
Keesokan paginya, kebetulan libur kerja Sella pergi ke rumah Rista bersama Varrel. Tak ada obrolan sama sekali saat perjalanan ke tempat tujuan.
Entah, kenapa pagi ini Sella begitu gugup. Padahal pria yang sedang disampingnya mengemudi terlihat biasa saja. Sesekali ia melirik Varrel yang fokus menatap jalanan.
Begitu sampai, hanya Sella yang turun dan Varrel menunggu di mobil.
Tak sampai 10 menit, ketiga wanita itu kini berada di dalam mobil.
Perjalanan ke rumah orang tua dari ayahnya Rista tidak terlalu jauh.
Begitu sampai Rista dan Sella tampak takjub dengan kemewahan berlantaikan marmer.
"Mewah sekali rumahnya," puji Sella, matanya mengitari bangunan.
Varrel hanya tersenyum melihat tingkah dua wanita muda yang ada di dekatnya itu. "Ayo masuk!" ajaknya.
Ketiganya pun masuk, Tania tersenyum ke arah mereka.
"Siapa mereka?" tanya wanita tua duduk di kursi besar terbuat dari kayu jati.
"Mama tidak mengenalnya?" tanya Tania.
Wanita itu menggeleng kepalanya pelan.
"Dia Kak Elisa istri Kak Sammy," jelas Tania.
"Apa? Kau tidak berbohong, kan?" wanita itu bertanya lagi.
"Tidak, Ma. Dan gadis yang memakai pakaian berwarna merah itu putri Kak Sammy," Tania mengarahkan matanya kepada Rista.
"Cucuku!" Wanita itu berdiri dari kursinya.
Elisa menarik tangan putrinya dan mendekati Mama mertuanya.
"Kamu Elisa?" tanyanya.
Elisa mengangguk dan mereka saling berpelukan.
"Maafkan, Mama!" air mata wanita tua itu tumpah.
"Elisa juga minta maaf, Ma," ibunya Rista juga menangis.
Wanita tua bernama Sophia melepaskan pelukannya, menatap Rista memegang wajah cucunya sembari menahan haru, ia meraih tubuhnya dan mendekapnya lalu kembali menangis. "Oma, akhirnya bisa memelukmu!"
"Iya, Oma," Rista tampak gugup.
"Di mana Sammy?" tanyanya setelah melepaskan pelukan.
"Ma, Kak Sammy sudah pergi selamanya," sahut Tania menjelaskan.
Sophia menggelengkan kepalanya tidak percaya.
"Ma, Kak Sammy yang melarang istrinya untuk memberi tahu kita," jelas Tania lagi.
Tubuh Sophia lemas mendengarnya hingga ia harus di papah untuk kembali duduk.
"Maafkan Elisa, Ma. Mas Sammy melarangku, padahal ku ingin memberi tahu kalian," Elisa merasa bersalah.
"Sammy," Wanita tua itu terisak memanggil nama putranya. "Maafkan Mama, Nak!" menghapus ujung matanya.
Sella yang melihat kembali pertemuan mengharukan ikut meneteskan air mata.
Varrel yang berada di sampingnya, menyerahkan sapu tangannya kepada wanita itu.
Sella melihat ke arah Varrel meraihnya, "Terima kasih!"
Varrel membalasnya dengan senyuman.
-
-
-
Darren dan Rista menikmati makan malam bersama di sebuah kafe.
"Kenapa sangat sulit menghubungimu?"
"Aku sedang ada urusan," jawab Rista.
"Urusan apa?"
"Aku dan Ibu baru bertemu dengan Oma."
"Oma?"
"Ya, Mama dari ayah kandungku. Aku tidak pernah tahu kalau kami masih memiliki keluarga dari pihak ayah," ujar Rista meraih botol air mineral dan meminumnya menggunakan sedotan.
"Aku senang jika kalian bisa bertemu dengan mereka lagi," Darren tersenyum bahagia.
"Ya," Rista tersenyum tipis.
"Tapi, kenapa kamu bersedih?" Darren melihat wajah kekasihnya sendu.
"Aku tidak apa-apa," Rista kembali tersenyum.
*
Beberapa jam yang lalu, sepulangnya mereka dari rumah Oma Sophia. Ibunya berkata, "Oma kamu adalah pemilik Karisma Fashion, jadi Ibu harap kekasihmu tidak tahu hal ini. Ibu takut mereka akan kembali memisahkan kalian."
"Bu, aku akan tetap memilih Darren apapun yang terjadi," ujarnya.
"Oma Sophia, sangat keras kepala. Ayahmu harus meninggalkan kemewahannya demi memilih hidup dengan Ibu. Jadi, Ibu berharap hubungan kalian itu direstui dua keluarga besar," jelas Elisa.
"Jika Ibu dan kedua orang tua Darren merestui kami, itu lebih dari cukup untukku," ungkap Rista.
"Semoga saja Oma Sophia tidak ikut campur dalam hubungan kalian," harap Elisa.
__ADS_1
"Semoga saja, Bu."
*
...----------------...
Pagi ini Varrel mendatangi Arta Fashion, ia sengaja datang untuk membawakan makanan buat Rista dan Sella.
Kebetulan ketika ia turun dari mobil, dirinya berpapasan dengan Rista. "Hei!" panggilnya.
Rista pun menoleh lalu tersenyum.
"Kebetulan sekali bertemu denganmu," ujar Varrel.
"Ada apa?"
"Ini untukmu dan Sella dari Mamaku," jawabnya.
Rista meraih 2 paper bag berwarna coklat tesebut dan tersenyum, "Terima kasih!"
"Kalau begitu aku pamit pulang," Varrel bergegas ke mobilnya.
Darren dan Yuno baru saja keluar dari mobil melihat keakraban kekasihnya dengan pria lain.
Rista yang tak tahu Darren memperhatikannya berjalan ke dalam gedung, ia melangkah ke tempat sahabatnya. "Sella, ada sesuatu untukmu!"
"Apa itu?"
Rista menyerahkan 1 kantong kertas itu kepada sahabatnya. "Dari Mama Varrel!"
"Kau tidak salah?"
"Tidak, aku juga di beri," Rista menunjuk kantong miliknya.
"Kalau begitu, terima kasih. Perhatian sekali dia kepadaku," ucapnya pelan.
"Mungkin dia menyukaimu," Rista menampilkan gigi rapinya.
"Kau jangan memberikan harapan kepadaku," menatap sahabatnya itu.
"Ya, kita tidak tahu hati seseorang. Ya sudah, kalau begitu aku ke ruanganku. Selamat menikmati makanan dari calon mertua," ledek Rista. Ia pun meninggalkan meja resepsionis.
Yuno kini berada di depan ruang kerja Rista.
"Tuan, ada apa?" tanyanya menghampirinya.
"Kamu dipanggil Presdir di ruangannya," jawab Yuno.
"Baiklah, saya akan ke sana," ujar Rista. Ia pun ke mejanya meletakkan tas dan kantong kertas berisi makanan.
Rista melangkah ke ruangan kekasihnya. Tetap melakukan prosedur yang diinginkan pria itu, mencuci tangan sebelum berbicara bahkan menyentuh barang-barang miliknya.
Darren duduk di kursi kerjanya sembari menatap tajam kekasihnya.
"Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?"
"Ada hubungan apa kamu dengan pria itu?" tanya Darren.
"Aku tidak peduli siapa nama dia, kenapa dia memberikan sesuatu kepadamu?"
"Dia hanya memberikan makanan untukku dan Sella, masakan mamanya," jawab Rista.
"Sebegitu akrabnya dirimu padanya," Darren beranjak berdiri.
"Ya, kami baru beberapa hari ini akrab," jelas Rista.
Darren mengepalkan tangannya, ia menyipitkan matanya menatap Rista.
"Apa ada yang salah?"
"Rista, kenapa kalian dekat? Bukankah kamu tahu kalau kita akan segera menikah, kamu ingin mengkhianati aku?"
Rista mengerutkan keningnya. "Siapa yang mau mengkhianati kamu?"
"Kedekatan kalian mengatakannya, sampai ibunya membuatkan makanan untukmu!"
Rista tergelak mendengar ucapan kekasihnya.
"Aku serius, Rista!" Darren mulai kesal.
"Aku dan Varrel tidak memiliki hubungan apa-apa, buktinya Sella juga di kasih."
"Kenapa ibunya membuatkan kalian makanan, jika tak memiliki hubungan?"
"Aku dan Varrel sepupu," jawab Rista.
"Apa!" Darren tak percaya. "Jangan bercanda, Rista!" lanjutnya.
"Iya, ibunya adalah adik kandung ayahku," ungkap Rista.
"Kenapa kamu tidak memberi tahu aku?"
"Sekarang aku sudah memberitahumu," Rista bersikap santai.
Darren duduk dan bernafas lega.
"Aku tidak akan pernah mengkhianati cinta kita, jadi kamu jangan khawatir!" Rista menenangkan kekasihnya.
Darren mengangguk, ia sudah salah menilai Rista.
"Tidak ada pertanyaan lagi, aku mau kembali ke ruanganku," izinnya.
"Ya."
Rista berdiri lalu berjalan mendekati kekasihnya, ia mengecup pipi Darren sembari berbisik, "Aku sangat menyayangimu!" Ia pun bergegas keluar ruangan.
Darren memegang pipinya seraya tersenyum.
__ADS_1
...----------------...
Devan dan Eza sudah kembali ke tanah air, Clarissa telah menyampaikan keinginan Darren untuk melamar Rista kepada suaminya.
Devan menyetujui usulan putranya itu karena lebih baik untuk mempercepat lamarannya.
Darren yang mendengar Papanya setuju untuk datang melamar Rista merasa senang.
Darren pun pergi ke rumah Rista untuk menyampaikan maksud dan tujuannya. Elisa sebagai orang tua tunggal putrinya menyetujui.
Akhirnya tanggal dan tempat lamaran ditentukan. Elisa tak memberi tahu kabar bahagia putrinya kepada Ibu kandungnya maupun mertuanya. Karena ia tak ingin 2 wanita itu menggagalkan rencana Rista.
"Apa Ibu yakin tidak mengundang Nenek dan Oma di acara lamaranku?"
"Ya, Nak."
"Bagaimana jika mereka tahu?"
"Ibu yang akan bicara, terpenting saat ini kebahagiaanmu!"
Rista mengangguk paham.
-
-
Sementara itu Varrel dan Natasha menikmati kopi di sebuah kafe. Sudah lama mereka tidak mengobrol sejak wanita itu memutuskan menjalin hubungan dengan sekretaris pribadi Presdir Arta Fashion.
"Sudah lama kita tidak seperti ini," ungkap Varrel.
"Ya, kau harus maklum selain pekerjaan ada hati yang harus ku jaga," ujar Natasha.
Varrel menarik sudut bibirnya.
"Ada apa kau memaksaku untuk bertemu?"
"Aku cuma ingin menanyakan sesuatu," jawab Varrel.
"Ya, apa?" Natasha meraih cangkir kopi dan menyeruputnya.
"Hal apa yang disukai wanita?" tanya Varrel.
Natasha meletakkan cangkir kopinya kembali lalu tertawa kecil. "Kau menyukai seseorang?"
Varrel mengangguk mengiyakan.
"Siapa?"
"Kau tidak boleh tahu, ini masih rahasia," jawabnya.
Natasha tersenyum. "Bagaimana bisa aku memberikan jawaban kalau kau tidak memberi tahu siapa wanita itu?"
"Aku belum siap mengatakan kepadanya," ujar Varrel.
"Aku paham, paling penting kau harus tahu apa saja yang menjadi kesukaan wanita itu. Misalnya makanan kesukaannya, hobi dan kebiasaannya," jelas Natasha. "Apa kau sudah tahu yang paling disukainya?" lanjut bertanya.
"Aku tahu dia menyukai es krim," jawabnya.
"Seringlah membawanya ke sana," ujar Natasha. "Aku penasaran siapa wanita yang sudah membuatmu jatuh cinta?" tanyanya.
"Kau pasti mengenalnya."
"Apa dia seorang artis?"
Varrel menggelengkan kepalanya.
"Putri bangsawan?"
"Tidak."
"Pengusaha cantik?"
"Tidak juga," jawabnya.
"Apa desainer?" tebaknya lagi.
"Bukan juga."
"Lalu, siapa?"
"Dia hanya karyawan kantor biasa, cantik dan selalu ceria," Varrel sembari tersenyum membayangkan wanitanya.
"Rel, beri tahu aku siapa wanita itu?" desak Natasha.
"Dia Sella, resepsionis di Arta Fashion," jawabnya.
Natasha menutup mulutnya dengan tangannya, lalu ia melepaskan dan tersenyum. "Kapan kau akan mengatakan cinta padanya?"
"Aku tidak tahu," jawabnya.
"Buruan sebelum dia diambil orang lain," ujar Natasha.
"Kau jangan berkata seperti itu, buat ku takut saja!"
Natasha terkekeh.
"Aku belum punya waktu yang pas untuk bicara padanya," ujar Varrel.
"Ya, aku mengerti," ucap Natasha.
Obrolan keduanya terjeda kala Natasha menjawab panggilan telepon.
"Dia sudah meneleponmu, temui dia!" perintah Varrel.
"Ya," Natasha beranjak berdiri. "Cepat katakan padanya!" lanjutnya berucap.
"Aku akan segera mengatakannya," ujar Varrel.
__ADS_1
"Kalau begitu aku pergi, dulu. Semoga sukses," Natasha tersenyum lalu ia berjalan keluar kafe.
Varrel mengulum senyumnya, ia membayangkan bagaimana mengungkapkan perasaannya kepada Sella.