rista.


"Dengarkan, Kak!" Darren merasa puas.


"Kamu tidak memaksa dia menyukaimu, kan?" Raisa menatap adiknya.


"Tidak, Kak."


"Darren ini sangat sulit jatuh cinta, mirip papanya," Clarissa melirik suaminya.


"Ayahmu bekerja apa?" tanya Devan.


"Ayah sudah meninggal ketika saya berusia lima tahun," jawab Rista.


"Kami turut berduka," ucap Clarissa.


"Terima kasih, Nyonya!" Rista tersenyum kaku.


"Jangan panggil Nyonya, kamu bisa memanggil kami dengan sebutan Paman dan Bibi," ujar Clarissa.


"Dan panggil kami juga Kakak," sambung Raisa.


Rista mengangguk mengiyakan.


"Darren, apa kamu serius dengannya?" tanya Devan.


"Ya, Pa."


"Jika serius, kamu harus segera melamarnya. Papa tak suka kalau dirimu mempermainkan hati seorang wanita," jelas Devan. "Apa kamu benar-benar mencintai putraku?" tanyanya pada Rista.


"Ya, Paman," jawabnya.


"Jangan pernah kecewakan dia!" ujar Devan.


"Iya, Paman," jawab Rista lagi.


"Kami akan segera menemui kedua orang tuamu!" ucap Devan.


"Hah!" Rista menatap Darren tentang keseriusan ucapan papanya.


"Kami serius, Rista!" Clarissa tersenyum.

__ADS_1


"Astaga, mimpi apa aku semalam? Baru beberapa hari dekat sudah mau dilamar," batin Rista tersenyum senang.


__ADS_2