
Andra membawa nampan berisi makanan dan minuman ke kamar Raiza. Ia meletakkannya di atas nakas lalu menyuap bubur ke mulut gadis itu. Dengan sabar dan perhatian Andra merawatnya.
"Minum obatnya, Nona!" Andra memberikan beberapa tablet ke tangan Raiza dan gadis itu memasukkan ke mulutnya lalu Andra menyodorkan segelas air putih.
"Terima kasih," ucapnya.
Andra meletakkan gelas kembali di nakas.
"Kau sudah makan siang?"
"Sebentar lagi, Nona."
"Ini sudah lewat jam makan siang, kau harus mengisi tenaga karena aku banyak maunya," ujar Raiza.
"Saya tahu Nona banyak maunya," Andra tersenyum.
"Apa perlu aku menyuapimu?"
"Tangan Nona masih sakit, lagian saya pasti akan menolak jika disuapin," jawabnya.
"Kenapa?"
"Saya takut calon suami Nona marah," jawab Andra.
Raiza tertawa mendengarnya.
Andra menarik sudut bibirnya.
Raiza terdiam saat Andra menatapnya.
Andra memalingkan wajahnya, ia tampak salah tingkah. "Saya izin mau makan siang, Nona."
"Ya, silahkan." Raiza mempersilakannya.
Andra pun meninggalkan kamar.
-
Raiza keluar kamar memanggil mamanya, namun wanita itu tak kunjung menjawabnya.
Seorang pelayan mendekatinya, "Nyonya lagi pergi, Nona."
"Ke mana?" tanyanya.
"Saya tidak tahu, cuma dia pergi bersama Tuan Eza," jawabnya.
"Begitu, ya."
"Ya, Nona."
"Ya sudah, terima kasih."
Raiza pun berjalan ke meja maka, ia duduk dihadapan pria itu yang tampak terkejut dengan kehadiran dirinya.
"Nona, kenapa keluar kamar?"
"Aku bosan di kamar," jawabnya. "Apa kau tahu ke mana kedua orang tuaku pergi?" tanyanya.
"Kata Bibi mereka mau mengurus pesta ulang tahun Nona," jawab Andra.
"Astaga, kenapa mereka sibuk dengan pesta ulang tahunku sementara aku masih begini?" keluhnya.
"Mungkin calon suami Nona yang memintanya," ucap Andra asal.
"Pasti dia akan kecewa melihat aku seperti ini, aku belum pulih total masih saja memikirkan perjodohan. Mereka sungguh membuatku makin stress," ujarnya.
"Nona cantik kok!" puji Andra.
"Jangan menghinaku!" sentaknya.
"Saya tidak menghina, memang kenyataannya Nona cantik," jelas Andra.
Raiza menarik bibirnya, "Kau hanya ingin menghiburku, kan?"
"Ya, agar Nona tidak patah semangat."
"Terima kasih, kata-kata semangatmu," Raiza mengerucutkan bibirnya.
"Sama-sama, Nona."
"Kau sungguh menyebalkan!" Raiza meninggalkan meja makan.
-
-
Menjelang petang, Raisa dan suaminya tiba di rumah.
Raiza sudah menyambut kedatangan orang tuanya dengan wajah sulit diartikan.
"Sayang, kenapa kamu diluar sendirian?" tanya Eza.
"Kalian dari mana saja?" tanyanya ketus.
"Kami sedang mempersiapkan acara ulang tahun kamu," sahut Raisa.
"Ma, Pa, aku belum pulih. Kalian sudah memikirkan pesta. Apa tidak bisa ditunda?"
"Tidak bisa, Nak. Opa kamu yang memintanya," jawab Eza.
"Mama dan Papa harusnya bicara dengan Opa kalau aku belum siap untuk bertemu dengannya apalagi dengan kondisiku seperti ini," ujarnya.
"Calon suamimu sudah tahu kondisimu, jadi dia akan menerima apapun keadaanmu, Nak!" ungkap Raisa.
__ADS_1
"Aku yang belum siap, Ma. Aku tidak percaya diri," Raisa berkata sendu.
"Mama yakin kalau dia pria yang baik dan takkan mempersalahkannya. Lukamu ini bisa disembuhkan, tapi butuh proses yang tidak cukup dua atau tiga hari saja," jelas Raisa.
"Yang dikatakan Mama kamu benar, kamu tetap putriku yang cantik," puji Eza.
Raiza pun tersenyum.
...----------------...
Hari ulang tahun pun tiba....
Selesai sarapan, Raisa meminta putrinya untuk mencoba gaun yang akan dikenakan pesta nanti.
"Ma, aku sangat malas sekali!" Raiza tampak uring-uringan.
"Nak, ini pesta kamu. Keluarga pada kumpul," ujar Raisa.
"Tapi, aku malu dengan wajah seperti ini, Ma."
"Mereka tidak akan mempermasalahkannya," Raisa berusaha menyakinkan.
Raiza pun akhirnya mau mencoba gaun pestanya.
Raisa melihat putrinya keluar dari kamar lalu tersenyum. "Cantik sekali!" pujinya.
"Mama tidak perlu memujiku seperti itu," gerutunya.
"Kamu memang cantik, sayang."
Raiza menunjukkan wajah cemberutnya.
"Nanti sore penata rias akan datang," Raisa memberi tahu.
"Ya, Ma." Raiza tampak malas.
Sementara itu di lain tempat, di waktu yang sama. Andra sedang membaca buku.
"Nanti malam temani Ibu pergi ke acara ulang tahun Nona Muda, ya!"
"Memangnya Ibu diundang? Bukankah ini hanya acara buat keluarga inti saja?"
"Buktinya Ibu diundang. Apa kamu tidak diundang mereka?"
"Diundang tapi aku malas menghadirinya, Bu."
"Andra, ini acara keluarga Artama dan kamu pernah menjadi pengawal Nona Muda. Jadi, kamu harus datang juga. Pakai baju yang bagus agar kelihatan tampan," ujar Lina.
"Bu, aku tidak bisa menemani," tolaknya.
"Kenapa? Kau cemburu, ya?"
"Tidak, Bu."
Andra tak bisa menjawab.
"Kita harus tetap datang ke acara itu. Karena Ibu sangat penasaran seperti apa wajahcalon suami Nona Muda," ujarnya.
"Baiklah, aku akan menemani Ibu ke pesta itu."
Lina tersenyum mendengarnya.
-
-
Menjelang sore hari, seorang kurir membawakan kotak ukuran sedang. Lina menerimanya tak lupa ia juga mengungkapkan terima kasih.
Lina berjalan menghampiri putranya yang sedang memainkan ponselnya.
"Andra, coba kamu pakai ini!" Lina menyodorkan kotak itu.
"Ini apa, Bu?"
"Buka saja!" titahnya.
Andra membukanya dan mendelikkan matanya. "Ibu yang membelikannya?"
"Bukan, itu dari Tuan Eza untukmu dan harus dipakai nanti malam."
Andra mengeluarkan isinya berupa kemeja, celana dan jas.
"Kamu pasti terlihat tampan dengan pakaian itu!" celetuk Lina.
"Percuma, kalau akhirnya Raiza dengan orang lain," lirihnya.
"Kamu bicara apa?"
"Tidak ada, Bu."
-
-
Malam harinya.....
Andra dan ibunya datang ke kediaman Devan Artama. Tampak Opa Hilman dan Oma Dita telah datang.
Andra mengedarkan pandangannya melihat tamu yang hadir, tak ada orang lain yang datang pada acara ulang tahun Raiza.
Hanya saja terlihat anak, menantu dan cucu dari Devan Artama. Serta keluarga besar dari Rey dan Raya.
Hal sama juga dipertanyakan Raiza dalam hati. Orang-orang yang dikenalnya saja tampak hadir.
__ADS_1
"Ma, mana calon suamiku?" bisiknya di telinga sang mama.
"Sebentar lagi dia datang," jawab Raisa.
Raiza mengangguk.
Sampai acara dimulai tak ada satupun tamu asing yang hadir ke acara ulang tahun Raiza.
"Apa dia membatalkan perjodohan ini? batin Raiza.
"Selamat malam semua!" Eza membuka acara.
"Selamat malam!" ucap tamu serentak.
"Terima kasih sudah hadir di acara bahagia putri kami. Dan malam ini kami juga akan umumkan calon suami buat Raiza," ujarnya.
Raiza mengedarkan pandangannya mencari sosok pria yang akan menjadi calon suaminya. "Semoga saja dia tidak datang!"
Andra menoleh ke kanan dan kiri, ia juga penasaran bagaimana wujud calon suami sang nona.
"Andra Keenan bisakah kamu ke sini sebentar!" panggil Eza melalui mikropon.
Seluruh mata menatap pria muda itu. Ia pun berjalan ke arah Eza, disampingnya ada Raiza dengan gaun malamnya yang masih tampak cantik.
"Karena hari ini spesial buat putri kami, jadi Andra juga harus tahu seperti apa sosok calon suami dari Raiza," ujar Eza.
Andra memaksakan tersenyum.
"Andra, apa kamu setuju jika Raiza menikah?" tanya Eza.
Andra tampak kebingungan menjawab pertanyaan dari pria paruh baya itu.
"Saya bicara kepada kamu, karena kalian berdua sudah sangat dekat jadi saya ingin tanyakan padamu. Siapa tahu dirimu memiliki perasaan kepada putri kami?"
Andra semakin terpojokkan dengan pertanyaan itu.
"Pa, jangan mempermalukan dia!" bisik Raiza di telinga papanya.
"Andra, apa kamu bisa menjawab pertanyaan saya?"
"Saya bahagia jika Nona bahagia dengan pilihan Paman!" jawabnya.
"Apa kamu juga, Raiza?" Eza mengarahkan pandangannya kepada putrinya.
"Papa, kenapa bertanya seperti itu?" Raiza merapatkan giginya.
"Raiza, cepat jawab. Para tamu penasaran," desaknya.
"Aku ikut kata Papa saja," ujar Raiza.
"Benarkah? Kalau begitu kalian berdua menikah saja," Eza tersenyum.
Andra dan Raiza tampak bingung, keduanya saling pandang dan melemparkan tatapan ke arah tamu yang senyum-senyum.
"Pa... maksudnya apa?" tanya Raiza.
"Ya, karena malam ini Andra akan melamarmu," jawab Eza.
Andra semakin bingung. "Paman, saya tidak pernah mengatakan akan melamar Nona Raiza."
"Jadi, kamu tidak suka dengan putriku?"
"Bukan begitu, tapi Nona Raiza sudah dijodohkan," jawabnya.
"Ya, kami memang sudah menjodohkannya."
"Lalu, kenapa harus saya?"
"Ya, karena calon suami Raiza itu kamu!"
Andra dan Raiza terkejut tapi tidak dengan para tamu yang berdiri dan bertepuk tangan bahagia.
"Pa, aku makin tidak mengerti," ujar Raiza yang belum paham.
"Jadi sebenarnya, pria yang akan kami jodohkan itu adalah Andra. Kami sengaja tidak memberi tahu kalian," sahut Raisa menjelaskan.
"Opa juga sengaja menyuruh Andra sebagai pengawalmu agar kalian semakin dekat," jelas Eza.
Raiza yang mendengarnya menangis bahagia, ia lantas memeluk Eza. "Kenapa Papa tidak bicara dari awal?"
"Papa ingin tahu, apa kalian benar-benar saling mencintai atau tidak," jawabnya.
Andra yang tak percaya dirinya adalah pria yang akan dijodohkan dengan Raiza masih terlihat bingung.
Hilman mendekati cucunya lalu memeluknya. "Selamat, ya!"
"Opa!" semakin erat mendekap.
"Tanpa berlama-lama, jadi malam ini acara lamaran akan dilaksanakan," ujar Eza.
Lina berjalan mendekati putranya menyodorkan kotak kecil berisi cincin.
"Jadi, Ibu ikutan dalam rencana ini?" tanya Andra.
"Ya, Nak. Ibu ikut, agar kamu tidak curiga dan menjadi kejutan untukmu!" Lina memeluk putranya.
"Sekarang pasang cincinnya!" perintah Eza.
Andra yang tersenyum malu-malu mendekati Raiza yang terlihat gugup. Andra meraih jemari gadis itu dan menyematkannya.
Tepukan gemuruh membuat pipi keduanya merona.
"Ternyata cintaku kali ini tidak bertepuk sebelah tangan," bisik Raiza ditelinga Andra.
__ADS_1
"Aku mencintaimu!" Andra balas dengan berbisik juga, membuat gadis itu tersenyum bahagia.