Jangan Mengejarku, Cantik!

Jangan Mengejarku, Cantik!
Masih Cinta


__ADS_3

Keesokan paginya, Darren dan Yuno melangkah memasuki gedung beriringan. Keduanya melihat Sella berjalan sembari berbicara dengan ponselnya begitu tiba di perusahaan.


Darren dan Yuno saling pandang.


"Kira-kira dia lagi menerima telepon dari siapa?" bisik Darren.


"Aku juga tidak tahu," jawab Yuno pelan.


"Cepat, dengarkan pembicaraannya!" perintahnya dengan suara pelan.


Yuno mengangguk, pria itu pun mendekati Sella yang tak tahu jika dirinya berada di belakangnya.


"Aku sudah di kantor, nanti aku menghubungimu lagi," Sella menutup teleponnya. Ia lalu membalikkan badannya dan berjengit kaget karena Yuno berada di belakang tubuhnya.


Yuno hanya melemparkan senyum.


"Ada apa, Tuan?" tanyanya.


"Apa saya boleh meminjam ponselmu?"


"Ponsel? Memangnya punya Tuan, di mana?"


"Saya lupa meletakkannya di mana."


Sella mengerutkan keningnya, dengan ragu-ragu ia menyodorkan ponselnya kepada Yuno.


Setelah meraih ponsel Sella, ia sedikit menjauhi wanita itu. Yuno berpura-pura menekan tombol nomor pribadinya, padahal ia ingin tahu dengan siapa Sella berbicara. Senyum tertarik ketika melihat kontak yang baru saja dihubungi pemilik ponsel tersebut. Lalu ia mendekati Sella kembali.


"Apa sudah selesai, Tuan?"


"Saya tidak jadi memakainya."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Saya baru ingat meletakkan ponselnya," jawab Yuno berbohong. "Terima kasih," ia pun berlalu.


Darren yang dari tadi lebih dahulu jalan, menunggu sekretarisnya di ruangan kerja.


Yuno menghampiri Presdir yang berada di ruang kerja khusus dirinya.


"Bagaimana?" tanyanya begitu semangat.


"Dia baru saja selesai menelepon Rista."


"Apa kita harus menyadap teleponnya?" usul Darren.


"Tidak, kita melanggar privasinya!" jawab Yuno.


"Jadi, bagaimana aku bisa menemuinya?"


"Apa kau tidak punya nomor ponselnya?"


"Dia sudah memblokir seluruh panggilan dariku kecuali hanya satu media sosialnya, ku sudah mencoba mengirimkan pesan tetapi dia tak membalasnya."


"Dia hanya membagikan postingan orang lain," jawab Darren.


"Huh, sangat sulit sekali. Aku turut bersedih," Yuno memijit pangkal hidungnya.


Darren mendengus kesal.


"Semoga saja Rista masih memiliki perasaan kepadamu!" Yuno meledek sahabatnya itu.


Darren menampilkan senyum terpaksa, ia lalu pergi ke ruangan kerjanya.


Sementara itu Sella mengirimkan sahabatnya pesan. Tak lama kemudian Rista menghubunginya kembali.


"Halo, Sella!"

__ADS_1


"Ya, Rista. Sepertinya dia sangat mengharapkan kau kembali," ujarnya.


"Aku sudah tak bisa kembali ke sana, Sella."


"Apa kau tidak mencintainya lagi?"


Rista tak menjawab ia hanya diam.


"Hei, kau kenapa diam?"


"Sella, keluargaku telah banyak melakukan kesalahan kepada keluarga Nyonya Clarissa. Aku malu untuk kembali, ku harap Darren segera menemukan pengganti diriku."


"Jika kau masih mencintainya, lebih baik kalian bertemu. Aku kasihan padanya, sepertinya dia akan berusaha mencari tahu tentangmu melalui aku."


"Untuk saat ini, aku belum siap dan ingat jika bicara jangan sampai keceplosan memberi tahu keberadaan ku."


"Iya, aku tidak akan memberitahunya. Kalau begitu aku harus kembali bekerja," Sella menutup teleponnya.


Di lain tempat di waktu yang sama. Rista menatap ponselnya, setelah menerima telepon dari sahabatnya entah kenapa dia jadi memikirkan Presdir.


Elisa yang melihat putrinya melamun mendekatinya. "Pagi-pagi sudah bengong, apa masih mengantuk?"


"Bu, aku baru saja berbicara dengan Sella."


"Ya, lalu kenapa?"


"Dia mengatakan kalau Darren menginginkan ku kembali, dia pernah menyapaku di media sosial tapi ku tak menggubrisnya. Kemarin Nona Raisa bertemu dengan Sella hanya untuk bertanya tentangku dan tadi Yuno sengaja berada di belakang Sella saat menerima telepon lalu berpura-pura meminjam ponsel Sella," tutur Rista.


"Semua itu kembali kepadamu, Nak."


"Aku belum siap, Bu." Rista tampak bingung. "Keluarga kita terlalu banyak bersalah kepada mereka," lanjutnya.


Elisa menghela nafas, "Berdoalah, semoga ada jalan terbaik untukmu."

__ADS_1


Rista memeluk ibunya dan menumpahkan rasa kebimbangan hatinya. "Aku masih mencintainya, Bu."


__ADS_2