
Mendengar nama temannya disebut Sella menatap tajam pria yang ada dihadapannya. "Dia sudah menjadi milik Presdir, kau jangan mengganggunya!"
"Hei, siapa yang mau mengganggunya? Aku cuma sekedar ingin tahu tentangnya," ujar Varrel.
"Apa alasanmu bertanya tentangnya?" Sella kini bersedekap tangan dengan tatapan seakan ingin menerkam.
Varrel menarik nafasnya perlahan. "Nanti saja ku ceritakan, lebih baik kau makan saja!" ia melihat seorang wanita berjalan menghampiri meja dengan membawa hidangan.
Pelayan datang menyajikan pesanan Sella. "Selamat menikmati, Nona!"
"Terima kasih," Sella tersenyum. Ia melihat Varrel tidak memesan makanan, "Kau tidak makan?" tanyanya.
"Aku sudah kenyang melihatmu!"
"Kau pikir aku ini makanan," gerutunya. Sella pun menikmati hidangan yang dipesannya.
"Kau sudah lama berteman dengan Rista?"
"Sudah."
"Nama lengkapnya Rista, siapa? Aku pernah dengar karyawan memanggilnya Ayumi," ujarnya berbohong.
Sambil mengunyah, Sella berkata, "Namanya Ayumi Charista, Bibi Elisa menyukai Clarissa Ayumi makanya nama mereka hampir mirip!"
"Begitu, ya!" Varrel menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
Sella memperhatikan Varrel menghela nafas. "Ada apa?"
"Bisakah kau membantuku bertemu dengan ibunya?"
"Untuk apa?"
"Kau akan tahu nanti," jawabnya.
"Beri tahu aku sekarang, kalau tidak ku takkan memberitahumu di mana mereka tinggal," ancam Sella.
"Baiklah," ujarnya. "Mamaku sedang mencari kakak kandungnya yang telah lama menghilang," lanjutnya.
Sella mengangguk mendengarnya, ia lalu berkata, "Bagaimana nanti malam kita ke rumahnya?"
"Boleh, aku akan memberi tahu Mama," Varrel melemparkan senyumnya.
-
Pria itu mengantarkan Sella kembali ke kantornya. Sebelum wanita itu turun ia mengungkapkan terima kasih.
Sella berjalan memasuki gedung bersamaan dengan Rista yang baru saja tiba.
"Kau di antar siapa tadi?" Rista menghampiri temannya sementara itu Darren bergegas ke ruangannya.
"Varrel."
"Kalian berpacaran?"
Sella tertawa, "Tidaklah."
"Tapi, kenapa kalian bisa bersama?"
"Dia menagih uang es krim kemarin," jawab Sella berbohong.
"Oh, begitu ya."
"Sudah sana, kembali ke ruanganmu sebelum kekasihmu yang pembersih itu memarahi kita," ujar Sella.
"Ya, baiklah." Rista pun berjalan menuju ruangannya.
-
-
Sesuai janjinya Sella akan menemani Varrel dan ibunya menemui Elisa.
Varrel menjemput Sella di kediamannya sementara itu Tania berada di mobil yang berbeda dan sedang dalam perjalanan menuju apartemennya Rista.
Tak sampai 15 menit mereka tiba, Tania merangkul lengan putranya menghampiri kediaman kakak iparnya.
__ADS_1
Sella menekan tombol, tak menunggu lama pintu terbuka. Rista menyapa sahabatnya dengan tersenyum namun wajahnya berubah ketika melihat Varrel dan mamanya.
"Kenapa Tuan Varrel dan mamanya di sini?" tanya Rista pelan pada Sella.
"Mereka ingin bertemu dengan ibumu!" jawabnya.
"Ibu? Memangnya ada apa urusan apa mereka berdua ingin bertemu dengan Ibuku?" tanya Rista lagi.
"Jangan banyak bertanya, panggilkan saja!" perintah Sella.
"Baiklah, tunggu sebentar. Silahkan masuk!" Rista mempersilakan ketiganya.
Mereka pun masuk, Tania mengedarkan pandangannya sekelilingnya.
"Apartemen ini pemberian kekasihnya Rista, Tante." Tutur Sella sebelum wanita itu bertanya dan memikirkan hal-hal aneh.
Elisa muncul menghampiri tamunya, matanya mendelik kala melihat sosok wanita paruh baya yang masih cantik.
"Kakak ipar!" sapanya mendekati Elisa.
Keduanya saling berpelukan.
Rista memandang Sella dan Varrel seakan ingin bertanya.
"Apa kabar, Kak? Kenapa tidak memberitahu ku jika Kak Sammy meninggal?" tangis Tania pecah.
"Kakak minta maaf, semua karena permintaannya," jawab Elisa juga menangis.
Tania melonggarkan pelukannya, ia melihat Rista yang berdiri di samping Elisa lalu meraih tubuh wanita dan memeluknya. "Akhirnya Tante bisa bertemu denganmu," ujarnya.
Rista tampak bingung.
Tania melepaskan pelukannya dan menghapus sudut matanya.
"Rista, Tante Tania adalah adik Ayah kamu," jelas Elisa.
"Kenapa Ibu tak pernah memberitahu aku jika ayah masih memiliki keluarga?" Rista menatap ibunya.
"Ceritanya panjang, Nak."
"Dia sangat merindukan kalian walaupun ia tak pernah mengatakannya," jawab Tania.
"Berarti aku dan Rista, sepupu?" Varrel akhirnya berbicara.
"Ya, Nak." Jawab Tania.
Elisa memeluk Varrel. "Kamu sangat tampan sekali, kita hanya bertemu dua kali saja ketika usiamu setahun."
Varrel hanya tersenyum.
"Pergilah dan temui Mama, Kak!" pinta Tania pada Elisa.
"Kakak tidak berani menemuinya," ujarnya.
"Aku dan Varrel akan menemani kalian menemuinya," ucap Tania.
Elisa menganggukan mengiyakan.
-
Sejam setelah pertemuan mengharukan itu. Varrel mengantarkan Sella pulang.
"Rasanya aku ingin menangis melihat Bibi Elisa dan Mamamu bertemu," ujar Sella.
"Kenapa tidak menangis?"
"Kau mau kalau Rista melihatku, dia akan mengejekku," jawabnya.
"Kenapa dia mengejekmu?"
"Aku kalau menangis bisa satu apartemen mendengarnya, dia akan memarahiku," jelasnya.
"Sebegitunya kau menangis?"
"Ya."
__ADS_1
"Bagaimana jika kau patah hati?"
"Rista akan berusaha sekuat tenaganya mendiamkan aku!"
"Ternyata kau sangat parah!"
"Ya, begitulah aku!"
"Sebagai ucapan terima kasihku padamu, bagaimana kalau kita makan es krim? Apa kau mau?"
"Aku mau," jawab Sella semangat.
Varrel melajukan mobilnya ke arah kedai es krim.
Begitu sampai keduanya lantas turun dan memesan es krim favorit masing-masing. Tak cukup lama, pesanan mereka datang dan pelayan menyajikannya di atas meja.
Sella begitu semangat memakan es krim, padahal hari menjelang larut malam namun wanita itu tak peduli ia tetap menikmatinya.
Varrel meraih tisu dan tanpa permisi ia mengelap bibir Sella yang belepotan es krim.
Seketika aktivitas makan es krim Sella berhenti, ia melihat tangan Varrel menyentuh bibirnya.
Varrel menarik tangannya, "Maaf!" ia melanjutkan makan es krim tanpa menatap wanita yang ada dihadapannya.
"Es krimnya sangat enak," ucap Sella menghilangkan kecanggungan keduanya.
"Ya, memang sangat enak," Varrel tersenyum kaku.
"Apalagi kalau di kasih gratis," celetuk Sella.
"Besok aku akan membawamu ke sini lagi," janji Varrel.
"Aku hanya bercanda, jangan dianggap serius," ujarnya.
"Tidak masalah bagiku, besok kita ke sini lagi. Cepat habiskan es krimnya, nanti kedua orang tuamu mencarimu!"
Sella pun menghabiskan es krimnya.
-
Jarum jam menunjukkan pukul 11 malam, Sella tiba di rumahnya. Begitu sampai ia membuka sepatunya lalu melemparkan tasnya di atas ranjang bersamaan dengan tubuhnya.
Ia menatap langit kamar, sembari mengulum senyumnya. Ia teringat dengan perlakuan manis Varrel padanya saat mengelap bibirnya.
Sella menggelengkan kepalanya, menghilangkan bayangan Varrel saat di kedai es krim. Ia lantas bangkit dan duduk, "Kenapa aku jadi memikirkan dia?"
...----------------...
Begitu sampai kantor, Rista menghampiri sahabatnya itu.
"Ada apa?" tanya Sella.
"Besok pagi, Ibu mengajakku bertemu Oma. Kau ikut, ya?"
"Rista, aku tidak bisa ikut. Ku hanya orang luar," jawabnya.
"Tapi, kau yang menunjukkan rumah kami. Jadi, kau harus ikut juga," mohon Rista.
"Tapi, Rista..."
"Tak ada penolakan, kau harus ikut. Suruh Varrel menjemputmu dan kami," ucap Rista.
"Kenapa harus aku yang menghubunginya?"
"Karena kau yang memiliki nomor ponselnya," jawab Rista. "Aku mau ke ruanganku, jangan lupa hubungi dia," perintahnya.
"Baiklah," ucap Sella pasrah.
Sella mengambil ponselnya, lalu mencari kontak Varrel namun ia urungkan. "Kenapa aku jadi deg-degan begini?"
Akhirnya ia hanya mengirimkan pesan kepada Varrel sesuai perintah Rista.
Tak lama Varrel membalas pesan Sella. "Baiklah, dengan senang hati aku akan menjemputmu dan Rista."
"Uh, kenapa dia menulis kata-kata itu? Aku 'kan jadi tersipu malu," Sella senyum-senyum sendiri.
__ADS_1