
Dua minggu kemudian.....
Tere yang sedang bermain ponsel tiba-tiba menjerit kesenangan membuat beberapa pengunjung kantin mengalihkan pandangannya kepadanya termasuk kedua sahabatnya.
"Hei, kau kenapa?" tanya Niken.
"Lihatlah!" Tere menunjukkan sebuah foto Andrean.
"Kenapa memangnya dia?" tanya Niken lagi.
"Kau tidak lihat dia pakai produk siapa?" Tere balik bertanya.
"Arta Fashion," jawab Niken.
"Ya, Andrean memposting foto ini sejam yang lalu. Berarti dia sekarang jadi model di perusahaan Opanya Raiza," ujar Tere.
"Kenapa kau tidak memberi tahu kami, Za?" tanya Niken.
"Untuk apa aku memberi tahu kalian?" Raiza balik bertanya dan bersikap santai.
"Raiza, itu berita sangat bagus. Kita bisa mendapatkan foto-foto eksklusifnya dari dekat," jawab Tere.
"Kapan kita bisa melihat Andrean pemotretan?" Niken tampak penasaran.
"Aku tidak mau ke sana!" tolak Raiza.
"Za, tolonglah. Beri tahu kami jadwal Andrean pemotretan dan syuting di sana," mohon Niken.
"Baiklah, tapi kalian hanya boleh sekali melihatnya dan tak membuat kerusuhan di sana!" ujar Raiza.
"Kami janji!" keduanya berkata serentak.
Raiza mengangguk pelan mengiyakan, "Aku tidak tahu jadwal dia. Jadi, nanti ku kabari!"
"Baik, Za. Kami sabar menunggu kabar darimu," ucap Niken.
-
Hari ini Raiza pulang seorang diri karena kedua sahabatnya sudah dijemput keluarganya.
Raiza duduk di belakang sambil melihat sopirnya. "Apa kamu tahu kira-kira jadwal Andrean?"
Andra yang bingung dengan pertanyaan hanya menggelengkan kepalanya.
"Bisakah kamu menolongku?" pinta Raiza.
"Tolong apa, Nona?"
"Tanyakan jadwal Andrean pada Paman Yuno atau karyawan Arta Fashion," jawab Raiza.
"Saya tidak bisa, Nona."
"Kenapa?"
"Karena Arta Fashion bukan tempat saya bekerja," jawabnya.
"Kita ke sana, tapi kamu yang menanyakannya!"
"Saya tetap tidak bisa, Nona. Tugas saya hanya mengawal anda," ujarnya.
Raiza menyebikkan bibirnya.
Andra melihat Raiza dari kaca spion.
"Kalau begitu antar aku ke Arta Fashion!" titahnya.
"Baik, Nona." Andra mengendarai mobil ke perusahaan itu.
Sesampainya di sana, Raiza turun dan berjalan ke gedung.
Andra hanya menatap punggung gadis itu. "Untuk apa dia menanyakan jadwalnya Andrean?"
Raiza bertanya pada resepsionis, apa Yuno berada di ruangannya atau tidak. Setelah karyawan wanita itu memberitahunya, ia berjalan menuju ruang kerja sekretaris Presdir.
"Ndre, lihatlah gadis itu lagi di sini. Mau menemui siapa dia?" Bayu menerka-nerka.
"Bukankah itu arah ke ruangan Presdir?" tanya Andrean.
"Ya," jawab Bayu. "Apa dia punya hubungan khusus dengan petinggi di sini?" tudingnya.
"Jangan menuduhnya seperti itu!" ucap Andrean.
"Kenapa? Apa kau menyukainya?"
"Bukan masalah suka, tapi kau sudah menuduhnya. Bagaimana kalau tidak benar? Bisa saja dia menuntut kita," ujar Andrean.
"Ya, kau benar juga."
__ADS_1
Sementara Raiza mengetuk pintu Yuno setelah pria paruh baya itu membukakan pintu ia pun masuk. "Siang, Paman!"
"Raiza, ada apa ke sini? Tidak biasanya kamu seorang diri kemari," ujar Yuno.
"Aku ingin minta tolong pada Paman," Raiza duduk di kursi berhadapan dengan Yuno yang dibatasi meja kerja.
"Tolong apa? Semoga saja Paman bisa membantumu," ujar Yuno.
"Apa Paman tahu jadwal pemotretan Andrean Wijaya?" tanyanya pelan.
Yuno mengerutkan keningnya.
"Paman jangan salah paham dulu, bukan aku yang minta tapi teman-teman ku yang menjadi penggemarnya," Raiza menjelaskan.
"Oh, begitu. Paman kira kamu ingin dekat dengannya, jika Opa kamu tahu bisa-bisa Paman dan Paman Darren akan dimarahi."
"Paman tenang saja, aku tidak akan jatuh hati pada artis," janjinya.
"Ya, Paman percaya."
"Apa aku boleh tahu sekarang jadwalnya?" desak Raiza.
"Hari ini ada pemotretan kemungkinan sudah selesai dan jadwal selanjutnya seminggu lagi," jawab Yuno.
Raiza tersenyum mendengar jawaban sekretaris Presdir. "Terima kasih, Paman!"
"Ya, sama-sama."
"Kalau begitu aku pamit, jangan beritahu Paman Darren tentang hal ini," mohonnya.
"Kamu tenang saja," ujar Yuno.
"Paman memang orang yang baik," puji Raiza.
"Paman memang begitu," Yuno tersenyum bangga.
"Sampaikan salam aku pada Bibi Natasha dan Tisya," ujarnya.
"Nanti Paman akan sampaikan pada mereka!" Yuno mengantarkan Raiza ke depan pintu.
"Sampai jumpa lagi, Paman!" Raiza pun melangkah menjauh dari ruangan Yuno.
Raiza turun menggunakan lift, tanpa di sengaja Andrean dan manajernya juga berada di sana.
Raiza hanya menatap sekilas lalu mengarahkan pandangannya ke depan.
Begitu sampai di lantai tujuan, Raiza melangkah dengan cepat.
"Sepertinya dia memang tidak mengenalmu," ujar Bayu.
"Ya, baru kali ini aku bertemu dengan seseorang tampangnya sangat ketus seperti dia!"
"Mungkin dia memang tak terlalu mengenalmu," ujar Bayu.
"Entahlah!" Andrean pun bergegas ke parkiran. Ia pun menyempatkan membalas sapaan para karyawan Arta Fashion.
Rista dengan wajah sumringah memasuki mobil.
"Apa Nona sudah tahu jadwalnya?" tanya Andra melihat dari kaca spion sembari memakai sabuk pengaman.
"Sudah, sekarang kita pulang!" ajaknya tanpa melihat.
...----------------...
Dengan begitu antusias, Tere dan Niken datang lebih cepat. Padahal jadwal pelajaran di mulai 2 jam lagi. Ya, keduanya tak sabar menunggu kabar jadwal pemotretan Andrean.
Sejam kemudian Raiza datang, seperti biasa ia akan duduk sampai pengajar memberikan pelajaran.
"Za, bagaimana? Apa kau sudah mendapatkan jadwal Andrean?" tanya Niken pelan.
Raiza mengangguk.
"Kapan? Hari apa?" cecar Tere.
"Minggu depan, kemarin aku ke perusahaan Paman Darren kebetulan juga dia lagi pemotretan pada hari itu dan satu lagi pasti kalian akan iri kepadaku," ujar Raiza.
"Satu lagi apa?" desak Niken.
"Aku satu lift dengannya," jawab Raiza.
"Wah, terus kalian bicara apa saja di dalam lift?" Tere begitu penasaran.
"Kami cuma diam saja," jawab Raiza santai.
"Kenapa tidak minta tanda tangan atau foto bersama?" tanya Niken.
"Buat apa?" balik bertanya.
__ADS_1
"Benar juga, buat apa untukmu. Kau saja tidak menyukainya," ujar Niken.
"Aku tidak sabar menunggu minggu depan untuk melihat Andrean," Tere membayangkan bertemu dengan sang idola sembari tersenyum.
Raiza menggelengkan kepalanya melihat tingkah teman-temannya.
-
-
Raiza dan kedua temannya akan pergi ke kafe. Tentunya ditemani Andra, pria itu menunggu di teras kafe tempat langganan ketiga gadis tersebut.
Andra hanya memesan air mineral sembari menunggu putri atasannya.
"Za, kau tidak memesankan kopi atau jus buat sopirmu," celetuk Tere.
"Dia 'kan sudah minum," ujar Raiza.
"Kasihan dia sendirian di sana!" Tere menatap iba.
"Ya sudah sana, kalau kau mau menemaninya jangan harap nanti aku akan menemani kalian bertemu dengan model itu!" ancam Raiza.
"Jangan begitu, Za. Ya, ya, kami tidak akan menggangu sopirmu lagi," janji Tere.
Di tengah obrolan mereka, matanya tertuju pada Andra yang sedang berbicara dengan seorang wanita.
"Dia berbicara dengan siapa?" Tere menatap pria dan wanita itu.
"Bukan urusanku juga," jawab Raiza.
"Lihat, mereka pegangan tangan," ujar Niken.
Sementara itu, Andra yang tangannya di pegang bergegas menariknya. "Jangan seperti ini, Bella!" sentaknya.
"Kamu kenapa berubah, Andra?" tampak raut wajah sedih dari wanita itu.
"Aku tetap sama seperti dulu, tapi ku mohon menjauhlah dari kehidupanku!" pinta Andra.
"Aku tidak bisa!" ujarnya menolak.
"Bella, aku sedang bekerja. Jangan sampai mereka memecatku karena melihat kita seperti ini," jelas Andra.
"Aku benar-benar merindukanmu, Andra," ucapnya.
"Lupakan semua tentang kita," mohon Andra.
Raiza dan kedua temannya menghampiri sopirnya dan seorang wanita.
Andra dengan cepat berdiri ketika melihat Raiza di dekatnya.
"Setelah dia selesai bekerja, kalian bisa mengobrol kembali," ujar Raiza lalu melangkah ke mobilnya.
Andra bergegas cepat agar bisa membukakan pintu mobil untuk majikannya.
Tere dan Niken pulang menggunakan taksi.
"Dia siapa?" tanya Raiza.
"Hanya teman, Nona."
"Sebegitu dekat sampai berpegangan tangan," sindirnya.
Andra hanya diam.
"Sepertinya wanita itu kekasihmu," tebak Raiza.
Andra tetap bergeming.
"Jika urusanmu belum selesai dengannya, tolong diselesaikan segera," ujar Raiza.
"Iya, Nona."
Mobil pun tiba di kediaman Eza Mandala tampak Devan dan istrinya berkunjung.
Raiza melangkah menghampiri Opa dan Omanya, namun tongkat Devan menghentikan langkahnya. "Bersihkan tubuhmu, baru memeluk kami!" perintahnya.
"Baiklah, Opa!" Raiza berlari ke kamarnya dan membersihkan diri.
Devan memanggil Andra dan keduanya berbicara setelah sopir pribadi Raiza mencuci tangan dan menyemprotkan cairan anti kuman.
"Bagaimana mengawasi Raiza?" tanya Devan.
"Tidak ada masalah apapun, Nona sangat baik. Selama ini ia tak pernah mendatangi tempat-tempat yang dilarang," jawab Andra.
"Ya, memang dia sangat baik. Tapi, saya takut jika dia liar," ujar Devan.
"Saya akan tetap melarang Nona jika berpergian ke tempat itu," janji Andra.
__ADS_1
"Saya percaya kamu!"