
Setelah mengantar nenek dan ibunya ke rumah di temani sahabatnya, Rista pergi ke rumah keluarga Artama.
Tak sampai 30 menit mereka sudah tiba di rumah dengan arsitektur lama namun tetap kokoh dan mewah.
"Rista, semoga berjalan baik-baik saja!" harap Sella sebelum sahabatnya itu turun.
Rista tersenyum singkat sambil menggerakkan dagunya pelan, ia lalu keluar dari mobilnya.
Rista mencoba mengatur nafasnya agar tidak terlihat gugup karena dirinya tak ingin hubungannya dengan Darren berantakan karena ulah neneknya.
"Silahkan masuk, Nona. Nyonya besar sudah menunggu anda!" ucap pelayan saat membuka pintu untuknya.
Rista berjalan ke arah ruang tamu, tampak kekasihnya dan Devan Artama di ruangan itu.
Darren mendekati kekasihnya dan menyuruh wanita itu duduk.
"Jelaskan!" Clarissa tanpa basa-basi.
"Maafkan saya, Tante. Wanita itu adalah ibu kandung dari ibu saya," Rista menjelaskan tanpa berani menatap.
"Kenapa kamu membiarkan dia menampar istri saya?" Devan kali ini bertanya.
"Saya tidak tahu kenapa dia melakukan itu. Saya benar-benar minta maaf atas nama nenek," jawab Rista dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu boleh pulang!" ucap Clarissa.
Rista menganggukan kepalanya pelan, ia lalu berdiri setelah berpamitan kepada keluarga kekasihnya.
Darren tak mengantarkan Rista ke parkiran. Ia lagi berusaha menenangkan kedua orang tuanya agar tidak menyimpan amarah kepada Rista dan neneknya.
Begitu di dalam mobil, Rista menyandarkan tubuhnya di kursi. Ia menghembuskan nafas kasarnya dan meraup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Bagaimana?" Sella penasaran.
"Semua baik-baik saja."
"Huh, syukurlah!" Sella merasa lega.
Mobil meninggalkan kediaman Artama menuju rumah Rista.
Sella tak singgah ia lalu melesat ke rumahnya, karena bukan waktunya yang tepat untuk dirinya mengobrol dengan sahabatnya itu.
Rista tak mau menyapa neneknya, ia bergegas ke kamarnya karena ia sangat begitu kecewa.
Semua yang berada di rumah tampak diam, seperti tidak ada penghuninya. Mereka melakukan aktivitas seperti biasa namun tanpa suara.
-
Malam harinya ketiga makan bersama di meja yang sama. Namun, ketiganya hanya saling pandang. Elisa ingin bertanya tentang pertemuannya dengan keluarga Darren tapi ia urungkan.
"Kamu masih marah sama nenek?" tanya Lusi.
Rista tak menjawab.
"Wanita itu yang sudah membuat kakek ditahan!" ucap Lusi.
Rista mengarahkan matanya pada neneknya.
"Bu, itu sudah masa lalu!" Elisa berkata pelan.
"Apa maksudnya?" tanya Rista.
"Tidak ada, Rista!" jawab Elisa dengan cepat.
__ADS_1
"Dia harus tahu sebenarnya, Elisa!"
"Apa yang telah dilakukan wanita itu?" tanya Rista penasaran.
"Kakekmu ditahan dan ibumu kehilangan adiknya karena wanita itu yang sudah melaporkannya," jelas Lusi.
"Pasti ada alasan dia melaporkan kakek," ujar Rista.
Lusi terdiam, ia ingin membuat cucunya itu berpihak padanya dan menyalahkan Clarissa.
"Apa alasan Clarissa Ayumi melaporkan kakek?" tanya Rista.
"Sayang, sudah ya," ucap Elisa.
"Aku ingin tahu yang sebenarnya, Bu!"
"Tidak ada yang perlu kamu ketahui," ujar Elisa.
"Bu, nenek sudah membuat malu aku di depan keluarga Darren. Beruntung mereka memaafkan aku!"
"Darren teman kamu yang sering ke sini?" tanya Lusi.
"Ya, dia kekasihku!" jawab Rista ketus.
"Nenek tidak setuju kamu bersamanya!" Lusi berkata tegas.
"Kenapa nenek tidak setuju? Kami saling mencintainya dan dia akan segera menikahiku," ungkap Rista.
"Nenek tetap tidak setuju!" Lusi berkata lantang. Lalu ia menatap ke arah putrinya, "Kenapa kamu membohongiku, El?" tanyanya.
"Karena aku tidak mau Ibu menghancurkan perasaan putriku," jawab Elisa.
"Bukankah kamu tahu apa yang telah dilakukan mereka kepada keluarga kita," Lusi marah.
"Aku tidak mengerti dengan ucapan Ibu dan Nenek," sahut Rista.
"Kamu mau tahu, Rista. Kakek yang telah membuat Mama Darren jatuh pingsan dan dilarikan ke rumah sakit. Kejadian itu terjadi sebelum dia menikah dengan Papanya Darren," ungkap Elisa.
"Berarti kakek yang bersalah bukan keluarga Darren. Aku juga akan melakukan hal yang sama jika orang yang ku sayangi dicelakai orang lain," ujar Rista.
"Harusnya wanita itu mati, karena dia menahan kakekmu calon bayiku meninggal sebelum lahir ke dunia!" Lusi menekankan kata-katanya.
"Nenek jahat!" Rista berkata dengan lantang. Ia beranjak dari duduknya dan berlalu.
"Lihatlah, Bu. Cucumu jadi membencimu karena dirimu sudah membuat dia kecewa. Kenapa Ibu tak bisa melupakan kejadian masa lalu? Ayah yang bersalah di sini membuat orang lain celaka, bagaimana jika keluarga Darren tahu kalau Rista adalah cucu dari pria yang membuat Clarissa hampir kehilangan nyawanya," Elisa mengeluarkan keluh kesahnya.
"Itu malah lebih baik, Rista tak jadi menikah dengan putranya," Lusi bersikap santai.
"Ibu sungguh egois!" Elisa pun meninggalkan meja makan.
...----------------...
Darren menjemput Rista di rumahnya tapi pria itu menunggunya di depan jalan.
Rista memasuki mobil kekasihnya dan melemparkan senyum tipis.
"Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Darren.
"Ya," jawabnya.
Rista memilih diam, ia merasa malu kepada kekasihnya itu karena kejadian kemarin sore.
"Kamu masih memikirkannya?" tanya Darren.
__ADS_1
"Ya," jawabnya sendu. "Maafkan aku!" ucapnya dengan meneteskan air mata.
"Hei, kenapa menangis? Ini hanya salah paham saja," Darren meletakkan telapak tangan kirinya di pipi kekasihnya.
"Andai kau tahu sebenarnya, apa sikapmu akan sama?" Rista bertanya dalam hati.
"Jangan bersedih lagi, aku mau lihat kamu selalu bahagia," ujar Darren.
Rista memaksakan tersenyum.
-
-
Devan dan istrinya menunggu seseorang di rumahnya. Ya, mereka mencari informasi tentang wanita yang menampar Clarissa di mall.
Seorang pria muda datang dan menjelaskan hasil penyelidikannya.
"Cepat beri tahu kami informasi yang kamu dapatkan!" pinta Devan.
"Wanita itu bernama Lusi dia istri dari pria yang memukul Nyonya Clarissa di toilet lokasi syuting beberapa tahun yang lalu."
Clarissa menarik nafasnya, ia lalu menatap wajah suaminya.
"Dan putrinya Elisa adalah ibu kandung dari Nona Ayumi Charista, kekasihnya Tuan Darren."
"Lalu ke mana suaminya?" tanya Devan.
"Suami Nyonya Lusi sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu."
"Apa alasan dia ke kota ini?" tanya Devan lagi.
"Kami tidak tahu, Tuan. Menurut warga sekitar kediaman Nona Rista kalau Nyonya Lusi hanya berkunjung menemui putri dan cucunya."
"Aku tidak percaya dia ke kota ini hanya untuk putri dan cucunya," tuding Devan. "Informasi cukup, silahkan pulang!" titahnya dengan ramah.
"Baik, Tuan." Pria itu pun pergi.
"Apa yang harus kita katakan pada Darren?" tanya Devan pada istrinya.
"Aku tidak tahu, Van. Ku yakin wanita itu juga tak menyukai putra kita menjalin hubungan dengan cucunya," tebak Clarissa.
"Wanita tua itu sungguh keterlaluan, suaminya yang melakukan kejahatan tapi dia malah menyalahkan dirimu."
"Apa kau yakin jika Rista tahu akan hal ini? Atau gadis itu memang benar-benar tidak tahu masa lalu kakeknya?" tanya Clarissa pada suaminya.
"Entahlah, mulai saat ini Darren harus menjauhi kekasihnya. Karena aku tidak mau putraku memiliki hubungan dengan mereka," jawab Devan.
"Tidak, Van. Ini sangat menyakitkan bagi mereka," ujar Clarissa.
"Tapi, neneknya sudah melakukan kesalahan besar dengan menyerangmu. Pasti dia ingin membalas sakit hatinya," tebak Devan.
"Tapi, ini tak adil untuk putra kita dan Rista."
"Bagaimana jika Rista sudah tahu sebenarnya? Dia mendekati Darren untuk melampiaskan dendamnya pada kita," tuding Devan lagi.
"Aku melihat gadis itu sepertinya sangat tulus mencintai putra kita."
"Mungkin itu taktiknya untuk membuat Darren menyukainya," ujar Devan.
"Kita tidak bisa gegabah menuduhnya, semoga saja gadis itu benar-benar tulus."
"Tulus atau tidaknya, aku mau keduanya berpisah!"
__ADS_1