
Beberapa hari kemudian....
Elisa datang bersama Rista ke kediaman Oma Sophia. Ya, hari ini mereka akan menyampaikan kabar bahagia.
Sophia memeluk cucunya sangat erat, terakhir kali mereka bertemu 2 pekan lalu.
"Apa kabar, Oma?"
"Baik," Sophia melepaskan pelukannya lalu memegang wajah cucunya.
"Ma, kami ke sini ingin memberikan kabar bahagia," ujar Elisa.
"Kabar apa?" Oma Sophia penasaran.
"Rista akan menikah," jawab Elisa.
"Benarkah? Dengan siapa?" tanya wanita tua itu.
"Darren Artama," jawab Elisa lagi.
"Aku seperti tidak asing dengan nama itu," Oma Sophia berusaha mengingat sesuatu.
"Dia Presiden Direktur Arta Fashion," sahut Rista.
"Apa?" Sophia mengarahkan tatapannya kepada cucunya. "Kamu akan menikah dengannya?" lanjutnya bertanya.
"Ya, Oma," jawab Rista.
"Oma tidak setuju kamu menikah dengannya," Sophia berkata tegas.
"Kenapa? Kami saling mencintai," ujar Rista.
"Arta Fashion adalah pesaing Karisma Fashion, Oma tetap tidak menyetujui kamu menikah dengannya. Kamu adalah penerus perusahaan, Rista!"
"Mama, mereka lebih dahulu saling mengenal. Jadi, Elisa mohon tolong restui mereka!"
"Tidak bisa, Elisa. Mana mungkin perusahaan di bidang yang sama, saling bermusuhan di dunia bisnis menjadi satu keluarga," ujar Oma Sophia.
"Rista tidak mau menjalankan perusahaan, Oma. Rista sudah sangat mencintai Arta Fashion, di sana ku bisa mengembangkan bakatku sebagai desainer," ungkapnya.
"Kamu bisa memperlebar karirmu di perusahaan Oma, Rista. Kamu dan Varrel adalah pewaris," ucap Sophia.
"Rista tetap tidak mau," tolaknya.
"Oma akan umumkan siapa kamu sebenarnya," ancam Sophia.
"Mama, biarkan Rista menentukan kebahagiaannya," sahut Tania yang baru saja datang.
"Tidak bisa, cucuku harus memiliki pasangan yang benar-benar pilihanku," pungkasnya.
"Oma, tak bisa mengaturku," Rista berkata dengan lantang.
Sophia berjalan meninggalkan ruang tamu tanpa menggubris perkataan cucunya.
Rista mencoba menahan amarahnya, Elisa lantas merangkul tubuh putrinya dan mengusap lembut lengannya.
Tania mendekati Ibu dan anak itu, "Tante akan menjamin pernikahanmu dan Darren berjalan lancar."
"Terima kasih, Tante!" Rista memeluk ibu kandung Varrel begitu juga dengan Sella.
-
-
Saat makan siang....
"Aku benar-benar kecewa padamu, kamu menutupi semuanya dariku," ujar Sophia.
"Ini ku lakukan karena aku sangat menyayangi mereka."
"Jadi, kamu pikir aku tidak menyayangi mereka!"
"Ma, Rista sudah dewasa dirinya tahu mana yang baik. Jadi, tak mungkin ia salah memilih. Jangan rusak kebahagiaannya demi sebuah obsesi Mama," tuturnya.
"Kenapa kalian tidak bisa diatur?"
"Mama hanya ingin kami sesuai kemauan Mama tapi tak pernah bertanya apa yang kami butuhkan," jawab Tania.
"Kamu dan Sammy saja!" keluhnya.
"Ma, aku sudah mengikuti keinginan Mama untuk menjalankan perusahaan padahal ku ingin menjadi dokter tapi jangan paksakan Rista dan Varrel untuk hal ini," mohon Tania.
Oma Sophia menghela nafasnya.
__ADS_1
...----------------...
Natasha sudah tidak menjadi brand ambassador Arta Fashion lagi. Ya, kontraknya telah berakhir hari ini. Pernikahannya akan dilaksanakan seminggu lagi. Persiapan sudah siapkan cukup matang.
Gaun pengantin hampir selesai pengerjaannya, sebagian undangan juga telah di sebar.
Sella menatap undangan yang diberikan Natasha kepadanya. "Dengan siapa aku datang?"
Seluruh teman-temannya di kantor mengatakan akan pergi dengan pasangannya masing-masing. Rista, sahabatnya tentunya akan datang bersama calon suaminya.
Sepulang kerja, ia mengendarai motor kesayangannya karena mobil Rista telah dikembalikannya. Dengan alasan segan pada Darren yang memberikannya.
Di tengah perjalanan hujan turun perlahan, Sella terpaksa menepikan kendaraannya ke pinggiran toko yang sudah mulai tutup.
Ia berdiri bersama dengan para pengendara lainnya yang berteduh.
Sebuah mobil berhenti tepat di depannya, seorang pemuda turun menggunakan payung.
"Varrel!" lirihnya.
"Ayo pulang!"
"Motorku, bagaimana?" tanya Sella.
Seorang pria keluar dari mobil berlari kecil menghampiri keduanya. "Biar saya saja yang bawa, Nona!"
"Tapi...."
Varrel menarik tangan Sella lalu memayunginya, keduanya berjalan ke mobil.
"Apa dia tahu alamat rumahku?"
"Dia sudah pernah sekali ke rumahmu!" Varrel membukakan pintu untuk Sella. Setelah itu ia berjalan ke pintu pengemudi.
Sella menatap motornya.
"Dia takkan membawa kabur motormu, gajinya tiga bulan sudah mampu membeli motor sepertimu itu," celetuk Varrel.
"Hei, kau tidak pernah tahu caraku mendapatkan motor itu, butuh perjuangan. Aku harus menabung setahun untuk membelinya," ungkap Sella.
"Aku akan menggantinya, jika terjadi sesuatu dengan motormu itu," ujar Varrel menjalankan mobilnya.
"Tapi, aku tidak butuh uangmu itu."
"Ya," jawabnya ragu.
"Kenapa kau naik motor?"
"Mobil Rista sudah ku kembalikan," jawabnya.
"Apa kau ingin membeli mobil juga?"
"Tidak."
"Rumah?"
"Tidak."
"Lalu kau mau apa?"
"Tidak ada!"
"Bagaimana kalau pernikahan Natasha kita pergi bersama?" tawar Varrel.
"Tidak mau."
"Apa kau sudah mempunyai pasangan?" tanya Varrel.
Sella menggelengkan kepalanya.
"Baguslah, aku senang mendengarnya," ujar Varrel.
Sella mengarahkan pandangannya kepada pria yang ada disampingnya, "Maksudnya apa?"
"Tidak ada."
Sella kembali menatap jalanan di depannya, membuat Varrel mengulum senyum.
Akhirnya keduanya tiba di kediaman orang tua Sella.
Mereka turun bersama dari mobil, Varrel memanyungkan Sella.
Suara petir menggelar membuat Sella terkejut dengan dengan cepat mendekap tubuh pria yang ada didekatnya.
__ADS_1
Varrel yang mendapat pelukan secara tiba-tiba menarik senyumnya.
Sella melepaskan dekapannya, pipinya memerah, "Maaf!"
"Ya."
Varrel belum beranjak pergi karena Sella menahannya.
"Aku akan membuatkan minuman untukmu," Sella pergi ke dapur.
Rumah Sella tampak sepi.
"Ke mana orang tuamu?" tanya Varrel setelah Sella muncul membawa teh hangat.
"Mereka pergi ke kampung."
"Jadi kau tinggal sendiri?"
"Ya."
"Kau tidak takut?"
"Aku akan menumpang tidur di rumah Rista."
"Oh, begitu. Baguslah jika kau tidur di rumahnya," ujar Varrel lega.
"Silahkan diminum!" Sella mempersilakan tamunya.
Varrel menyeruput tehnya.
"Apa kau ingin makan sesuatu?" tawar Sella.
"Memangnya kau bisa masak?"
"Bisa walau hanya nasi goreng," jawab Sella.
"Ya, sudah pergilah ke dapur dan masaklah nasi goreng buatku," ujar Varrel.
Sella berdiri dari kursinya dan pergi ke dapur ia mulai mengiris bawang dan cabai.
Tak sampai 30 menit, akhirnya sepiring nasi goreng selesai dibuat. Sella menghidangkan dihadapan Varrel, "Silahkan!"
Varrel mulai menyicipinya.
"Bagaimana?" Sella begitu penasaran.
"Cukup enak!"
"Huh!" Sella bernafas lega.
"Dari mana kau belajar memasak?"
"Dari ponsel."
"Tapi, ini lumayan enak. Aku habiskan, ya?"
"Ya, silahkan." Sella begitu senang.
Akhirnya sepiring nasi habis disantap Varrel dengan lahap.
Sella tersenyum melihatnya.
"Pergi sana mandi, aku akan mengantarmu ke apartemen Rista," tawarnya. "Motormu biar dibawa sopirku ke bengkel saja," lanjutnya.
"Baiklah, tunggu sebentar!" Sella ke kamarnya membersihkan diri.
Hujan mulai reda, Varrel menunggu Sella yang sedang bersiap-siap ke rumah Rista.
Tepat pukul 7 malam, mereka berangkat ke apartemen tempat tinggal Rista dan ibunya.
Sella selalu memperhatikan Varrel sembari mengulum senyum.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?"
"Kau sangat tampan," pujinya.
"Kenapa kau baru menyadarinya?" tanya Varrel dengan percaya diri.
"Entahlah," Sella membuang wajahnya.
"Kau juga cantik?" puji Varrel.
"Terima kasih," jawabnya.
__ADS_1