Jangan Mengejarku, Cantik!

Jangan Mengejarku, Cantik!
Kehebohan Berita Natasha


__ADS_3

Gedung Arta Fashion


Para karyawan saling bergosip sesaat mereka tiba di kantor. Ya, berita makan malam Natasha dengan seorang pria tersebar.


Bukan artis atau pria kaya yang membuat mereka heboh, tetapi kedekatan keduanya dengan sekretaris Presdir Arta Fashion. Pria dingin yang menjadi dambaan para karyawan wanita harus kandas karena Yuno telah memilih sang model brand ambassador.


Darren membaca berita itu lewat ponselnya hanya tersenyum. "Apa kau sudah baca berita hari ini?" tanyanya pada Yuno saat di ruang kerja Presdir.


"Belum," jawab Yuno.


"Lihatlah!" Darren menunjukkan ponselnya.


"Gawat!" ucapnya.


"Hei, santai saja. Ini bukan berita sensasi sangat menguntungkan bagi Arta Fashion," tutur Darren.


"Bagaimana jika Paman Devan tahu?" Yuno tampak khawatir.


"Kau tenang saja, ku akan bicara pada Papa." Darren mencoba menenangkan sahabatnya itu.


-


Sementara itu, Sella menekuk wajahnya. Ia hari ini tampak tidak semangat.


Rista yang sedang menyetir melihat wajah sahabatnya murung. "Hei, kau kenapa?"


"Aku lagi kecewa dan patah hati," jawabnya memanyunkan bibirnya.


"Patah hati dengan siapa?"


"Tuan Yuno berkencan dengan model Natasha, kesempatan ku bersamanya gagal sudah," Sella menangis semakin kuat.


"Hentikan suara tangisanmu itu!" perintah Rista.


"Tuan Yuno kenapa tidak memilih aku?" tanyanya.


"Mana aku tahu, mungkin dia memang dari dulu menyukai Natasha," jawab Rista.


"Tapi dia selalu bercanda padaku, kau lihat sendiri di studio mereka berdua seperti musuh tak pernah bertegur sapa," ungkap Sella sembari memelankan suara tangisnya.


"Mungkin mereka ingin menutupi perasaan masing-masing," tebak Rista.


"Kau selalu saja membela wanita itu, aku ini sahabatmu lagi patah hati," ujar Sella.


"Sudahlah, kau sangat kuat. Masih banyak pria tampan, baik seperti Tuan Yuno yang pantas untukmu," jelas Rista.


"Tapi, siapa?"


Rista menaikkan bahunya.


"Aku jadi tidak semangat bekerja," ujarnya lesu.


"Kau mau kekasihku memotong gajimu?"


"Tidak mau!"


"Kau harus semangat!" Rista tersenyum memberikan kekuatan.


-


Kediaman orang tua Natasha.


Nikita melemparkan surat kabar di meja makan saat dirinya, suaminya dan putrinya menikmati sarapan.


"Ada apa, Ma?" Daniel menatap heran suaminya.


"Ada hubungan apa sebenarnya kamu dengan sekretaris Presdir Arta Fashion?" Nikita menatap penuh tanya putrinya.


"Kami menjalin hubungan kasih, Ma."


Nikita menggebrak meja membuat Daniel dan Natasha terkejut.


"Sayang, kenapa kamu marah-marah?" tanya Daniel.


"Pa, dia berkencan dengan putra dari Yuna mantan manajer Clarissa," menunjuk putrinya.


"Memangnya kenapa?" tanya Daniel lagi.

__ADS_1


"Aku tidak setuju!"


"Ma, kami saling menyukai," ujar Natasha.


"Akhiri ini sebelum kalian melangkah jauh!" perintah Nikita.


"Tidak, Ma. Aku mencintainya," Natasha berkata tegas.


"Tasha, apa kamu tidak memikirkan perasaan Mama? Mereka musuh bagi keluarga kita," ungkapnya.


"Kenapa kalian tidak berdamai saja demi perasaan kami?" saran Natasha.


"Tidak, Tasha. Jika Oma tahu dia akan marah besar kepadamu," jawab Nikita kemudian berlalu.


"Pa, tolong bantu aku berbicara pada Mama dan Oma," mohonnya.


"Papa akan membujuk Mama kamu," janji Daniel.


Lain tempat, di waktu yang sama di kediaman keluarga Vino.


"Jadi, semalam putra kita pergi makan malam dengan wanita ini!" Dengan wajah kesal Yuna menunjukkan berita online di ponselnya.


"Natasha Daniel? Dia sangat cantik," puji Vino.


"Sayang, kau tidak ku minta untuk memujinya," protesnya.


"Jadi ku harus apa?"


"Kau harus memberitahu Yuno untuk menjauhi model itu, Mama tak suka mereka memiliki hubungan serius," jawab Yuna.


"Kalau mereka saling mencintai, tak mungkin kita pisahkan. Itu sangat menyakitkan," Vino berbicara seperti bermain drama.


"Natasha putri Nikita, ku sangat membenci wanita itu!"


"Itu sudah masa lalu, coba turunkan ego kalian demi putramu," nasehat Vino.


"Kau tak pernah membelaku, selalu saja Yuno diutamakan," protes Yuna.


"Yuno putra kita, dia berhak bahagia dengan wanita pilihannya. Natasha mungkin wanita yang baik," tebaknya.


"Mungkin? Bisa saja dia mirip seperti ibunya dan neneknya yang jahat itu!"


"Mereka sama saja!"


"Nanti aku akan bicara pada Yuno pelan-pelan," ujar Vino.


"Ya, kau memang harus bicara dengannya."


-


-


Sebelum melanjutkan jadwal pekerjaannya lagi, Natasha menyempatkan diri makan siang bersama Yuno.


Tak ada senyum keceriaan di wajahnya, Natasha teringat perkataan Mama Nikita tadi pagi. Ia lebih banyak melamun membuat Yuno penasaran.


"Apa ada sesuatu yang membebani pikiranmu?"


Natasha sejenak terdiam mencerna pertanyaan kekasihnya lalu ia menjawab, "Tidak ada!"


"Apa kau kepikiran dengan berita hari ini?" Yuno menyeruput jus jeruknya.


"Tidak."


"Lalu apa yang membuatmu menjadi pendiam begitu?"


"Jika orang tuamu menyuruh kita berpisah, apa yang harus kau lakukan?"


Yuno meletakkan sendok garpunya di atas piring. "Apa orang tuamu tidak menyetujui hubungan kita?"


"Hanya Mama dan Oma," jawab Natasha.


Yuno menarik nafasnya perlahan lalu ia hembuskan.


"Apa kau ingin menyerah?" tanya Natasha dengan hati-hati.


Yuno menggelengkan kepalanya, "Kita akan sama-sama berjuang mendapatkan restu mereka!"

__ADS_1


Natasha mengangguk pelan.


"Apa alasan mereka tidak menyetujuinya?"


"Keluargamu dan keluarga Presdir adalah musuh keluargaku," jawab Natasha.


"Mereka bermusuhan? Pasti ada sebabnya," cecar Yuno.


"Alasan mereka bermusuhan aku tidak tahu," ungkap Natasha.


"Aku akan tanyakan ini pada Mama, ternyata mereka saling mengenal," ujar Yuno.


-


-


-


Sepulang kerja dan selesai menikmati makan malam, Vino memanggil putra semata wayangnya itu. "Papa ingin bicara padamu!"


"Yuno juga ingin bicara dengan Papa," ujarnya.


Vino mengajak putranya mengobrol di teras belakang rumah.


"Papa ingin bicara apa?" tanya Yuno.


"Mama juga ingin bertanya padamu juga," Yuna ikut bergabung dengan suami dan anaknya.


"Siapa yang akan bicara terlebih dahulu?" tanya Vino.


"Biar Mama saja," jawab Yuna.


"Baiklah, silahkan istriku tercinta!" Vino menampilkan senyumnya dihadapan Yuna yang sudah tak sabar mencecar pertanyaan pada putranya.


"Apa kamu memiliki hubungan dengan Natasha?" tanya Yuna.


"Iya, Ma. Aku sangat mencintainya," jawab Yuno.


Yuna terasa lemas mendengarnya.


"Ma, dia sangat mencintai wanita itu," ujar Vino.


"Tapi Mama tidak mau punya menantu yang ibunya itu penjahat!" Yuna sedikit meninggikan suaranya.


"Mama Natasha penjahat? Setahuku dia seorang model," ujar Yuno.


"Mama Natasha itu sangat iri pada Tante Clarissa, ia pernah menyuruh orang lain untuk membuat Mama Darren celaka," ungkap Yuna.


"Ma, tapi Natasha tidak seperti itu. Yuno yakin," ujarnya.


"Tetap Mama tidak suka, Nikita sangat membenci kami begitu sebaliknya," tutur Yuna.


"Apa Tante Clarissa juga membenci Mama Natasha?" tanya Yuno. "Secara Paman Devan tidak melarang Natasha berkarir di Arta Fashion," lanjutnya.


"Apapun alasannya, Mama tidak suka, Yuno!" sentak Yuna.


"Ma, Keluarga Devan bisa menerima Natasha di perusahaannya tapi kenapa Mama tidak bisa menerimanya?" tanya Yuno.


"Karena Natasha hanya sebatas bekerja tidak lebih," jawab Yuna tegas.


"Sayang, sudah jangan marah-marah ntar kamu tidak cantik lagi!" Vino berusaha menenangkan istrinya.


Yuna berdiri dari kursinya, "Mama tetap tidak menyetujui hubungan kamu dengan wanita itu sebaik apapun dia!" ia pun berlalu.


Yuno menyadarkan tubuhnya, menghela nafas kekecewaan.


Vino menepuk bahu putranya, "Apa kamu sangat mencintainya?"


Yuno menganggukan kepalanya mengiyakan.


"Natasha juga?"


"Iya, Pa."


"Jika kalian berjodoh, pasti Mama kamu akan luluh. Papa mendukung apa yang menurutmu baik selama itu benar dan tak menyalahi aturan," nasehat Vino.


"Ya, Pa. Terima kasih," Yuno tersenyum tipis.

__ADS_1


"Pergilah tidur, besok kamu bilang pagi-pagi sekali akan berangkat ke lokasi syuting," ujar Vino.


"Ya, Pa." Yuno pun pergi ke kamarnya.


__ADS_2