
Menjelang sore hari, Raiza tiba di rumahnya bersama pengawal pribadinya. Tampak di halaman sebuah mobil mewah berwarna merah terparkir.
Raiza tahu jika mobil itu adalah milik Andrean. "Mengapa dia di sini?" batinnya.
Raiza bergegas masuk ke dalam rumah.
Pria itu berdiri ketika melihat Raiza ada dihadapannya.
"Andrean?"
"Apa kabar, Raiza?" Andrean berjalan mendekati gadis itu.
"Kenapa kamu di sini?" Raiza tampak heran.
"Aku ke sini ingin meminta restu kepada orang tuamu," jawabnya.
Raiza tertawa kecil, "Andrean, untuk apa lagi? Aku sudah mengakhirinya!"
"Tidak, Za. Aku ingin membuktikan kalau hubungan kita layak diperjuangkan!"
Raiza semakin bingung.
"Aku akan menemui Opa kamu!" tekad Andrean.
"Andrean, itu takkan mudah!"
"Kenapa? Apa kamu sudah mempunyai pria lain penggantiku?"
"Bukan begitu, Andrean. Karirmu akan hancur, ku tak mau kamu menyesal setelah memilih aku!"
"Aku sudah berbicara pada kedua orang tua kamu dan mereka setuju dengan hubungan kita, tapi aku harus bisa mendapatkan restu dari Opa kamu. Jadi, ku mohon padamu temani aku menemuinya!" pinta Andrean.
"Baiklah, aku akan menemani kamu," Raiza tersenyum terpaksa.
Andrean menampilkan senyum senangnya.
Tanpa ditemani Andra, keduanya pergi ke rumah Opa Devan. Sebelum memasuki istana itu, mereka harus melewati tahap seperti mencuci tangan dan menyemprotkan cairan anti kuman di telapak tangan.
Andrean dan Raiza menunggu di ruang tamu dengan harap-harap cemas, 10 menit kemudian Devan muncul bersama Clarissa.
"Kenapa dia di sini?" Devan tampak tak suka.
"Andrean kemari ingin berbicara kepada Opa," Raiza menjawab dengan hati-hati.
"Apa yang kau ingin bicarakan?" Devan menatap pria muda itu.
"Saya mencintai Raiza, Tuan." Andrean memandang wajah Devan.
"Tapi, aku tidak setuju kamu memiliki cucuku," Devan berkata tanpa basa-basi.
"Tuan, kami saling mencintai. Saya mohon jangan pisahkan kami," pinta Andrean.
"Apa kau rela dengan karirmu yang cemerlang harus berakhir?" tantang Devan.
Andrean tak bisa menjawab.
Raiza berharap Andrean mampu membuktikan kata-katanya.
"Kau tidak bisa menjawabnya, kan?" Devan menatap sinis.
"Apa salahnya dengan pekerjaan yang saya lakukan, Tuan?" tanya Andrean.
"Aku tidak ingin kehidupan pribadi cucuku diketahui oleh orang lain apalagi ku tak mau Raiza dibully massal jika ia melakukan kesalahan!"
"Saya bisa menjaga dan melindungi Raiza dengan baik, Tuan." Andrean berusaha menyakinkan.
"Aku tidak yakin, lagian percuma kau ke sini untuk memohon padaku. Raiza telah ku jodohkan dengan pria lain," Devan berkata tegas.
"Apa?" Raiza terkejut begitu juga dengan Andrean.
"Opa tidak pernah memberi tahu aku tentang perjodohan," ujar Raiza.
"Karena memang belum waktunya kamu tahu hal ini, tapi hari ini Opa mengatakannya kepadamu agar kamu tidak menerima perasaan dari pria lain kecuali pilihanku!" Devan menjelaskan.
__ADS_1
"Opa, kenapa aku harus dijodohkan?" protesnya.
"Agar kamu tak sembarangan memilih pria lain!"
"Opa, aku dan Raiza saling mencintai. Apa anda tidak memiliki hati?" tanya Andrean.
"Aku tahu yang terbaik untuk cucuku!" menekankan kata-katanya.
"Andrean, kami minta maaf. Oma harap kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari Raiza," Clarissa dengan lembut menasehati Andrean.
"Tetap cucuku lebih baik!" Devan berkata lirih.
"Iya, aku tahu!" berkata pelan di dekat telinga suaminya.
"Nyonya, saya hanya mencintai cucu anda!" Andrean tak mau menyerah.
"Keputusan kami sudah bulat, tidak bisa diganggu gugat lagi," ujar Clarissa.
"Oma, aku tak mau dijodohkan!" tolaknya.
"Raiza, dia pria yang baik. Oma yakin jika dirinya mampu menyayangimu," jelas Clarissa.
"Sekarang, kau sudah tahu yang sebenarnya. Maka, lebih baik pulanglah!" titah Devan kepada Andrean.
Devan dan istrinya meninggalkan ruangan tamu.
Raiza berusaha tak menahan air matanya.
Andrean meraih tangan Raiza, "Za, apa kamu ingin aku berada di dekatmu?"
Raiza menarik tangan yang digenggam Andrean. "Menjauhlah dariku, kamu pantas mendapatkan yang terbaik dariku!"
Mendengar kata-kata itu, Andrean tak bisa menahan rasa yang bercampur aduk antara benci, marah dan sayang. Ia pun pergi meninggalkan kediaman Devan dengan hati kecewa.
Andra berdiri di dekat Raiza yang masih terduduk di kursi dengan kepala tertunduk tampak bahu gadis itu gemetaran.
"Nona!" Andra memanggilnya.
"Nona menangis?" tanyanya pelan.
Dengan cepat Raiza menyeka air matanya yang masih menetes, ia lalu menggelengkan kepalanya.
Andra hanya diam dan menatap iba gadis yang ada dihadapannya.
"Kenapa kau di sini?" tanya Raiza.
"Nyonya Raisa yang menyuruh saya ke sini," jawabnya.
Raiza lantas berdiri, "Ayo kita pulang!" masih terdengar suara parau.
Keduanya pun pergi, setelah Andra dan Raiza berpamitan kepada Devan dan Clarissa.
Raiza duduk di kursi samping pengemudi dengan memandang jalanan.
Andra tak ingin bertanya apapun.
Raiza kembali menangis membuat Andra menghentikan mobilnya.
"Nona!" panggilnya pelan.
Raiza mengarahkan pandangannya kepada Andra, ia menangis semakin kencang.
Andra tampak kebingungan melihat Raiza menangis. "Nona, tenanglah. Apa yang terjadi?"
Raiza lantas memeluk Andra membuat pria itu terkejut. "Aku benci Opa!"
Andra menggerakkan tangannya perlahan-lahan menyentuh pundak gadis yang sedang memeluknya.
"Kenapa Nona membenci Tuan Besar?"
Raiza melepaskan pelukannya, "Opa sudah menjodohkan aku!" dengan terisak.
Andra yang mendengarnya juga merasa hancur, harapannya memiliki sang nona kandas.
__ADS_1
"Opa menolak Andrean karena ia telah menjodohkan aku dengan pilihannya!" Raiza menyeka air matanya dengan tisu.
"Apa Nona tahu siapa pria itu?"
Raiza menggelengkan kepalanya.
"Nona, Tuan Besar mungkin tahu jika pria itu layak dan pantas untuk anda," Andra mencoba memberi nasehat.
"Tapi, aku tidak suka!" berkata dengan suara gemetar.
"Nona, apa yang menurut kita baik belum tentu baik untuk diri kita. Bisa jadi pilihan Tuan Besar memang terbaik," ujar Andra.
"Kau dan Opa sama saja!" Raiza membalikkan tubuhnya lalu kembali menangis.
"Nona, saya minta maaf!"
Raiza tak menghiraukannya.
Andra kembali menyalakan mesin mobilnya, 15 menit kemudian mereka tiba di kediaman Eza.
Raiza keluar dan berlari kecil memasuki rumahnya dengan wajah merah karena menangis.
Raisa dan Eza lantas bertanya pada Andra, apa yang terjadi dengan putrinya.
"Saya hanya mendengar dari mulut Nona Raiza kalau dia dijodohkan oleh Tuan Besar," tutur Andra.
Eza dan Raisa saling pandang, mereka paham dengan keinginan pria tua itu.
Eza lalu menyuruh Andra pulang untuk beristirahat, "Maaf, sudah membuatmu harus kembali lagi ke sini!"
"Tidak masalah, Tuan. Nona Raiza juga adalah tanggung jawab saya," Andra tersenyum.
"Terima kasih," ucap Eza.
"Sama-sama, Tuan, Nyonya," Andra pun berpamitan pergi.
-
Sesampainya di rumah dan sudah selesai membersihkan diri. Andra menjatuhkan tubuhnya di ranjang, ia teringat dengan kata-kata Raiza yang telah dijodohkan.
Tanpa terasa air matanya menetes, Andra bangun dan duduk. Ia mengacak rambutnya, "Kenapa rasanya sakit sekali mendengarnya telah dijodohkan?"
Sementara itu, Eza dan istrinya pergi menemui mertuanya. Ia ingin bertanya alasan perjodohan putrinya.
"Kalian ke sini, pasti Raiza sudah mengatakannya," tebak Devan sesampainya anak dan menantunya tiba di rumahnya.
"Iya, Pa. Kenapa Papa tidak memberitahu kami tentang perjodohan ini?" tanya Raisa.
"Papa melihat pria itu tak menyerah jadi akhirnya kami memberitahunya," jawab Devan.
"Lalu siapa pria yang akan dijodohkan dengan Raiza, Pa?" tanya Eza.
"Kalian sudah mengenalnya dan mereka juga sangat dekat," jawab Devan lagi.
"Siapa, Pa?" desak Raiza.
"Andra!" jawab Devan lagi.
Raisa dan suaminya tampak terkejut.
"Kenapa Papa tak memberitahu kami kalau Andra pria yang akan dijodohkan dengan Raiza?" tanya Eza.
"Karena Papa takut kalian akan memberitahu Raiza dan Andra," jawabnya lagi.
"Kalian setuju 'kan kalau Andra kita jodohkan dengan Raiza?" kali ini Clarissa bertanya.
"Kami setuju saja, Ma." Jawab Eza.
"Tapi, Mama mohon jangan beritahu mereka, biarkan ini mengalir. Mama tak mau mereka menjadi jaga jarak karena kita menjodohkannya," ujar Clarissa.
"Baiklah, Ma. Kami tidak akan memberi tahu mereka," sahut Raisa.
Clarissa dan Devan tersenyum.
__ADS_1